
| Category: | Books |
| Genre: | Arts & Photography |
| Author: | Djoewisno MS |
Proses Berkarya :
Semua yang ia uraikan, melalui garis-garis perasaannya. Perpaduan warna mampu mengubah keraguan, untuk selalu memandang pasti. Alamatnya jelas dan tidak lepas. Kemajuannya mampu mengundang daya pandang. Dari sebuah ketajaman yang memperjelas rupa, serta pengalaman ujud terhadap kuatnya jati diri.
Diatas kanvas terbaca makna, yang jauh dari praduga dan prasangka. Tidak bertuan karena banyaknya bilangan uang. Tidak menjilat kepada kekuasaan, karena mau mengabdi pada hati nurani. Demi mensyukuri nikmat Illahi Robbi.
Ferry Djajaprana, merupakan sebuah nama yang selalu menyatu dengan seluruh karya-karyanya. Dari jejak-jejak masa kini masa kini, ia mencoba merajut sejarah. Detail demi detail ia ungkapkan berbagai peristiwa melalui kanvas dan kuasnya.
Nama lengkapnya, Ferry Djajaprana, lahir 4 Mei 1965, di Tegal Jawa Tengah. Pelukis muda yang bernaung di bawah bintang Taurus ini, memiliki imajinasi yang peka terhadap lingkungannya. Keakraban dalam menembus bermacam lapisan kehidupan masyarakat, tidak pernah membuat jarak.
Karya lukisan dalam menjamah setiap objek, sangat aspiratif dan apa adanya. Kejeliannya dalam menempatkan setiap warna, selalu selaras dan harmonis. Daerah pesisir, budaya tradisional, peradaban klasik dan suku pedalaman, menjadi pilihannya, untuk diperkenalkan kepada dunia luar yang modern.
Berjambat niat, mengikuti kemauan hati, ia keluar dari pintu rumahnya, dan ia kembali tak pernah pasti. Ia juga tak pernah menghitung jarak, dalam menuruti kemauan. Perjalanan panjang dalam mengukir karier, agar menjadikan pengalaman lebih arif dan bijak.
Jawa, Madura, Bali Sumatera, kalimantan, serta negara tetangga Malaysia dan Singapura, telah disinggahi. Bahkan sampai ke negara kawasan Teluk. Diantaranya Oman, Qatar, Iran, Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab (UAE). Tidak kurang dari 200 buah karya lukisannya, ia garap sejak April 1997 sampai April 2005
Dari lukisan-lukisannya, ada yang ia beri judul "Ms Khadik and her Batik", berukuran 140 x 90 cm, "Fish Market" berukuran 130 x 70 cm, semuanya menggunakan cat minyak. Seluruh karyanya disuguhkan kepada para kolektor dan para pecinta seni, disamping dipamerkan di tempat eksekutif berkelas juga di Galeri kecil di pinggiran Jakarta.
Tahun 1994, lukisannya dipamerkan di Abu Dhabi (UAE), tahun 1995, pameran diselenggarakan di kedutaan Peru, bekerja sama dengan UNESCO, di World Trade Centre (WTC) Jakarta. Tahun 1996-1997, mengikuti pameran 100 pelukis Indonesia, di Gedung Pekan Raya Jakarta.
Tahun 1998, ia berpameran bersama Asosiasi Seniman Pelukis Indonesia (ASPI) digedung pusat Niaga Departemen Pariwisata, Seni dan Budaya , DC Gallery Jakarta. Berlanjut dengan pameran bersama, di Hilton Hotel, Mal Pondok Indah, Plaza Indonesia, Hotel Lembah Hijau, Ciloto, Jawabarat dan Hotel Carita Beach ,Jawa Barat sampai tahun 1999.Terakhir pameran lukisan yang diikuti adalah di Hotel Cempaka , Plaza Bapindo dan Aminta Plaza (2002), dan Hotel Saripacific (2003) dan Crowne Hotel (2004) dan Pameran Tunggalnya di Galeri Palembang, Jakarta Timur (2005).
Ferry Djajaprana adalah laki-laki muda yang sedang terbias semangat mengantar bakat. "Saya di banten ini tidak kesasar, saya sengaja datang, ke mana langkah kaki sampai ke situ tujuannya. Saya mendengar berbagai misteri, cerita tentang Banten. Dari alam lingkungan sampai gerak usik kehidupan masyarakatnya. Saya tertarik ungkapan itu, dan saya perlu membuktikan," ungkapnya kepada Fajar Banten, sambil terus sibuk di atas kanvasnya.
"Ternyata itu benar semuanya, saya kagum dan terkesan akan panorama alam banten. Termasuk kehidupan masyarakatnya yang ramah. Budaya dan seninya, serta suku pedalaman yang benar-benar klasik. Saya akan menyediakan waktu lama, buat menjelajahi daerah Anda." Ungkapnya dalam bincang-bincang dengan Fajar Banten.
Itulah mungkin yang menjadi kebiasaan seorang pelukis. Bincang-bincangnya dengan tamu yang baru dikenal, hanya disambil saja. Ia hanya serius kepada kanvas dihadapannya, menghadap ke laut lepas. Memang sekali-kali menoleh, sambil menyolokkan ujung kuas ke warna yang dipilihnya. Kemudian serius kembali.
Saat itu yang sedang menjadi sasaran, obyeknya adalah Pantai Tanjung Lesung yang merupakan bagian terakhir dari dari seluruh perjalananya yang hampir sebulan di daerah Banten Selatan. Kendaraan pribadinya yang diparkir penuh kanvas lukisan, yang dipersiapkan buat perekaman objeknya.
Diantaranya yang masih berupa sket dan ada beberapa lukisan yang sudah jadi. Kehidupan nelayan Muara Cibareno, Panorama karang taraje, Pantai Ciara Bagedur, Kesibukan Nelayan Binuangeun dan suku pedalaman yang sedang menenun (Lebak).
Sedang yang termasuk Kabupaten Pandeglang, Pantai Tanjung Lesung, Pantai Carita dan Gunung Krakataunya, termasuk hamparan hijau persawahan di kaki Gunung Karang. "Mudah-mudahan dari hasil kerja saya 15 buah lukisan di Banten, membuat saya masih penasaran. Dan saya harus kembali lagi ke Banten untuk menuntaskan," katanya.
"Bung Ferry, lukisan-lukisan yang anda buat ini, kemudian begitu banyak anda kumpulkan, mengapa tidak dijual" Fajar Banten moncoba bertanya untuk lebih jauh lagi melihat visi dan misinya.
Semua hasil karya lukisnya, sejak tahun 1997 sudah banyak yang dijualnya, dengan cara dititipkan pada beberapa galeri, agar para kolektor melihat-lihat dahulu dan membelinya.
Banyak thema lukisannya yang dibuat diantaranya ada Abstract, Figure, Object, Scene, seascape, Landscape ada juga yang imagination, termasuk daily life. Yang terlihat paling menonjol dari yang ditunjukkan kepada Fajar Banten adalah thema imagination, lukisannya berjudul "The Flying Lady".
Di sini jelas-jelas bung Ferry Djajaprana, daya jangkau imajinasi mampu menjamah kelembutan gerak. Dari setiap inspirasi, untuk dituangkan ke dalam kanvasnya, tanpa memperdulikan dirinya yang setiap detik digerogoti waktu. Bisalah dikatakan bahwa bakat lebih kuat dalam mengantarkan kesuksesannya ke jenjang yang diinginkan (Djoewisno MS/"FB") Fajar Banten, Hal. 8, Tanggal 3 Feb. 2001
