Blog EntryBelajar Tasawuf (Seri 1)Feb 3, '08 10:45 PM
for everyone

Oleh : Ferry Djajaprana


  1. Sejarah dan Pengantar Tasawuf


Istilah tasawuf tidak dikenal pada kalangan generasi pertama umat Islam (sahabat) dan generasi kedua umat Islam (tabiin).

Kata tasawuf muncul setelah satu abad hijriah, asal usulnya tatkala khalifah Utsman terbunuh, kemudian timbul kekacauan yang menjadikan Sayidina Ali bin Abi Thalib bertikai dengan Thalhah, Zubayr dan Aisyah. Sewaktu Sayidina Ali menghadapi Muawiyyah terjadilah peperangan dan pembunuhan sesame Muslim. Banyak kaum Muslim bingung harus berpihak kemana diantara dua, sebagian dari mereka yang tidak ingin ikut campur mereka ber-itizal (keluar), mengasingkan diri dan memisahkan diri, mereka disebut kaum Mutazilah. Pada kelompok Mutazilah ini kaum zuhud berkumpul.

Kaum zuhud ini kebanyakan anggotanya adalah sahabat dan tabiin yang memiliki jalan hidayah (yang berpegang pada al Quran dan Al hadits) dalam kehidupannya, pengasingan diri mereka itu untuk beribadah dan menjauhkan diri dari kemewahan hidup duniawi. Pilihan mereka itu berlawanan arus dengan kesenangan kaum Muslim pada era saat itu, yang mana banyak yang mengejar kemewahan. Mereka yang menyerahkan hidupnya ini hanya untuk ibadah disebut Sufiyah dan orangnya disebut Mutasawafin.


2) Definisi Tasawuf

Dipandang dari sisi logat, asal kata sufi berasal dari kata sauf artinya bulu. Menurut As-Sarraj dalam kitab “Al-Luma” menjelaskan bahwa “Sufiyyah” atau orang-orang sufi itu dinisbahkan kepada pakaian lahirnya, bukan kepada Ilmu atau keadaan yang menjadi kebiasaan mereka, karena berpakaian bulu adalah kebiasaan para nabi.

Pendapat lain mengatakan bahwa kata sauf berasal dari kata safa’ (bersih), maksudnya bersih batin, bersih jiwa dan hatinya. Jadi orang sufi itu ‘orang yang bersih hatinya karena Allah’.

Ada lagi, yang mengatakan bahwa kata sauf berasal dari kata suffah (serambi masjid Nabi di Madinah), yang mana di tempat itu banyak sahabat nabi yang miskin hidupnya dan dihabiskan untuk belajar agama dari nabi, dan meraka itu biasa disebut Ahli Suffah.

Tasawuf merupakan mazhab epistemology (teori ilmu), yakni suatu cara (tarekat) dalam memperoleh pengetahuann tertentu. Sebagaimana kita ketahui, manusia itu memiliki keingintahuan yang besar karena di dalamnya dirinya memiliki tiga alat : Indera, akal dan hati.

Indera untuk mengetahui hal yang empiris, akal untuk mengetahui obyek yang abstrak, hati untuk mengetahui hal-hal yang gaib (supralogis)-abstrak tetapi masih logis. Yang empiris menghasilkan sains, yang abstrak menghasilkan filsafat dan yang gaib menghasilkan mistik, tasawuf termasuk dalam kelompok yang ketiga.

Untuk mempermudah pemahaman, sebagai contoh adalah praktek sholat, gerakan sholat adalah aspek jasmani, akal sholat yaitu mengingat rukun-rukunya dan aspek hati di dalam sholat adalah menghadirkan hati dihadapan Allah atau Allah “hadir” di hadapan kita.

Selain pemahaman tentang alat dalam diri manusia, manusia juga memiliki dua aspek yaitu aspek rohani (bathiniah) dan aspek jasmani (lahiriah). Menurut ahli tasawuf (mutasawif) pada hakikatnya, manusia adalah alam roh, karena Allah juga bersifat spiritual, oleh karenanya realitas yang sejati adalah bersifat spiritualis. Demikianlah maka tasawuf merupakan salah satu canang ilmu Islam yang menekankan dimensi bathiniah (spiritual).

Sebagai ilustrasi tentang ilmu tasawuf ini, bisa diibaratkan dengan telor. Pada kulit terluarnya disebut syariat, lapisan ke dua putih telor adalah tarekat, dan kuning telornya adalah hakikat, sementara pusat telornyanya titik merah di dalam kuning telor, ini disebut makrifat.

Demikianlah kami telah jadikan kamu berada diatas satu syariat tentang urusan agama ini, maka ikutilah syariat itu, dan janganlah kamu mengikuti kemauan orang-orang yang tidak mengetahui”. (Al Jatsiah 18).


Salam,

Http://ferrydjajaprana.multiply.com

Http://tasawuf.multiply.com

Bibliography :


      1. Kartanegara, Mulyadhi. Menyelami Lubuk Tasawuf. Jakarta : Penerbit Erlangga, 2006.

      2. Kafiem Jamaludin. Tasawuf Kontemporer, Jakarta : Penerbit Republika, 2003.

      3. Daudy, Ahmad. Kuliah Ilmu Tasawuf, Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1998

      4. Sukardi (Ediotor), Kuliah-kuliah Tasawuf, Jakarta, Pustaka Hidayah, 2000

      5. Ernst, Carl W, Mozaik Ajaran Tasawuf (Terj: Teaching Of Sufism); PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001.

      6. Al Walid, Khalid. Tasawuf Mulla Shadra (Konsep Ittihad Al Aqil Wa Al Maqul), Bandung : Muthahhari Press, 2005.

      7. Al Ghazali, Imam Abu Hamid, Ringkasan Ihya Ulumuddin, Jakarta; Pustaka Amani, 1995.

      8. Jumantoro,Totok. Munir Amin, Sambul. Kamus Ilmu Tasawuf, Wonosobo, Penerbit Azhar, 2005


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help