Blog EntrySeri 12 IkhlasMay 15, '08 12:44 AM
for everyone
 

Seri Ke 12 Belajar Tasawuf

Oleh : Ferry Djajaprana


Ikhlas atau tulus, arti menurut kamus Tasawuf 1) adalah bersih dan terbebas dari tujuan untuk selain Allah.

Syed Ali Bin Uthman Al Hujweri 2) menggambarkan bahwa ikhlas adalah perbuatan akan bernilai apabila ada ke ketulusan di dalamnya. Ikhlas itu seperti jiwa di dalam tubuh. Badan tanpa jiwa adalah mati, seperti batu. Keikhlasan adalah aspek bathiniah sedangkan perbuatan adalah aspek lahiriah. Apabila kedua aspek ini berpadu maka akan menghasilkan kesempurnaan. Ke duanya saling melengkapi dan saling bergantung. Jika seseorang tulus selama satu tahun tapi tanpa ditunjukkan dengan perbuatan, maka tak ada artinya. Sebaliknya, jika sesorang melakukan perbuatan tanpa ketulusan, seperti dia telah pergi entah ke mana. Suatu perbuatan akan dinilai sebagai perbuatan apabila didalamnya ditemukan keikhlasan.

Menurut Abd Al Karim Ibn Huwazin al Qusyayri 3) keikhlasan berarti menjadikan Allah sebagai satu-satunya obyek persembahan. Ini berarti menghendaki kedekatan dengan Allah melalui ibadah, dengan mengesampingkan yang lain, apakah itu sifat riya yang bertujuan memperoleh pujian atau penghormatan diri manusia. Tepatnya "Keikhlasan berarti menyucikan amal-amal perbuatan dari kesadaran apapun terhadap sesama mahluk." Dikatakan juga, "Keikhlasan berarti melindungi diri sendiri dari kepedulian terhadap pandangan sesama manusia".

Firman Allah dalam surat Al Ikhlas 4) 1) katakanlah "Dialah Allah yang Maha Esa, 2) Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu 3) Dia tidak beranak dan tidak pula diberanakkan 4) dan tidak ada satu orangpun yang setara dengan Dia.

Disebut Al Ikhlas yang artinya "Memurnikan keesaan Allah" karena surat ini sepenuhnya menegaskan kemurnian, keesaan Allah dan menolak segala kemusyrikan.

Abu Utsman al Maghriby menyatakan bahwa ,"Keikhlasan adalah keadaan dimana nafsu tidak memperoleh kesenangan. Ini adalah ikhlasnya orang awam. Mengenai ikhlasnya manusia pilihan, keikhlasan datang kepada mereka bukan karena perbuatan mereka sendiri. Amal kebaikan lahir dari mereka, tetapi mereka terpisah dengannya. Mereka tidak menyadari perbuatan baik mereka, tidak pula mereka punya kepedulian terhadapnya

Itulah ikhlasnya kaum pilihan".

Menurut ulama yang disebut ikhlas itu ada dua, yaitu keikhlasan beramal dan keikhlasan mencari pahala. Keiklasan beramal adalah keinginan mendekatkan diri kepada Allah, mengagungkan ikhwal-Nya dan menyambut seruan-Nya. Adapun yang mendorong motif ini adalah keyakinan yang benar. Lawan keiklasan dalam beramal adalah kemunafikan.

Adapun keikhlasan mencari pahala adalah keinginan memperoleh manfaat akhirat dengan amal kebajikan. Lawannya adalah riya. Jadi riya adalah keinginan memperoleh dunia dari amalan akhirat.

Bibliography :

1) Jumantoro, Totok. Amin, Samsul Munir. Kamus Ilmu Tasawuf, Penerbit Amzah, Wonosobo, 2005

2) Al Hujweri, Syed Ali Bin Utsman , Kashful Mahjub (Unveiling The Veiled), AS Noordeen Publisher, Malaysia, 1997 (p.102).

3) Al Qusyayri, Abd Al Karim Ibn Hawazin. Risalah Sufi Al Qusyayri (Terj. Principles of Sufism), Penerbit Pustaka, Mizan Press, 19901.

4)Al Quran dan terjemahannya, Mujamma Al Malik Fahd Li Thiba'at Al Mushaf, Madinah Al Munawarah, KSA, 1415 H.


Salam,

Http://ferrydjajaprana.multiply.com

Http://tasawuf.multiply.com



Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help