ReviewReviewReviewFushus Al HikamMar 28, '07 10:44 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Ibn Arabi
Ini saya review, hanya satu bab saja.

Ada sebuah pertanyaan yang mengungkapkan dimana Tuhan sebelum adanya penciptaan? Pertanyaan ini mengelitik saya untuk menggali lebih lanjut.

Menurut Ibnu Arabi, dalam bukunya Fusus Al Hikam mengungkapkan bahwa Tuhan pada saat itu ada di Hahut, Tuhan saat itu masih memperkenalkan dirinya sebagai Huwa . Ini bukan alam suatu maqom Absolut, daerah tak bernama. Kalau digambarkan adalah sebagai berikut :

Hahut-> Lahut (Qualities -Sifat – Nama- Permanent Entities) -> Alam ciptaan yang masih berupa relative/illusi (Alam Jabarut, Malakut, Mulk) -> Adamic

Kalau diibaratkan bawang yang dikupas/lingkar tahunan kayu jati, maka Hahut berada di area inti kambium. Berikutnya Lahut, ini masih bukan alam (sebagian mistikus menyebutnya alam(?) ini rasanya tidak tepat). Perlu diketahui Tuhan adalah Sang Pencipta, sementara alam adalah yang diciptakan. Tentu logikanya lokus Sang Pencipta bukanlah di alam. Disini Tuhan mengenalkan nama, sifat dan hal-hal tentang dirinya yang bersifat qualities, lalu alam berikutnya adalah alam ilusi dan alam kasat mata (Adamic).

Pemahaman manusia hanya sedikit tentang Tuhan, dimensi manusia mengenal Tuhan sebatas kepada nama (Allah), ini karena keterbatasan pemahaman 'Bahasa' manusia, yang hanya bisa mengenal Tuhan dari sosok bahasa.

Hakikatnya Tuhan adalah Maha Absolut, kita tak bisa menembusnya di Hahut, penyebutan Tuhan masa itu adalah HUWA ( orang Nasrani menyebutnya Yahweh) atau artinya DIA. Memahami Dia tentunya harus dengan bahasa hakikat (ontology) bagaimana Dia melihat tentang diriNya sendiri.

Memaksakan pemahaman tentang Ke Absolutan Tuhan memperkedilkan Tuhan dalam persepsi diri sendiri, karena logika tidak menembusNya, karena logika hanya mampu membedah alam nyata, yang terperangkap akan ruang dan waktu, sementara Tuhan itu lepad dari ruang dan waktu. Mampukah akal menguak Dzat Yang Lahir sekaligus Bathin, Dzat Yang Awal sekaligus Dzat Yang Akhir. Dua kondisi yang berseberangan dipaksa masuk dalam satu entitas.

(Tentang Huwa dan bagaimana sejarah penamaan Allah, termasuk penciptaan referensinya bisa klick : http://ferrydjajaprana.multiply.com/journal/item/58)

Menyebut Tuhan dengan Huwa, sangat sulit bagi manusia untuk memahaminya, maka Tuhan menyebut nama dirinya adalah ALLAH.

Dengan menyebut dirinya Allah, maka dibahasakan beberapa sifat ketuhanan, di Islam ada yang disebut Asmaul Khusna, atau 99 Asma Allah. Dan ada sifat wajib Allah yang 20, ini yang wajib diketahui masih banyak malah yang tidak diketahui oleh manusia. Ibarat gunung es, hanya gunung (atribut nama Tuhan) saja yang terlihat tetapi badan gunungnya yang mencelup ke pedalaman samudra tidak nampak. Itu adalah lokus Tuhan pada saat itu, karena tuhan "narsis" ingin dikenal maka Tuhan memperkenalkan dirinya dengan menciptakan alam, sampai pada Adam.


Salam,
Ferry djajaprana

10 CommentsChronological   Reverse   Threaded
atmoon wrote on Mar 29, '07
Metode penguraian mistikal Ibn Arabi memang canggih karena mensintesiskan pemahamanan 3 agama Abraham yang sering disebut agama langit dan agama Timur jauh seperti Budha dan Hindu yang disebut agama bumi. Istilah-istilah teknis mistiknya seperti lahut, hahut, jabarut dll sebenarnya mengikuti mistikus Yudeo Kristen Awal yaitu Nazorean Essenes dengan Tree of lifenya. Istilah2 mistik ini juga sebenarnya diadopsi oleh a Halajj yang terkenal dengan ekstase "ana al Haq". Kalau gak salah di Fusus al-Hikam kajian Ibnu Arabi itu di beri judul berdasarkan nama-nama Nabi yang ada di Al Qur'an. Setiap Nabi digambarkan oleh Ibn Arabi sebgai stasiuon-stasiuon ruhani yang sebenarnya menjelaskan secara historis transmisi ajaran tauhid mulai dari Adam sampai Nabi Muhammad SAW dengan ungkapan yang menarik, Shalat , minyak wangi dan wanita sebagai ungkapan yang berefleksikan nuansa kehidupan manusia umumnya sebagai Bani Adam (bani abjad dan desimal), Bani Israel (yang terkurungruang-waktu) dengan suatu pilihan mau meneruskan kontinuitas Jamal dan Jalal Allah sebagai al-Insaan Fii Ahsaani Taqwim dengan pernak pernik wewangian PengetahuanNya atau mau menjadi asfalaa Safiliin. Jadi, kalau mau to the poinnya, dalam Fusus al-Hikam , Ibn Arabi menguraikan Cincin Kebijaksaanaan Ilahi tentang DiriNya melalui Pengetahuan Tauhid (Shibghatallahi) sebagai rahasia Kehidupan melalui manifestasi2nya yaitu para Nabi tadi.
ferrydjajaprana wrote on Mar 29, '07
Anda benar sekali Mas Atmun, sayangnya saya belum baca cuma baru dengar. Cincin diibaratkan kebijakan, kemudian ringnya (fass) merupakan spirit Adammiyah. Muara dari tulisan diatas adalah Insan kamil, sebagai permatanya.
atmoon wrote on Mar 29, '07
Iya, mas, memang Ibn Arabi provokatornya yang memppopulerkan penafsiran hakikat Muhammad sebagai Insan Kamil.
ferrydjajaprana wrote on Mar 29, '07
Boleh nih, sekali-kali mas Atmoon nulis kayaknya pemahamannya berlebih. Bisa buat bagi-bagi ke kelompok kami di http://tasawuf.multiply.com, Mas saya invite ya.. at least sebagai pengkritisi kalau2 tulisan2ku ttg tasawuf salah......
fakhriannur wrote on Oct 5, '07
Seorang Mursyid berkata : Tuhan itu jika dipandang dengan mata, maka mata buta dan jika dipandang dengan hati, maka hatipun hancur..
ferrydjajaprana wrote on Oct 7, '07
Kita memandang Tuhan seolah-olah tuhan memandang kita seperti manusia, tuhan memiliki mata. Pemahaman ini disebut tasybih (similarity), tetapi sesungguhnya Tuhan itu berbeda dengan mahluknya (laisa kamitslihi syaiun) ini disebut Tanzikh.
Tuhan tak bisa dilihat karena kita ada hijab,Dia yang Wujud dan kita tidak berwujud (pinjam istilah Ibn Arabi).
zulkarnainagung wrote on Jun 12
bagi mereka yg memang tercerahkan oleh ALLAH, kata2 tidak jadi masalah karena ibarat buah ... mereka telah memakannya ...
istilah apapun yg ditulis bukanlah arti dari tulisan itu tapi rasakanlah ..
maka anda akan mabuk kepayang hehehe salam cinta dari saya syeikh
ferrydjajaprana wrote on Jun 12
Itulah hakikat, ya begitu itu... ndak usah bingung.
Salam kembali untuk mu ya..Syeikh..
zulkarnainagung wrote on Jun 12
insya ALLAH tidak binggung syeikh ..
karena di Akamaliyah memang diajarkan martabat 7 ...
Ahadiyah, wahdah, wahidiyah, arwah, mitsal, ajsam, insan kamil ...
dunia, barzah, kubur & akhiraat
insya Allah pelajaran kita sama syeikh ...mohon doanya ya ..
ferrydjajaprana wrote on Jun 12
S'moga Allah selalu merahmatimu dan kita semua... Amin..
Add a Comment
How would you rate this book? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help