Blog EntrySeri 11. TakwaMay 8, '08 10:37 PM
for everyone

Seri Belajar Tasawuf ke 11

Oleh : Ferry Djajaprana

Menurut kamus Ilmu Al Quran 1), yang dimaksud takwa (Arab : Taqwa), adalah menjaga diri dari azab Allah dengan menjauhi tindakan maksiat dan melaksanakan tata aturan yang telah digariskan Allah. Atau dengan perkataan lain takwa adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya.

"Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu." (QS. Al Hujarat,[49]:13), selain itu Q.S. Al Anfal [8]:29 dan QS. Al Hadid [57]:28.

Sikap takwa lahir dari kesadaran moral transendental. Manusia yang bertakwa adalah manusia yang memiliki kepekaan moral yang teramat tajam untuk mengerjakan atau tidak mengerjakan sesuatu perbuatan. Dia memiliki mata batin yang menembus jauh untuk melihat yang baik itu baik dan yang buruk itu buruk. Dengan demikian perilaku kesehariannya mencerminkan perilaku mulia dan selalu berusaha menghindari hal-hal yang menjadikan Allah murka kepadanya.

Al Qusyairi 2) (w.31/12/1072) menjelaskan dalam kitabnya Al Risalah menjelaskan bahwa takwa adalah takut kepada Allah. Abul Hasan Al Farisi menyatakan bahwa takwa memiliki dua aspek, aspek dalam dan aspek luar. Aspek luar adalah pelaksanaan syariat, dan aspek dalam adalah niat dan mujahaddah.

 Dzunnun membacakan baris-baris syair sebagai berikut :


Tak ada kehidupan yang lebih baik selain bersama mereka

Yang hatinya mendambakan takwa

Dan yang kegembiraannya hanya dzikir

Berpuas diri mereka dengan ruh keimanan dan kebaikannya,

Seperti anak dipangkuan ibunya.


Dikatakan takwa seseoang ditandai oleh tiga sikap yang baik : tawakal terhadap apa yang belum dianugerahkan, berpuas diri dengan apa yang telah dianugerahkan dan bersabar dalam menghadapi milik yang hilang."

Sementara itu, Al Hujweri (w. 1071m), di dalam kitab "kashful mahjub" 3) menjelaskan bahwa takwa (takut akan Tuhan) adalah menghormati Tuhan dan berlindung kepadanya (shairullah). Siapa saja yang tidak takut kepada Tuhan bukanlah seorang sufi. Oleh karena itu, adab (etika) sikap takwa ini harus tetap diterapkan walaupun dalam kondisi fana. Jadikan sifat ini menjadi kebiasaan, karena dengan kebiasaan maka akan menjadi sifat. Para wali Allah tidak pernah melepas sifat takwa walaupun dalam kondisi fana ataupun dalam kesederhanaan.


Bibliography :

1) Al Hafidz, Ahsin W. Kamus Ilmu Al Quran, Penerbit Amzah, Wonosobo, 2005

2. Al Qusyayri, Abd Al Karim Ibn Hawazin. Risalah Sufi Al Qusyayri (Terj. Principles of Sufism), Penerbit Pustaka, Mizan Press, 19901.

3) Al Hujweri, Syed Ali Bin Utsman , Kashful Mahjub (Unveiling The Veiled), AS Noordeen Publisher, Malaysia, 1997


Salam,

Http://ferrydjajaprana.multiply.com

Http://tasawuf.multiply.com


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help