ferry Djajaprana's Multiply Site

Blog EntryRidha (Seri ke 8 Belajar Tasawuf)Apr 20, '08 8:42 AM
for everyone

Ridha

Belajar Tasawuf Seri ke 8

 

Kata “ridha” sudah cukup familiar didengar oleh telinga kita, karena kata ridha sudah diserap dari Bahasa Arab ke dalam Bahasa Indonesia. Hanya saja persamaan kata ridha ini terlalu sederhana maknanya, yaitu rela.

Menurut kamus Ilmu Al Quran, ridha artinya 1) rela (puas) dan senang menerima qada dan qadar  Allah SWT. Dalam ilmu tasawuf, ridha merupakan salah satu maqam (tingkatan) batiniyah yang harus dilalui oleh orang Sufi dalam usahanya mendekatkan diri kepada Allah. Menurut para mutasawif, sikap ridha adalah tidak menentang qada dan qadar Allah, merasa senang dengan malapetaka yang menimpa dirinya karena dirasakan sebagai nikmat, tidak meminta surga atau dijauhkan dari neraka, karena cintanya kepada Allah.

Menurut Imam Al Ghazali 2) ridha merupakan buah  dari kecintaan (mahabbah). Mahabbah setelah menjadi padat disebut kerinduan (isyq). Kalau isyqnya terus menebal, maka tidak perlu lagi  ada proses pemadatan mahabbah, karena mahabbah sudah mendarah daging. Dengan itu akan lahirlah apa yang disebut mahabbah, yaitu ridha. Ridha dengan Qada Allah.

Menurut Imam Al Ghazali, ridha bukan hanya sebagai buah mahabbah, tetapi juga  termasuk maqam tertinggi  dikalangan muqarabbin (orang-orang yang dekat dengan Allah). Jadi dapat kita bayangkan kalau mereka sudah muqarabbin, ditambah memiliki keridhaan yang merupakan maqam tertinggi, maka wajarlah bila kadang-kadang  ada sikap yang dimata orang lain yang tidak muqarabbin –sangat tidak rasional.

Hakikat keridhaan menurut Al Ghazali sangat pelik buat kebanyakan orang. Karena ketika kita memperbincangkan masalah ridha, disitu banyak keserupaan dan banyak ketidak jelasan. Hakikat ridha tidak akan terungkapkan kecuali bagi orang-orang yang memang diajari oleh Allah, artinya dipahamkan ilmu agamanya. Jadi membicarakan ridha itu terkait dengan makrifatullah yang boleh jadi berdasarkan pendekatan rasional maupun pendekatan hati.

Menurut Al Kadzabi pengertian ridha dengan meninggalkan ikhtiar, menerima ketentuan hukum Allah, senangnya hati terhadap ketentuan yang diberikan oleh Tuhan kepada dirinya. 3)

Ar Ridha termasuk karakter yang diperselisihkan oleh kaum sufi, apakah termasuk dalam maqamat atau ahwal. Setelah mencapai maqam tawakal, nasib hidup mereka bulat-bulat diserahkan pada pemeliharaan dan rahmat Allah, meninggalkan dan membelakangi segala keinginan terhadap apa saja selain Tuhan.

Adapun menurut AnNun, tanda-tanda orang yang telah ridha adalah : Mempercayakan segala usaha sebelum terjadi ketentuan. Lenyapnya rasa gelisah setelah terjadi ketentuan dan cinta yang bergelora sebelum turunnya malapetaka.

 

Bibliography :

1)      Al Hafidz , Ahsin W., Kamus Ilmu Al Quran, Penerbit Amzah, Unsiq, Wonosobo, 2005

2)      Efendi, Agus. Kuliah-kuliah tasawuf, Pustaka Hidayah, Bandung, 2000


Http://ferrydjajaprana.multiply.com

 

 


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help