Ilmu , Amal dan Taubat
Seri ke 3 Belajar Tasawuf
Islam memandang ilmu dan amal sebagai sesuatu yang tak terpisahkan.
Tadzhib (penyucian diri) dan tazkiyah (penjernihan bathin), haruslah diupayakan bagi setiap individu agar jalannya lurus sesuai yang diridhoi oleh Allah SWT. Andaikan kita tidak berupaya menghilangkan penyakit, kotoran dan kekejian dari jiwa kita, maka berakibat ilmu yang ada pada kita hanya menimbulkan bencana saja. Apabila ilmu bersemai pada kalbu yang kotor, maka akan menumbuhkan ranting dan daun yang kotor juga, sehingga akhirnya bertumbuh kembanglah pohon yang buruk (syajarah khabitsah) itu.
Semakin banyak konsep-konsep yang tertanam dalam kalbu yang gelap, tidak terdidik, maka semakin tebal pula hijabnya. Ilmu itu seharusnya mendekatkan diri manusia kepada Tuhannya, akan tetapi di dalam kalbu orang yang rakus dunia justru akan menjauhkan manusia dariNya.
Terminologi keilmuan yang telah dipelajari akan mengering apa bila tanpa disertai dengan ketakwaan, pembersihan dan pendidikan diri. Semakin luas terminologi ilmu yang terkumpul di dalam otak kita, hanya membuat tebal sifat ujub dan kesombongan kita. 1)
Pembersihan kolbu kita dengan bertaubat kepada Dzat Pencipta Alam. Orang-orang mukmin sejati memiliki sifat-sifat, yaitu senantiasa bertaubat dari kesalahannya menyembah dan memanjatkan puji syukur kepada Allah, suka mengadakan perjalanan untuk menambah ilmu pengetahuan, pengalaman, pengajaran, guna memperkuat keimanan kepada Allah, senantiasa istiqomah, ruku dan bersujud (mengerjakan sholat), mengajak kepada kebajikan serta mencegah dari perbuatan mungkar, dan menjaga diri dan tidak melanggar ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah dalam syariat dan hukumnya. 2)
“Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudara seagama.” (QS. At Taubah :11)
Para ulama mengatakan 3) bahwa taubat dari perbuatan dosa adalah wajib. Apabila perbuatan dosa itu tidak menyangkut dengan sesama manusia maksudnya hanya dosa antara seseorang dengan Allah taala, maka harus memenuhi tiga syarat, yaitu:
- menghentikan perbuatan dosa itu
- menyesal atas perbuatannya itu
- berketetapan hati untuk tidak mengulangi lagi perbuatan dosa itu selama-lamanya.
Apabila tidak memenuhi tiga persyaratan itu, maka tidak akan diterima taubatnya.
Dan apabila perbuatan dosa itu menyangkut dengan sesama manusia maka harus memenuhi empat syarat, yaitu tiga syarat seperti yang tersebut di atas ditambah dengan satu syarat yaitu harus menyelesaikan urusannya itu kepada yang bersangkutan.
Menurut riwayat yang disampaikan oleh Buchari (hadits qudsi), menyebutkan :
Allah taala berfirman : “Bertaubatlah kamu semuanya kepada Allah wahai orang-orang yang beriman agar kamu sekalian berbahagia”.
Allah taala berfirman :”Mohon ampunlah kamu sekalian kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepadaNya”.
Allah taala berfirman :”Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah dengan sebenar-benar taubat”. (H.R. Buchari)
Salam,
http://ferrydjajaprana.multiply.com
http://tasawuf.multiply.com
Bibliography ;
1) Muhammad Reza Ramzi Awhadi, Cahaya Sufi, Penerbit Misbah, 2003
2) UII, Al Quran dan Tafsirnya, UII, Yogyakarta, 1990
3) Imam Abu Zakariya, Yahya Bin Syaraf An Nawawy, Terjemah Riyadlus Shalihin, Penerbit CV Toha Putra, Semarang, 1981