Blog EntryAntara Anyer dan JakartaFeb 24, '08 9:47 AM
for everyone
Berlibur di musim hujan begini sungguh sulit memilih, enakan mana pilih di gunung atau di pantai? Demikian pertanyaan yang timbul didalam diri ini untuk menghabiskan akhir pekan.

Sehubungan dengan salah satu hotel tekemuka di Anyer ada yang berani memberikan potongan harga hingga separuhnya untuk pemakai salah satu pemakai operator seluler terkemuka , maka aku putuskan untuk ke Anyer  saja karena iming-iming membayar hanya separuhnya.

Bertepatan dengan pemadaman  listrik di komplek perumahanku, rasanya ini merupakan saat yang tepat untuk meninggalkan Jakarta yang selalu sibuk.

Senja hampir tiba, ketika aku ajak keluargaku untuk berlibur di Anyer.  Anyer Jakarta  tidaklah jauh, hanya membutuhkan waktu dua jam saja, kalaupun aku perlu waktu empat jam sampai di lokasi itu juga lantaran jalan raya Cilegon-Anyer selepas tol yang rusak parah. Rasanya sudah satu semester semenjak liburanku tahun lalu mengalami nasib serupa, sangat jauh dengan saat booming era industri pariwisata Banten tahun 80-90an, dimana saat itu jalanan mulus.

Tak ada hiruk pikuk keramaian obyek wisata Anyer pada malam hari, hotel-hotel lampunya temaram. Aku sudah sampai di hotel yang aku tuju, setelah mendapatkan free pass entance (kartu masuk) dari security, aku berkeliling mengitari hotel  dengan kendaraanku. Suasana hotel seperti kota mati, penerangannya berkesan seadanya. Rasanya aku tak perlu lagi datang bertemu receptionist, mendingan ngacir, nyari hotel yang lain.

Beruntunglah aku, masih ada hotel yang lampunya terang. Senangnya, dapat posisi di hook yang menghadap ke laut. Ombak besar menghempas tepian hotel, suaranya menderu ditingkahi hujan yang terus menerus dari senja kala tadi, akupun tertidur dibuai mimpi indah.

-o0o-

Mentari pagi, menerobos gordyn, membuatku terbangun, hujan gerimis masih turun. Tapi aku tak peduli dengan itu. Aku asyik berburu foto, walaupun awan kelabu seperti dukanya pariwisata Anyer dan Carita.

Aku sengaja check out lebih awal untuk makan siang di luaran Hotel. Beberapa restaurant aku datangi, sebagian banyak yang bangkrut, dan tutup. Ada juga yang buka, tapi tak ada ikan laut yang disajikan.

Angin Barat yang terus menerus menerpa, ombak besar yang kerap terjadi membuat nelayan malas untuk melaut, sebagian diantaranya hanya memperbaiki jala. Yang kusaksikan hanya beberapa penduduk yang mancing di sekitar bibir pantai, atau nongkrong diantara bebatuan ataupun karang-karang. Perahu-perahu banyak ditambatkan di darat atau di muara sungai.

Penduduk Anyer dan Carita banyak mengalami dilema bila cuaca buruk seperti ini. Dahulu tatkala musim wisata sedang jaya-jayanya, banyak penduduk lokal yang kehidupannya menggantungkan diri pada turisme, generasi muda sudah lupa bagaimana mereka harus kembali menjadi nelayan, banyak dari mereka lebih senang bekerja sebagai penjaja souvenir, pekerja hotel ataupun menjadi penjaga vila. Lalu, setelah bangkrutnya dunia pariwisata di sana mereka tak tahu lagi apa yang harus mereka kerjakan, mau kembali melaut ombak besar siap menghadang, nyali mereka sudah tidak sekeras pendahulunya yang menjadi nelayan tangguh.

Dilema penduduk lokal, bertambah sulit, pariwisata di sana mati kutu, warga Jakartapun seakan enggan menerobos rusaknya jalan raya yang menuju kota mereka. Padahal kehidupan mereka ditopang oleh warga Jakarta yang sebagian besar berkunjung untuk membelanjakan sisa uang mereka pada saat berlibur.

Mereka berharap kepada Gubernur  Banten yang  baru dilantik untuk segera melunasi janjinya, menyejahterakan  masyarakat Banten pada umumnya dan  khususnya warga Anyer Carita. Semoga jeritan hati mereka segera didengar penguasa setempat. .. Amin.

Salam,

Http://ferrydjajaprana.multiply.com


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help