ferry Djajaprana's Multiply Site

Blog EntryD z i k i rMay 2, '08 12:16 AM
for everyone
 

 

Seri ke 9 Belajar Tasawuf


Oleh : Ferry Djajaprana


Dzikir menurut kamus ilmu Al Quran artinya ingat 1). Sedangkan menurut istilah dzikir adalah apa yang diucapkan oleh hati dan diucapkan oleh lisan berupa tasbih (menyucikan Allah), tahmid (memuji), menyebut sifat-sifat kebesaran-Nya, keagungan-Nya, Keindahan-Nya dan Kesempurnaan-Nya. Dzikir yang paling utama adalah ucapan La Ilaha Illalah Muhamadur Rosulullah.


Adapun yang dimaksud mengingat disini adalah mengingat Allah. Banyak cara dzikir yang diajarkan oleh Rosulullah, ada yang diucapkan secara berulang-ulang (wirid), ada yang diucapkan dengan mengeraskan suara seperti talbiyah dan azan. Ada yang diucapkan dalam hati (dzikir sirri), ada dzikir dengan merenungkan segala ciptaan Allah (tafakkur) dan dizikir dengan mengeksplorasi ciptaan Allah (tadzabur), dzikir juga bisa dilakukan dalam berbagai keadaan , berjalan, duduk, berbaring dan bekeja.


Di masyarakat awam, banyak yang memahami bahwa dzikir adalah obat penenang jiwa yang berfungsi untuk menenteramkan bathin, bahkan ada yang mengamalkan dzikir sekian ratus kali untuk membuka rezeki, untuk kekuatan, seolah-olah menjadikan dzikir seperti ilmu klenik, untuk melawan kekuatan jahat seperti yang biasa ditayangkan dalam film-film misteri.


Tulisan dzikir yang akan kami paparkan disini pertama adalah dzikir yang dibahas dalam konteks pembentuk tingkah laku melalui pendekatan tasawuf suluki 2) juga dalam penjabaran tasawuf kontemporer.


Dzikir dalam Tasawuf


Berikut ini adalah beberapa hadis dan firman Allah yang diambil dari kitab Ihya Ulumuddin 3), karya Imam Al Ghazali khususnya pada bab yang membahas tentang Dzikir, antara lain :


Allah Ta’ala berfirman “Maka apabila kamu telah menyelesaikan salatmu, ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk, dan diwaktu berbaring”. (QS. An Nisa : 103).


Rasulullah SAW bersabda “Orang yang mengingat Allah diantara orang-orang yang lalai adalah seperti orang yang hidup diantara orang-orang yang mati.”


Rasulullah SAW bersabda,”Orang yang mengingat Allah diantara orang-orang yang lalai adalah seperti pohon hijau di tengah-tengah rumput kering”.


Rasulullah SAW bersabda :”Tidaklah suatu kaum dalam sebuah majlis sambil mengingat Allah Azza Wa Jalla di situ, melainkan mereka dikelilingi para malaikat dan diliputi rahmat serta Allah menyebut mereka diantara para malaikat di sisi-Nya”.


Rasulullah SAW bersabda : “Sebaik-baik yang diucapkan olehku pada para nabi sebelum aku ialah : Laa ilaaha Illalah wahdahu la syariika lah (Tiada Tuhan selain Allah sendiri, tiada sekutu bagi diri-Nya).”


Barang siapa bertasbih (mengucap subhanallah) setiap habis shalat 33 kali, dan bertahmid (mengucap Alhamdulillah) 33 kali dan bertakbir (mengucap Allahu Akbar) sebanyak 33 kali serta menggenapi seratus dengan “ La Ilaha Illallah wahdahu la syarikalahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa a’laa kulli syaiin Qadir (Tiada Tuhan selainAllah sendiri, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kekuasaan dan segala puji. Dia menghidupkan dan mematikan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu)”, diampunilah dosa-dosanya, walaupun seperti buih laut.”


Menurut Al Ghazali, dzikir-dzikir yang bermanfaat ialah yang disertai kehadiran hati, sedangkan yang dilain itu sedikit manfaatnya. Karena yang dituju adalah kesenangan dengan Allah dan hal itu terwujud dengan berdzikir disertai hati yang hadir (khusyuk). Dengan ini engkau akan aman dari penghabisan yang buruk. Wallahu Alam.


Di dalam kitab “Matnul Hikam” karya Syeikh Ibnu Ato’illah As Sukandari 4), menyebutkan bahwa dasar bagi orang yang menghadap Allah adalah dengan berdzikir.


Pada ayat 45 kitab Matnul Hikam, menyebutkan yang artinya :”Janganlah kau tinggalkan dzikir disebabkan karena hatimu tidak hadir bersama-sama Allah di dalam dzikir. Sesungguhnya kelalaianmu kepada Allah tanpa adanya dzikir itu sangat berbahaya, daripada kelalaianmu kepada Allah masih adanya dzikir kepada-Nya. Semoga Allah mengangkatmu dari dzikir yang disertai kelalaian menuju pada dzikir yang disertai kesadaran (ingat kepada Allah), dan dari dzikir yang disertai kesadaran menuju pada dzikir yang disertai kehadiran hati kepada-Nya. Dan dari dzikir yang disertai kehadiran kepada-Nya menuju kepada dzikir yang disertai adanya keghaiban dari selain yang telah disebut. Dan yang demikian tidaklah sukar bagi Allah”.


Dzikir (ingat) kepada Allah adalah merupakan jalan terdekat untuk menuju kepada Allah. Karena dengan dzikir atau ingat kepada Allah itu kita akan selalu berhati-hati dalam melangkah dan berbuat. Selain itu juga kita akan selalu memperhatikan, apakah langkah dan perbuatan kita tersebut sesuai dengan garis-garis yang ditentukan oleh Allah.


Dengan demikian, kalau kita menjaga diri agar tidak melanggar ketentuan-ketentuan Allah dan selalu memperhatikan dan melaksanakan perintah-perintahnya maka Allah akan menjaga diri kita dan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan kita. Hal ini sesuai dengan firman Allah yang tersebut dalam Al Quran, yang artinya :

Karena ini ingatlah kamu kepadaku, niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) Ku”. (QS. Al Baqoroh : 152).


Dalam Surat Al Ahzaab, Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk berdzikir (menyebut nama Allah) dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya.


Selain itu, dalam hadits qudsi juga menyebutkan “Aku (Allah) menuruti sangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Dan aku selalu menyertainya ketika ia berdzikir kepada-Ku. Dam jika ia ingat kepada-Ku dalam jiwanya, maka akupun mengingatnya di dalam Dzat-Ku. Dan jika ia dekat kepada-Ku di tempat ramai, maka akupun mengingatnya di tempat ramai yang lebih baik daripadanya. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, aku pun akan mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepadaku sehasta maka akupun mendekat kepadanya satu depa. Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku pun akan datang kepadanya dengan berjalan cepat”.


Hakekat Dzikir ialah melupakan apa-apa selain Allah. Firman Allah :”Dan ingatlah akan Tuhanmu bila kamu lupa.” (S. Al Kahfi:24).


Lafadz dzikir itu sangat banyak diantaranya : Tasbih, tahmid, tahlil, takbir, tamjid, shalawat dan lain-lain, tetapi yang paling utama menurut Rosulullah adalah “Laa Ilallohu”. 5)


Dalam prakteknya masing-masing Tarekat memiliki cara tersendiri untuk mengamalkan dzikir ini. Sebagai contoh adalah Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah 6) yang merupakan rumusan atau formulasi Syaikh Akhmad Khatib Sambasi dari dua system tarekat yang berbeda (Qadiriyah dan Naqshabandiyah) menjadi satu metode tersendiri yang praktis untuk menempuh jalan spiritual (sebagian orang menyebutnya “Tarekat Sambasiyah” yang berinduk kepada Qadiriyah. Kedua ajaran tersebut dikemas dalam satu paket ajaran secara utuh, sehingga menjadi bentuk baru yang memiliki perbedaan dengan tarekat dasarnya.


Didalam dzikir Qadiriyah lebih mengutamakan pada dzikir Dzahr, yaitu dzikir yang diucapkan dengan suara keras dan jelas dalam menyebutkan kalimat nafyi wal Itsbat, yakni kalimat la ilaha Illallahu. Sementara Naqshabandiyah lebih suka memilih dzikir dengan cara-cara yang lembut dan samara (dzikir khafiy) pada pelafalan ism adz-Dzat, yakni Allah, Allah, Allah!.


Dalam menyempurnakan formulasi tarekatnya, Syaikh Khatib Sambasi nampaknya masih menggunakan metode-metode tarekat lainnya, sebagaimana yang diakuinya dalam risalahnya yang ia namakan Fath Al Arifin. Ia menyatakan sebagai berikut : Semula tarekat kami ini dibangun atas rangkaian huruf “naqthu jimin”, maka barang siapa tidak mendatangi kami dan mengambil ini (tarekat ini) pada kami, dia pasti menyesal.


Huruf “nun” bermakna tarekat Naqshabandiyah

Huruf “Qaf” bermakna tarekat Qadiriyah

Huruf “Tha” bermakna Tarekat Anfasiyyah

Huruf “Jim” bermakna tarekat Al Junaidiyyah

Huruf “mim” bermakna tarekat Al Muwafaqah.


Tarekat Naqshabandiyah berzikir dalam diam dan menahan nafas, menghadirkan lafadz “Allah, Allah… “ di dalam hati. Tarekat Qadiriyah berdzikir nyaring, berdiri dan duduk. Tarekat Anfasiyyah berdzikir dengan peredaran nafas. Adapun tarekat Al Junaidiyyah membaca seperti :


Subhanallah 4,000 kali pada setiap hari Ahad

Al-hamdulillah 4,000 kali pada hari Senin

La Ilaha Ilallah 4,000 kali pada hari Selasa

Allahu Akbar 4,000 kali pada hari Rabu

La haula Wala Quwwata Illa Billah, 4,000 kali pada hari Kamis

Shalawat pada hari Jumat

Istighfar pada hari Sabtu.


Tarekat Muwafaqah berwirid dengan Asmaul Husna yang bersamaan dengan hitungan nama (yang mengamalkannya). Tarekat ini disebut tarekat Samaniyyah yang menghimpun semua tarekat di dalamnya.


Kelima terekat yang disebutkan diatas sebenarnya mendapatkan tempat dan porsi yang sama pentingnya dalam pengamalan Tarekat Qadiriyah Naqshabandiyah (TQN), terutama bagi kalangan mursyid-mursyidnya. Tetapi karena terlalu berat tekanan amalannya, terutama bagi para pemula (mubtadiin), mereka lebih mementingkan zikir jahr dan zikir khafiy pada setiap selesai shalat fardhu, yang keduanya merupakan inti ajaran TQN.


Dzikir menurut tasawuf kontemporer :


Yang dimaksud dzikir 7) adalah terus menerus mengucapkan nama-nama Allah dengan lisan dan mengingatkannya dalam hati. Mengucapkan dan mengingat nama Allah yang Agung dan mensucikan-Nya dari sifat-sifat yang tidak layak baginya. Allah menyuruh kita memperbanyak dzikir kepada-Nya. Wahai orang-orang yang beriman ingatlah kepada Allah sebanyak-banyaknya (QS. Al Ahzab [33]:41).

Kaum sufi percaya bahwa jika seorang salik terus-menerus ingat kepada Allah, perlahan tapi pasti dirinya akan dipenuhi dengan kualitas ketuhanan.

Tujuan dari mengingat Allah terus menerus diantaranya adalah untuk berlatih konsentrasi terhadap satu titik. Bagi salik yang semula memiliki pikiran yang bercabang, secara bertahap akan dialihkan kepada satu focus, yaitu Allah. Dengan demikian, ia terbebas dari konflik-konflik psikis dan diberkati dengan keseimbangan, ketenangan dan keamanan. Ini sudah merupakan jaminan Allah, “ Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Al Ra’d [13:28].

Selama melatih dzikir, kaum sufi mengulang-ngulang nama Allah. Tidak hanya sekedar menyebutkan, tetapi juga memfokuskan perhatian kepada maknanya. Karena manusia baru dapat mencapai perhatian melalui kata-kata, maka dengan pengulangan itu diharapkan salik memahi artinya. Kata itu sendiri tidak memiliki kekuatan, seiring dengan terbiasanya berspiritual, maka pengucapan kata-kata verbalpun menjadi tidak mesti ada. Berkaitan dengan ini Jalaludin Al Rumi, berkata “Aku ingin melemparkan semua kata, suara dan ucapan, karena tanpa ketiganya aku biasa bertemu dengan-Mu”.

Abu Yazid pernah berucap,”Manusia bertaubat dari dosa-dosa mereka, tetapi aku bertaubat dengan ucapanku “Tiada Tuhan selain Allah”, karena dalam hal ini aku memakai alat dan huruf, sedang Tuhan tidak dapat dijangkau dengan huruf dan alat”.

Pada kenyataannya, dzikir adalah sebuah cara untuk mempercepat proses menghilangkan kualitas-kualitas rendah manusia dan menggantikannya dengan kwalitas ketuhanan, berakhlak dengan akhlak Tuhan, dan akhirnya menghapus ego individual sedemikian rupa sehingga tidak tersisa lagi jejak “aku”. Inilah akhir jalan thariqah dan mulainya samudra ketiadaan atau fana’.


Dengan dzikir kepada Allah akan membuat pedzikir cinta terhadap apa-apa yang dicintai Allah 8). Dzikir adalah ibadah yang sangat membantu dalam mengerjakan sesuatu kepada Allah. Dzikir dapat membuat seorang hamba dapat memotivasi dirinya untuk berlaku taat kepada Allah, memudahkannya dalam beramal, merasa senang mengerjakannya tanpa ada rasa sulit dan membebani. Suatu keadaan yang tidak terdapat pada diri orang yang lalai.


Dzikir juga bisa membuat sesuatu yang sulit menjadi mudah, sesuatu yang berat menjadi ringan. Tidak ada kesulitan yang dibacakan zikir kepada Allah, melainkan menjadi mudah. Tidak ada sesuatu yang berat jika dibacakan dzikir, melainkan akan menjadi ringan. Dzikir kepada Allah memberikan kelapangan setelah kesempitan dan kemudahan setelah kesulitan, serta kegembiaraan setelah kesedihan.

-o0o-


Bibliography:


  1. Al Hafidz, W. Ahsin. Kamus Ilmu AlQuran, Penerbit Amzah, , Wonosobo, 2005

  2. Dr. Ahmad Mubarak, Manusia Modern Mendamba Allah (Relevansi Tasawuf dengan problem Kejiwaan Manusia Modern, Penerbit Hikmah, Jakarta, 2002

  3. Al Ghazali, Imam. Ihya Ulumudin (Ringkasan), Pustaka Amani, Jakarta, 1986

  4. As Sukandari, Syaikh Ibnu Athoillah, Matnul Hikam (Kuliah Marifat), Penerbit Tiga Dua, Surabaya, 1996

  5. Suhrowardi, Syihabuddin, Bidayatussalikin, Penerbit Muddawamah Wa Rohmah, Tasikmalaya, 2007

  6. Thohir. Ajit. Gerakan Politik Kaum Tarekat, Pustaka Hidayah, Bandung, 2002

  7. Haidar Bagir, Zainun Kamal. “Manusia Modern Mendamba Allah, Renungan Tasawuf Positif”, Penerbit IIMAN dan Penerbit hikmah, Jakarta, 2002

  8. Al Shadr, Abddur Razzaq. Berdzikir Cara Nabi (Terj: Fiqhu Ad'iyah Wa Adzkar), Hikmah, Jakarta 2007



Http://ferrydjajaprana.multiply.com

http://tasawuf.multiply.com



Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help