Blog EntrySikap ZuhudMar 8, '08 12:52 PM
for everyone


Seri ke empat, Belajar Tasawuf

 

Oleh : Ferry Djajaprana

 

Membicarakan tasawuf umumnya  pandangan masyarakat umum menghubungkan dengan sifat zuhud. Sebenarnya apakah yang dimaksud dengan sikap zuhud?

 

Zuhud adalah pantang dari kenikmatan duniawi. Orang zahid adalah orang yang menjauhkan diri dari segala kenikmatan duniawi, walaupun kenikmatan duniawi tersebut bermanfaat. 1)

 

Zuhud (asketisme) adalah salah satu maqam dalam pelajaran tasawuf, gaya hidup zuhud adalah gaya hidup para kaum Sufi. Doktrin Sufi, yang tertuang dalam bentuknya yang matang pada abad ke empat dan ke lima Hijriah 2), memandang zuhud sebagai salah satu tahap utama  atau biasa disebut dalam istilah Sufi stasiun (maqamat) adalah jalanan yang harus ditempuh oleh kaum mistikus. Guru-guru Sufi biasanya menganggap bahwa para asketik awal sebagai pendahulu sekaligus sebagai pengajar mereka. Memang antara asketik dengan sufisme adalah berbeda, tetapi hubungan mereka berjarak sangat tipis.

 

Al Ghazali dalam kitabnya Syarh Al Ajaib Al Qalb, yang merupakan bagian dari Ihya Ulum Ad-Din 3), menjelaskan bahwa Zuhd adalah sikap menolak kehidupan dunia, bukan karena tidak memiliki prasarana atau akses kepadanya, tetapi untuk menjaga agar hati tidak menjadi budak harta atau terbelenggu oleh kenikmatan duniawi, menurut Imam Ali RA, “Keseluruhan sikap zuhud terletak diantara kalimat-kalimat dalam firman Allah:”.. agar kamu tidak terlalu berdukacita atas apa saja yang luput darimu, dan tidak terlalu bersuka ria atas sesuatu yang kamu peroleh.” (Q.S. 57:23). Oleh sebab itu, barang siapa tidak berdukacita akibat sesuatu yang pergi darinya, dan tidak bersuka ria akibat sesuatu yang datang kepadanya, sesungguhnya ia telah mencakup sifat zuhud secara sempurna.

 

Di era kehidupan zaman sekarang yang mana semua hal di takar dengan materialistik, sangatlah sulit berlaku zuhud. Sebagai alternative  adaptasi karena perubahan zaman, perilaku zuhud didefinisikan sebagai pelepasan keterikatan akan kebendaan atau materialistis dan yang ada adalah rasa ingat atau kesadaran akan kedekatan  hanya dengan Allah.

 

 

Salam,

http://ferrydjajaprana.multiply.com

http://tasawuf.multiply.com

 

 

Bibliography :

 

1)      Muthahhari, Murtadha. Mengenal tasawuf, Pustaka Zahra, Jakarta, 2002

2)      Al Suhrawardi, Abu Al Najib. Menjadi Sufi (Kitab Adab Al Muridin), Pustaka Hidayah, Jakarta, 1994

3)      Al Ghazali, Kitab Syarh Al Ajaib Al Qalb (Keajaiban-keajaiban hati), Penerbit Karisma, Bandung, 2001


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help