Pameran Lukisan 3 Pelukis
(Saturday, 17 September 2005) - Kontributor: Editor - Terakhir Diperbaharui ()
Bandung (17/09). Menyemarakkan kegiatan Festival Kemilau Nusantara, yang digelar di Kota Bandung, 17-18
September 2005 digelar bermacam lukisan tentang kebudayaan Pasundan. Salah satunya adalah Ferry Djajaprana.
Selain Ferry ada dua pelukis lain yang turut memamerkan karyanya: Djoewarso MS dan Aad Sugiarto. Pameran yang
akan dibuka oleh Danny Setyawan Gubernur Jawa Barat dan dihadiri oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero
Wacik ini berlangsung pukul 09.00-19.00 di Lobby Gedung Sate, Jl. Merdeka, Bandung. Masyarakat luas pun
dipersilakan menikmati pameran ini.
Bagi Ferry, salah seorang peserta pameran ini, menganggap bahwa melukis adalah suatu panggilan. Pada saat suatu
ide tiba-tiba datang ke kepalanya di tengah perjalanan, ia langsung menuangkannya ke atas kanvas saat itu juga. Ia bisa
berhenti di lokasi atau obyek mana pun yang menggerakkan hatinya untuk mengabadikannya, dan ia terbiasa untuk
menyelesaikan lukisan itu saat itu pula, cukup dalam beberapa jam saja, tanpa mau menunda pemberian sentuhan
akhirnya di rumah. Jadilah dia seorang pelukis ‘jalanan’, pelukis on location. Demikian paparnya dalam
website pribadinya.
Itulah sebabnya di rumah, di studio dan bahkan di mobilnya selalu tersedia kanvas kosong, lengkap dengan peralatan
melukisnya, karena ia tak pernah bisa memprediksi kapan inspirasi itu datang padanya. Semenjak duduk di bangku
sekolah dasar, Ferry Djajaprana yang lahir di Tegal, 4 Mei 1965 ini sudah menyadari bakat melukis yang dimilikinya.
Namun menyadari pula keterbatasan keluarganya yang tak mampu memasukkannya ke sekolah melukis khusus, ia pun
belajar secara otodidak dan selebihnya hanya belajar dari sanggar lukis di sekolahnya. Dari situ ia mulai menunjukkan
prestasi dengan menjuarai lomba lukis tingkat kecamatan, di daerah asalnya, Tegal, Jawa Tengah. Dan takdir ternyata
memang membukakan jalan baginya.
Sewaktu SMA, ia sempat mengelola Sanggar Pelangi, sanggar di sekolahnya, SMA I Bekasi, yang khusus bergerak di
bidang seni rupa, khususnya seni lukis. Saat itu mulailah ia berpameran bila ada event yang diselenggarakan oleh
Pemda Bekasi. Setamat SMA, memikirkan keluarga dan hari depannya nanti;ditambah lagi masukan dari seorang pelukis jalanan yang ditemuinya di Pasar Blok M yang menceritakan kesulitan hidup sebagai pelukis yang tidak mampu mencukupi kebutuhan keluarganya—ia memutuskan untuk tidak meneruskan sekolah ke bangku IKJ atau STSRI. Ia akhirnya memilih menekuni pendidikan komputer, yang tak lain tujuannya agar ia bisa cepat bekerja, sehingga ia bisa membeli cat lukis impor yang harganya cukup mengorek isi kantong.
Debutnya di ajang internasional di Abu Dhabi, pada acara peringatan HUT Kemerdekaan RI, tahun 1994. Selanjutnya di
Indonesia pada tahun 1995 ia mengikuti pameran yang diselenggarakan oleh Kedutaan Peru bekerja sama dengan
UNESCO di World Trade Centre (WTC) Jakarta. Tahun 1996 dan 1997 mengikuti pameran yang diselenggarakan oleh
kelompok Seratus Pelukis Indonesia, bertempat di Mal Mangga Dua Jakarta, Gedung Pusat Niaga-Pekan Raya Jakarta,
dan Mal Daan Mogot Jakarta.
Kini, kegiatan melukisnya bahkan semakin berkembang, sambil juga aktif sebagai pengurus Asosiasi Seniman Pelukis Indonesia (ASPI) untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya.
Ferry Djajaprana optimis bahwa masa depan dunia lukisan di Indonesia cukup cerah. Buktinya, pada saat krismon
melanda segala segi kehidupan kita, pameran lukisan jalan terus dan ada saja pembelinya. ;Mereka butuh manajemen, kalau memungkinkan kayaknya perlu ada manajemen pelukis, ujarnya.
http://www.etnikom.com - www.etnikom.com
Powered by Mambo
Generated: 1 January, 2007, 14:06