ferry's posts with tag: art

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag art
Blog EntryMenggambar Haramkah ? (3)Jun 5, '07 9:45 PM
for everyone

Seri : 3

Membahas Haramnya Menggambar dari Al Hadits, dengan Mengadopsi  "Teori Batas" (Nazariyyah Al Hudud) Dalam Hukum Islam Oleh Muhammad Syahrur

Menurut Syahrur, realitas historis tindakan manusia pada abad ke 7 ketika Al Kitab tersebut turun, merupakan salah satu bentuk interaksi dan upaya terhadap interaksi dan upaya penafsiran terhadap Al Kitab, yang tentunya bukan produk yang final. Semua tindakan tersebut mengandung nilai tradisi dan ibadah. Demikian juga apa yang dilakukan Nabi SAW tidak lain adalah penafsiran al Kitab yang sesuai dengan konteks pada saat beliau masih hidup.

Syahrur melontarkan beberapa kritik terhadap pemikiran Islam kontemporer yang memiliki beberapa masalah :

Pertama, tidak adanya penelitian ilmiah yang obyektoif, khususnya terhadap studi teks Al Quran. Kedua, kajian keislaman yang ada berangkat dar perspektif yang tidak sesuai dengan kondisi sekarang, dan bersifat subyektif dan doktriner. Kajian itu hanya memperkuat status quo pemikiran, tidak ada tawaran baru sebagai solusi problematika kontemporer. Ketiga, terabaikannya filsafat humaniora karena adanya karena adanya kecurigaan filsafat Yunani (Barat) secara mendasar dan keseluruhan adalah keliru dan sesat. Yang terjadi selama ini bahwa Islam adalah di atas segalanya.

Bangunan keilmuan Islam belum memiliki epistemologi yang mapan dan valid yang langsung bersumber dari At Tanzil. Kondisi ini berdampak pada fanatisme dan indoktrinasi mashab klasik yang sebenarnya merupakan akumulasi pemikiran abad silam, sehingga pemikiran umat Islam menjadi sempit, stagnan dan tidak berkembang.

Bagi Syahrur, umat Islam kontemporer membutuhkan sebuah teori yang mampu melakukan Islamisasi pengetahuan dengan memberikan paradigma ilmiah pada diri setiap Muslim. Sehingga timbul keberanian untuk berinteraksi dengan nilai dan konsep apapun yang dihasilkan oleh manusia tanpa melihat ideologinya. Syahrur juga mengritik bahwa belum adanya teori kontemporer, telah menyebabkan kaum Muslimin mengalami pembusukan pemikiran (al tafakkuk al Fikr), fanatisme mazhab, pemikiran statis, dan mewarisi kekacauan politik yang beralngsung selama ratusan tahun. Keterpurukan ini menyebabkan mereka terpecah-belah dan sering dituduh secara ekstrim dengan label kafir, murtad, zindik, klenik, Muktazilah, Jabariyah atau Qadariyah.

Usaha yang hendaknya segera dilakukan adalah membebaskan kaum Muslimin dari wawasan sempit, sehingga mereka mampu menghadapi tantangan pemikiran kontemporer, karena tidak semua pemikirannya bermusuhan dengan Islam. Konsekuensinya, harus dibangun sebuah epistem(al manhaj al marifi) yang komprehensif dan bersumber dari Tuhan itu snediri.

Untuk memulai menciptakan epistem tersebut, harus diawali peralihan paradigma dalam memandang tradisi dan modernitas. Syahrur memaknai tradisi (turas) sebagai produk kesungguhan manusia dalam realitas sejarahnya. Oleh karena itu, kita diperkenankan mengapresiasi tapi dilarang menyakralkannya. Sedangkan modernitas (al Muasirah) merupakan interaksi manusia dengan produk pemikiran kontemporer yang juga dihasilkan oleh manusia.

Dalam hal ini, umat Islam harus mampu mengadopsi perkembangan-perkembangan pengetahuan kontemporer sehingga tidak terjebak dalam pengulangan pengetahuan masa lalu. Interaksi ini akan memungkinkan adanya pengayaan perangkat metodologi dalam mengembangkan pengetahuan keagamaan yang sejalan dengan fenomena kekinian. Syahrur mengatakan bahwa interpretasi generasi awal Islam tidak mengikat kita sebagai generasi modern, karena interprestasi itu merupakan produk manusia yang terikat akan ruang dan waktu. Demikian juga dengan upayanya mendobrak dan merekonstruksi realitas masyarakat Islam yang cenderung terjebak kepada penyakralan pemikiran masa lalu. Kasus kongkritnya seperti dalam bidang fikih yang selalu terjebak dalam pemikiran al mazahib al fiqhiyah. Hal itu terjadi karena kesalah pahaman dalam memaknai hakikat turas di satu sisi, dan adanya kecenderungan enggan berinteraksi dengan pemikiran kontemporer di sisi yang lain.

(Bersambung ke seri 4)

Salam,

Http ://ferrydjajaprana.multiply.com


Blog EntryMenggambar Haramkah ? (Ser 1 dari 4)Jun 4, '07 1:40 AM
for everyone
Ada satu pertanyaan dari rekan Ryan, seperti yang saya kutip di bawah ini :

Numpang tanya, tentu pernah denger kalau menggambar makhluk hidup itu dilarang oleh agama Islam. Kalau bang Fery tau, mungkin boleh minta penjelasannya sejauh mana larangan itu? apa batasannya? bagaimana dengan gambar di buku2 cerita? apa ada bukti yang bisa ditunjukkan?

Bilamana bang Fery bersenang hati untuk menjelaskan, mungkin ditaro di jurnal umum saja biar jadi renungan Mpers lain


-o0o-

Menjawab pertanyaan diatas dengan jalur Fiqih, lebih mudah karena ada tiga pendapat tentang haramnya melukis. Pertama, haram atas dasar hadis Rosulullah, seperti yang tersebut dalam kitab Riyadlus Salihin. Kedua, mubah dan tidak bermanfaat dan ke tiga membolehkan dengan alasan untuk ilmu pengetahuan.

Pertanyaan pertama di atas mudah di jawab bagi para fuqoha dengan kata “haram”, dan selesai masalah. Karena sesuai dengan ajaran hadits yang berbicara demikian. Pendapat yang kedua, adalah pendapat tengah-tengah, yang apabila lebih banyak mudlaratnya dibanding manfaatnya, lebih baik dihindarkan. Para ulama yang pro dengan jawaban ke dua, menambahkan bahwa yang diharamkan adalah lukisan tiga dimensi, kalau dua dimensi tidak apa-apa. Pendapat yang ketiga, membolehkan dengan alasan manfaatnya untuk ilmu pengetahuan dan demi kemaslahatan umat.

Bagi yang pro untuk jawaban pertama, tentu saja tulisan saya berikut ini tidak perlu lagi dibaca, lantaran sudah “sesat” karena menyalahi terjemahan secara letter lux (muhqammat). Dan untuk anda saya sarankan jangan melanjutkan bacaan berikut.


    - o 0 o -

Sudah menjadi hukum alam, jiwa manusia cenderung untuk mendapatkan kesenangan dari benda-benda yang indah dan cantik. Namun, kecenderungan mewujudkan dalam dirinya berkembang sesuai dengan keyakinan serta kearifan masing-masing manusia.

Tuhan, Dia yang telah menciptakan manusia dalam bentuk terindah, juga memberikan ilham kepadanya untuk berkreasi. Setiap keindahan adalah karya seni milik Tuhan semata, pencipta segala sesuatu. Itu sebabnya setiap keindahan menakjubkan orang-orang beriman, dan itu sebagai penyebab orang beriman menyukuri Tuhan atas semua karunianya, dan makin tambah dekat kepada-Nya. Manifestasi Allah Dzat Yang Haq, yang menyandang asma Jamal yang berarti Keindahan.

Tuhan telah menciptakan alam raya dan kehidupan yang ada di dalamnya dengan dibalut beragam keindahan. Setiap sudut yang terlihat adalah keserasian dan keseimbangan karya cipta dari Yang Maha Agung. Tidak ada detail yang tercecer dari keindahan yang Tuhan ciptakan. Inilah yang patut kita syukuri sebagai hamba yang beriman. Melihat alam ciptaan Tuhan, berkesan bahwa Tuhan setiap saat sibuk untuk mencipta dan mencipta, tidak pernah sedetikpun kehabisan kreatifitias untuk mencipta. Sebaliknya kita manusia sering kali terhenti, kehilangan ide dan tak tahu harus berbuat apa, sementara waktu terus bergulir. Kreatifitas yang dikerjakan mahluknya meliputi berbagai bidang dari teknologi sampai hal-hal yang meyangkut seni.

Mari kita evaluasi pandangan diri tentang “menggambar”. Nabi Adam diturunkan ke dunia mengemban misi untuk menjadi khalifah dunia, dengin dianugerahi akal, tempat persepsi terbentuk. Melalui akal itu imajinasi sebagai cerapan gambar aktual dicopy, untuk selanjutnya dijelaskan melalui oral untuk dikomunikasikan kepada sesama manusia. Kemampuan memberikan logika dan imajinasi adalah hanya milik manusia, binatang lain tidak memilikinya, karena itulah manusia berbeda dengan binatang.

Peranan imajinasi sangat penting. Gambar atau lukisan adalah alat bantu sebagai rekaman (recorder) untuk dokumentasi ataupun sarana komunikasi visual. Sedemikian pentingnya arti gambar, sehingga ada yang memadankan bahwa satu gambar memiliki seribu makna.

Dapatkah anda bayangkan jaman sekarang tanpa adanya gambar? Sungguh sulit, lalu bagaimana nasib ilmu pengetahuan tanpa gambar? Atau dapatkah anda bayangkan seluruh umat muslim dimuka bumi ini dilarang menggambar, ataupun dilarang membeli buku yang ada kandungan gambar atau lukisannya? Jaman terus berkembang, konsep ruang dan waktu sekarang tidak sama dengan konsep ruang dan waktu jaman Rosul, walaupun secara harafiah kata sama. Sebagai contoh di Al Quran menukilkan biji zarah adalah satuan terkecil, jaman sekarang yang terkecil adalah atom ataupun elektron.

Gambaran lain pada abad keemasan Islam berjaya, tak terkecuali ilmuwan Islam, seperti Ar Razi, Ibnu Sinna (Avicenna) dan Al Haykam (penemu optik), mereka menggambar tubuh manusia lengkap sampai ke dalam organ-organnya, andaikan mereka tidak melakukan ini sehingga rekaman gambar-gamabar mereka ada mustahil kita yang hidup di jaman ini mengetahui karya mereka. Abad ke 8 adalah jaman keemasan umat Islam, dengan hancurnya khilafah Bani Ummayah, hancur pula kejayaan umat Islam, masing-masing golongan menganggap golongannya yang benar sedangkan golongan lain yang salah, mempelajari agama sekarang bukan esensi ketuhanan, tetapi hanya ritual semata, halal dan haram saja, Islam yang dulu jaya karena pandangan universalitas, dan mengerucut menjadi hanya ritual saja.

Dari hal yang tersebut diatas, sebenarnya sudah menjawab tentang pentingnya gambar, untuk mempermudah gambaran atau imajinasi selain sebagai rekaman untuk kemudahan menjelaskan sesuatu.

Kita sebenarnya bisa juga membahas masalah haramnya menggambar, melalui Metode Hermenetika. Mari kita bermain-main ke sana.

Hermeneutika, adalah suatu metode alat untuk menafsirkan suatu wahyu. Hermeneutika diambil dari nama Hermes yang menyampaikan pesan para dewa kepada manusia, menerjemahkannya sehingga kata-kata para dewa itu bisa dipahami oleh manusia. Hermeneutika terikat pada dua tugas memastikan isi dan makna sebuah kata atau kalimat dsb dan menemukan instruksi-instruksi dalam bentuk simbolis.

Nabi Muhammad pernah menggambar, gambaran yang Beliau tulis adalah tentang gambaran kehidupan manusia lahir, hidup dan mati, berupa tiga garis mendatar (horisontal) pada satu garis vertikal.Pada jaman Nabi Muhammad hidup, perintah (amr) dan larangan mengikuti masalah yang terjadi pada suatu situasi, kondisi, waktu dan tempat (budaya), setelah Nabi wafat, maka yang ada hanya tinggal tulisan-tulisan jaman dahulu yang harus kita maknai jaman sekarang. Melihat suatu masalah, harus juga memikirkan apa akibat-akibat (reaksi) dari suatu aksi, karena reaksi itu berhubungan dengan aksi.

Menurut saya, pengharaman suatu gambar itu terjadi pada saat budaya setempat (Arab) sedang gemar-gemarnya memberhalakan patung atau lukisan-lukisan nabi. Logikanya, Nabi khawatir akan terjadinya pemberhalaan (men- Tuhankan lukisan ataupun patung) seperti umat-umat sebelumnya, sehingga pada saat itu lukisan dan patung diharamkan karena masyarakat belum tercerahkan dan saat giat-giatnya penerapan hukum atau syariat fiqih. Sayang sekali beliau meninggal lebih awal, sehingga tak ada updating tentang syariat yang pernah beliau berikan.

Hari berganti, jaman berganti, tentu saja masalah jaman dulu tidak sama dengan sekarang, apabila kita mengikuti “plek” persis seperti jaman dulu, maka akhirnya kita hidup menjadi presis seperti sahabat. Celana dipotong diatas mata kaki, jenggot panjang dan baju berjubah. Padahal maksud Rosul adalah agar kita mengikuti esensi ayat, agar menyifati hati dan kehidupan kita, bukan tampak luaran saja yang diikuti.

Agar tidak berpanjang lebar, saya cukupkan demikian dulu penjelasan saya menyikapi pengharapaman gambar pada tatanan fiqih. Tidak ada maksud menghalalkan yang haram, tetapi mengharapkan kedewasaan sikap umat untuk menafsirkan ayat yang biasanya ada kandungan mustasyabihat (tersirat) dari yang tersurat, agar kembali tercipta kejayaan umat Islam yang telah terpuruk ini. Semuanya dikembalikan kepada pribadi masing-masing untuk memahaminya.

Akhirul kalam, hanya Allah saja yang tahu hakikat kebenrannya (Wallahu Alam bisawab), dan mohon ampunan-Nya bila saya telah salah memahami ayat/hadis yang pernah diberikanNya, melalui perantaraan Rosulullah Muhammad SAW.

(Bersambung)

Salam,

Http://ferrydjajaprana.multiply.com



Marketplace ItemFor Sale: Four Horses In DiengMay 21, '07 7:02 AM
for everyone
Category:   Collectibles
Price:    S O L D

"Four Horses", Karya : Ferry Djajaprana, Ukuran : 150 x 100 cm, Oil On Canvas, 1996


Click a thumbnail to enlarge:
 


Marketplace ItemFor Sale: Danau Wanayasa, PurwakartaMay 21, '07 6:56 AM
for everyone
Category:   Collectibles
Price:   S O L D

"Danau Wanayasa", Karya : Ferry Djajaprana, Ukuran : 80 x 50 cm, Media : Oil On Canvas, Tahun 2000


Click a thumbnail to enlarge:
 


Marketplace ItemFor Sale: Danau BaturMay 21, '07 6:37 AM
for everyone
Category:   Collectibles
Price:   US$ 500,-

"Danau Batur", Karya : Ferry Djajaprana, Ukuran : 102 x 72 cm, Media : Oil On Canvas, 1997


Click a thumbnail to enlarge:
 


Marketplace ItemFor Sale: Khadik MembatikMay 21, '07 6:30 AM
for everyone
Category:   Collectibles
Price:   US$ 900,-

"Khadik Membatik", Karya : Ferry Djajaprana, Oil On Canvas, Ukuran : 140 x 90 cm, Oil on canvas, Tahun : 1997


Click a thumbnail to enlarge:
 


Marketplace ItemFor Sale: Sailing Away (Perahu Madura)May 21, '07 6:16 AM
for everyone
Category:   Collectibles
Price:   US$ 5,000,- (S O L D )

"Perahu Madura", Karya : Ferry Djajaprana, Ukuran : 80 x 50 cm, Oil On Canvas, Th 1997


Click a thumbnail to enlarge:
 


Marketplace ItemFor Sale: Tanah Lot, BaliMay 21, '07 6:08 AM
for everyone
Category:   Collectibles
Price:   US$ 1,500,-

"Tanah Lot", Karya : Ferry Djajaprana, Ukuran : 150 x 100 Cm, Oil On Canvas, 1997


Click a thumbnail to enlarge:
 


Marketplace ItemFor Sale: Perahu Borobudur 1Feb 27, '07 4:19 AM
for everyone
Category:   Collectibles
Price:   US$ 300

Perahu Borobudur 1, Oil On Canvas, 70 x 50 cm, 2003

Cadik Borobudur adalah perahu layar yang tertera pad relief Candi Borobudur pada abad ke 8 melambangkan kejayaan bahari pada masa kerajaan Budha yang berpusat di Sriwijaya dan berfungsi sebagai perahu niaga.

Replika perahu Borobudur telah berhasil melaksanakan misi napak tilas menyusuri Jalur Kayu Manis dari Jakarta menuju Ghana, Afrika sejauh kurang lebih 11.000 mil laut dalam waktu kurang dari 6 bulan. Memiliki dua buah tiang layar dengan kontruksi tiga kaki dan dua buah layar berbentuk segi empat yang masing-masing terpasang pada tiang layar.



Click a thumbnail to enlarge:
 


Marketplace ItemFor Sale: Nina BoboFeb 27, '07 3:49 AM
for everyone
Category:   Collectibles
Price:   US$ 300

Nina Bobo, Oil On Canvas, 30 x 25cm, Oil On Canvas


Click a thumbnail to enlarge:
 


Marketplace ItemFor Sale: Orchid (Kembang Anggrek)Feb 27, '07 3:34 AM
for everyone
Category:   Collectibles
Price:   US$ 100,-

Kembang ANggrek, 20 x 30cm, Oil on Canvas, 1998


Click a thumbnail to enlarge:
 


Marketplace ItemFor Sale: Kembang AlamandaFeb 27, '07 3:27 AM
for everyone
Category:   Collectibles
Price:   US$ 300

Kembang Alamanda, di dekat studioku di Ciawi, aku melukisnya di saat gerimis di mana tidak ada aktifitas, daripada bengong, mending memperhatikan kembang tersebut sambil merekamnya di atas canvas.

Kembang Alamanda, 50 x 70 cm, Oil on Canvas,2002


Click a thumbnail to enlarge:
 


Marketplace ItemFor Sale: Sketsa Kesibukan Sungai Abra (3)Feb 27, '07 3:18 AM
for everyone
Category:   Collectibles
Price:   US$ 50

Sungai Abra itu letaknya tidak jauh dari apartemenku, hanya selisih satu blok saja. Pagi hari sambil jalan-jalan aku membuat skets. Ini dia hasilnya.

Kesibukan Sungai Abra - Dubai (UAE), Oil on papaer, 30 x40 cm, 2000


Click a thumbnail to enlarge:
 


Marketplace ItemFor Sale: Abra Creek, Dubai (3)Feb 27, '07 3:00 AM
for everyone
Category:   Collectibles
Price:   US$ 300

Lukisan ini menggambarkan kesibukan port Dubai, khususnya di Sungai Abra.
Saya sengaja melukisnya di pinggiran Sungai sambil menikmati kesibukan lalu lintas perairan negara UAE.
Oil On Canvas, 49 x 63 cm, 2001


Click a thumbnail to enlarge:
 


Marketplace ItemFor Sale: Bunga KhanaFeb 26, '07 10:47 PM
for everyone
Category:   Collectibles
Price:   US$ 300

Bunga Khana di taman studioku, di Ciawi, Ukuran 50 x 70cm, media Oil on Canvas, tahun 2000


Click a thumbnail to enlarge:
 


ReviewReviewReviewReviewFerry Djajaprana Pada Kemilau NusantaraFeb 13, '07 7:35 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Arts & Photography
Author:Etnikom
Pameran Lukisan 3 Pelukis
(Saturday, 17 September 2005) - Kontributor: Editor - Terakhir Diperbaharui ()

Bandung (17/09). Menyemarakkan kegiatan Festival Kemilau Nusantara, yang digelar di Kota Bandung, 17-18
September 2005 digelar bermacam lukisan tentang kebudayaan Pasundan. Salah satunya adalah Ferry Djajaprana.
Selain Ferry ada dua pelukis lain yang turut memamerkan karyanya: Djoewarso MS dan Aad Sugiarto. Pameran yang
akan dibuka oleh Danny Setyawan Gubernur Jawa Barat dan dihadiri oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero
Wacik ini berlangsung pukul 09.00-19.00 di Lobby Gedung Sate, Jl. Merdeka, Bandung. Masyarakat luas pun
dipersilakan menikmati pameran ini.

Bagi Ferry, salah seorang peserta pameran ini, menganggap bahwa melukis adalah suatu panggilan. Pada saat suatu
ide tiba-tiba datang ke kepalanya di tengah perjalanan, ia langsung menuangkannya ke atas kanvas saat itu juga. Ia bisa
berhenti di lokasi atau obyek mana pun yang menggerakkan hatinya untuk mengabadikannya, dan ia terbiasa untuk
menyelesaikan lukisan itu saat itu pula, cukup dalam beberapa jam saja, tanpa mau menunda pemberian sentuhan
akhirnya di rumah. Jadilah dia seorang pelukis ‘jalanan’, pelukis on location. Demikian paparnya dalam
website pribadinya.

Itulah sebabnya di rumah, di studio dan bahkan di mobilnya selalu tersedia kanvas kosong, lengkap dengan peralatan
melukisnya, karena ia tak pernah bisa memprediksi kapan inspirasi itu datang padanya. Semenjak duduk di bangku
sekolah dasar, Ferry Djajaprana yang lahir di Tegal, 4 Mei 1965 ini sudah menyadari bakat melukis yang dimilikinya.
Namun menyadari pula keterbatasan keluarganya yang tak mampu memasukkannya ke sekolah melukis khusus, ia pun
belajar secara otodidak dan selebihnya hanya belajar dari sanggar lukis di sekolahnya. Dari situ ia mulai menunjukkan
prestasi dengan menjuarai lomba lukis tingkat kecamatan, di daerah asalnya, Tegal, Jawa Tengah. Dan takdir ternyata
memang membukakan jalan baginya.

Sewaktu SMA, ia sempat mengelola Sanggar Pelangi, sanggar di sekolahnya, SMA I Bekasi, yang khusus bergerak di
bidang seni rupa, khususnya seni lukis. Saat itu mulailah ia berpameran bila ada event yang diselenggarakan oleh
Pemda Bekasi. Setamat SMA, memikirkan keluarga dan hari depannya nanti;ditambah lagi masukan dari seorang pelukis jalanan yang ditemuinya di Pasar Blok M yang menceritakan kesulitan hidup sebagai pelukis yang tidak mampu mencukupi kebutuhan keluarganya—ia memutuskan untuk tidak meneruskan sekolah ke bangku IKJ atau STSRI. Ia akhirnya memilih menekuni pendidikan komputer, yang tak lain tujuannya agar ia bisa cepat bekerja, sehingga ia bisa membeli cat lukis impor yang harganya cukup mengorek isi kantong.

Debutnya di ajang internasional di Abu Dhabi, pada acara peringatan HUT Kemerdekaan RI, tahun 1994. Selanjutnya di
Indonesia pada tahun 1995 ia mengikuti pameran yang diselenggarakan oleh Kedutaan Peru bekerja sama dengan
UNESCO di World Trade Centre (WTC) Jakarta. Tahun 1996 dan 1997 mengikuti pameran yang diselenggarakan oleh
kelompok Seratus Pelukis Indonesia, bertempat di Mal Mangga Dua Jakarta, Gedung Pusat Niaga-Pekan Raya Jakarta,
dan Mal Daan Mogot Jakarta.

Kini, kegiatan melukisnya bahkan semakin berkembang, sambil juga aktif sebagai pengurus Asosiasi Seniman Pelukis Indonesia (ASPI) untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya.

Ferry Djajaprana optimis bahwa masa depan dunia lukisan di Indonesia cukup cerah. Buktinya, pada saat krismon
melanda segala segi kehidupan kita, pameran lukisan jalan terus dan ada saja pembelinya. ;Mereka butuh manajemen, kalau memungkinkan kayaknya perlu ada manajemen pelukis, ujarnya.
http://www.etnikom.com - www.etnikom.com
Powered by Mambo
Generated: 1 January, 2007, 14:06


Start:     Dec 21, '06 01:00a
End:     Dec 28, '06
Location:     Executive Club, Sultan Hotel
Undangan
“Meraih Kemenangan”

Dengan hormat,
Mengundang Bapak/bu/anda pada pembukaan pameran lukisan karya : Ferry Djajaprana, Djoewarso MS, dkk, pada :

Hari : Juma't
Tanggal : 15 Desember 2006
Pukul 19:00 WIB di :

The Executive Club Jakarta
The Sultan Hotel Complex / Hilton
Jl. Jend. Sudirman,Jakarta

Pameran akan dibuka oleh :
Bapak Dr. Dipo Alam MEA
(Pencinta Seni)

Pameran akan dibuka untuk umum sampai dengan 21 Desember 2006, pukul 10.00 -21.00 WIB.

RSVP : Djoewarso MS. 021-8480406, HP : 0817 4888461
Ferry Djajaprana (0812-9225528)

Jakarta, 11 Desember 2006.

Hormat kami,

Ferry Djajaprana
melihat pameran dari layar komputer anda Http://ferrydjajaprana.multiply.com/market



INVITATION :

Cordially invite you to the opening ceremony of the Painting Exhibition of the painter :
Ferry Djajaprana, Djoewarso MS and Friends, on :
Day : Friday
Date : December 15, 2006
Time : 07.00 PM
at :

The Executive Club Jakarta
The Sultan Hotel Complex / Hilton
Jl. Jend. Sudirman,Jakarta

The exhibition will be officially opened by :
Dr. Dipo Alam, MEA

The exhibition will be opened daily for public through December 21, 2006

10:00 Am – 09.00 PM

RSVP : Djoewarso MS. 021-8480406, HP : 0817 4888461
Ferry Djajaprana (0812-9225528)

Jakarta, 11 Desember 2006.

Best regard,
Ferry Djajaprana
Http://ferrydjajaprana.multiply.com/market

Marketplace ItemFor Sale: Bunga MatahariOct 8, '06 10:46 PM
for everyone
Category:   Collectibles
Price:   US$ 300

Judul Lukisan : Bunga Matahari
Frame : Craft Bunga Matahari Dari Kayu Jati
Karya : Ferry Djajaprana
Diameter : 27 cm
Tahun : 2003

Cerita Di Balik Karya :

Senandung Alam

Cibodas adalah taman cagar alam khususnya mengakomodasi alam tumbuh-tumbuhan (botanical garden), di sana berbagai tumbuh-tumbuhan hidup dengan rukun dan damai.

Tiap harinya antara hujan, dengan panas bergantian satu sama lain, dirangkai oleh hembusan angin bulan Oktober, sehingga kecantikan alamnya seolah rajutan yang indah dipandang mata, membuat kita betah berlama-lama berlibur di sana.

Kedatanganku di bukit Cibodas disambut oleh taman bunga teratai yang letaknya tak jauh dari pintu gerbang masuk, tempatnya yang strategis itu mengundangku untuk melangkah ke sana menghilangkan rasa capek setelah perjalanan dua jam selepas dari ibukota Jakarta. Bebatuan artificial yang cukup besar ini nyaman sekali diduduki sambil berleha-leha. Sebenarnya perjalananku pagi ini tidaklah terasa capek sekali, karena perjalananku dari Jakarta aku lakukan ba’da Subuh, saat fajar menyingsing, sehingga jalanan yang biasanya macet masih terasa lengang.

Hangatnya mentari pagi menggugah minatku untuk berjemur, dan mengambil gambar bunga teratai. Pagi hari adalah saat terbaik untuk mengambil gambar, selain gambar terlihat dimensinya karena efek cahaya matahari pagi juga kita bisa mendapatkan warna emas hasil pendaran cahaya ultra violet sehingga gambar menjadi lebih dramatis.

Sekuntum teratai yang kujadikan obyek ini sungguh menarik sekali, betapa tidak disela-sela pengamatanku mengatur fokus kamera dan jarak obyek, menampakkan gerakan mistis, mekar perlahan tapi pasti. Bunga teratai memanifestasikan ketertarikan dan simpatinya pada matahari.

Sepelemparan batu dari taman kolam teratai, tumbuh bunga rembulan (selenotropium) dan bunga matahari. Kesamaan kedua bunga ini adalah sangat indah dipandang mata, walaupun demikian kedua bunga ini memiliki ciri yang berbeda, bunga matahari mengikuti peredaran matahari, sementara bunga rembulan mengikuti peredaran bulan.

Mengamati bunga matahari membuat imajinasiku melayang-layang, karena bunganya mengikuti kemana arah matahari bergerak layaknya antenna parabola yang selalu memonitor ke arah mana satelit berdiam di angkasa raya.

Merenungi (tafakur) ciptaan Sang Khalik membuat aku yakin bahwa pada hakekatnya setiap sesuatu berdoa sesuai dengan jenjang yang ditempati oleh alam ini, mereka menyenandungkan pujian terhadap Ilahi Robbi Sang Pencipta Alam ini, pujian rohani dan pujian jasmani. Bunga matahari bergerak sampai taraf tertentu, ia bebas melangkah mengikuti peredaran, andai saja kita mendengar bunyi udara yang diterpa oleh geraknya, kita akan insaf bahwa itu adalah suatu dendang himne kepada Sang Khalik, sedemikian rupa sejauh kesanggupan yang ada pada tumbuhan untuk berdendang.

Dendang alam ini tidak hanya milik bunga matahari karena sebelumnya juga dilakukan oleh bunga teratai, Sebelum sinar matahari muncul, ia terkatup, memekar saat matahari mencapai puncaknya, mengatup dan menutup kembali saat matahari turun. Apa bedanya perilaku manusia yang memuji Dzat Pemilik Cahaya melalui gerakan mulut dan bibirnya, dibandingkan dengan teratai yang memekarkan dan menutup kelopaknya? Kelopak adalah bibirnya dan itu adalah himne alamiah, seperti kita dzikir menyebut Asma Allah "Allah-Allah-Allah..." setiap saat.

Bunga matahari dalam cerita sudah aku tuangkan dalam bentuk lukisan, seperti yang tersebut dalam gambar. Sementara bunga teratai sudah aku lukis juga, pls wait untuk tayangannya.

Salam,
http://ferrydjajaprana.muliply.com



Click a thumbnail to enlarge:
 


Link: http://inspirasipagi.blogspot.com/2006/04/menyiram-pohon-cinta-oleh-fe...

INSPIRASI PAGI/ IMELDA FM

Ada cerita menarik dari sahabat karib kami, yang diceritakan kemarin di rumahku. Dia curhat tentang masa lalunya.. bagaimana proses jadiannya bersuamikan pria yang mendampinya sampai kini, di usianya yang telah melewati masa pensiun. Waktu dia remaja, dia adalah gadis desa yang menjadi impian pemuda di kampungnya. Syahdan, ada seorang remaja yang menyenanginya, cintapun berbalas. Kenangan manis mereka buat bersama, sayangnya jarum jam terus bergerak, tak ada pertemuan yang tidak diakhiri dengan perpisahan, demikian juga dengan cinta mereka, pun akhirnya tertutup karena sang remaja telah berganti usia menjadi pemuda.

Start:     Jul 24, '06 7:00p
End:     Jul 27, '06
Location:     Hotel Grand Cempaka, Lantai 1, Jl. Letjen. Suprapto, Cempaka Putih, Jakarta
Tuhan telah menciptakan alam raya dan kehidupan yang ada di dalamnya dengan dibalut beragam keindahan. Setiap sudut yang terlihat adalah keserasian dan keseimbangan karya cipta dari Dzat Yang Maha Agung. Tak ada detail yang tercecer dari keindahan yang Allah ciptakan.

Keberadaan alam itu sendiri membuktikan akan keberadaannya Sang Pencipta Alam dan bukti cinta kasihNya terhadap umatNya. Melalui kasih dan cintanya yang mengalir pada darah umatnya, selayaknya kita juga beribadah kepadaNya sebagai ungkapan terima kasih dan mengasihi sesama mahluk.

Alam adalah ayat-ayat Tuhan yang terhampar di muka bumi ini, daya pikatnya menggerakkan insan yang bergelut di bidang seni untuk mencoba mengalihkannya dalam bentuk karya cipta.Sejalan dengannya, beberapa pelukis dari beberapa kota di Indonesia mencoba menjabarkan ayat-ayat Tuhan di atas kanvas, baik secara literal maupun secara tafsir yang dimanifestasikan dalam bentuk lukisan alam yang terhampar di jagad raya ini dalam suatu ajang pameran lukisan yang berthema "Manifestasi Cinta". Diantara mereka adalah AD Pirous, Amrus Natalsyah, Firdaus Alamhudi, Djoewarso MS, Ferry Djajaprana, Yetmon Amir, Priyono dan lain-lain.

Pameran lukisan yang terselenggara atas prakarsa Dewan Pimpinan MUI pusat ini akan diresmikan oleh Bapak Sugiharto SE.,MBA, Menteri Negara BUMN dalam rangka Rakernas dan Peringatan Milad MUI ke 31, pada hari Senin, 24 Juli 2006, di Hotel Grand Cempaka, Lantai 1, Jl. Let Jen. Suprapto, Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Pameran dibuka untuk umum tanggal 25 s/d 27 Juli 2006. RSVP : (021) 3455472, 3507486, 0811-174959.

Kami mengundang dengan hormat Bapak/Ibu/Saudara untuk menghadiri pameran tersebut. Atas perhatian dan kehadiran Bapak/Ibu/Saudara kami ucapkan terima kasih.

"Tiada kesan tanpa kehadiran anda".

Salam,
Ferry Djajaprana
Pelukis

Http://ferrydjajaprana.multiply.com
Http://www.geocities.com/verri_dj


Pages:12
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help