ferry's posts with tag: belajar tasawuf

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag belajar tasawuf
Blog EntryPertaubatan Hukuman MatiJul 20, '08 5:05 AM
for everyone

Belajar Tasawuf Seri 20. Taubat, Inabah dan Awbah

 

Dua bulan terakhir kejaksaan telah mengeksekusi  enam terpidana mati kasus narkoba dan pembunuhan di berbagai daerah.  Pertama, Samuel I. Okaye dan Hansen A. (WN Nigeria) pada 27 Juni, Ahmad Suradji, 10 Juli 2008. Sumiasih dan Sugeng, 19 Juli 2008 dan Tubagus Maulana yusuf, 18 Juli 2008, dan ini masih menunggu yang lainnya.

 

Saya pernah menyaksikan wawancara Sumiarsih (60) dengan wartawan salah satu stasiun televisi, Sumiarsih begitu yakinnya akan dibebaskan dari hukuman mati karena dalam penantian panjangnya selama dua dekade di penjara, dia telah berperilaku baik dan bertaubat kepada Tuhannya. Sayangnya prakiraan Sumiarsih meleset, perjalanan hidupnya harus berakhir karena grasinya di tolak Presiden.

 

Taubat adalah satu kata yang membuat orang bisa kembali merasa suci. Syukur ke hadirat Illahi Rabbi, yang telah memberikan fasilitas taubat, mengabulkan keinginan hambanya untuk kembali ke jalan kebenaran.

 

-o0o-

 

Demikianlah taubat orang awam adalah taubat akan dosa, adakah taubat yang dilakukan bukan lantaran karena dosa?

 

 

Mari kita bahas taubat dipandang dari sudut kacamata tasawuf. Kata taubat berasal dari Bahasa Arab Tawbah yang artinya kembali. Maksudnya, kembali kepada Allah setelah terjebak dalam kesesatan dosa.

 

Kesadaran kembali kepada jalan yang benar biasanya diawali oleh yaqzhah, yaitu kesadaran yang datangnya tiba-tiba untuk kembali kepada kebenaran. Umumnya, yaqzhah diiringi azm yang artinya tekad bulat untuk berpaling dari yang salah menuju kebenaran. Kemudian, tekad itu diikuti oleh fikrah, yakni upaya penyatuan perhatian kepada satu tujuan mulia. Fikrah akan memunculkan bashirah, yakni kejernihan pandangan bathin dalam melihat kebenaran pada masa depan. Nah, titik temu dari berbagai perjalanan rohani ini akan mengantarkan orang pada satu peringkat perjalanan rohani yang disebut taubat.

 

Bagi kaum sufi, taubat adalah sarana yang harus selalu tersedia baik pada saat mulai perjalanan rohani maupun saat selesainya akhir perjalanan. Taubat kaum sufi dilakukan pada saat menuju Tuhannya dengan alasan Tuhan itu Maha Suci, sehingga untuk mencapai Kesucian harus ditempuh dengan kesucian pula. Berlandaskan riwayat "Allah Maha Baik atau Maha Suci. Dia tidak menerima kecuali yang baik dan suci pula". (HR Muslim).

 

Lalu bagaimana kalau hambanya berlumuran dosa? Allah belum akan menerimanya bila orang tersebut belum disucikan melalui azab. Kata azab (asal Bahasa Arab, Usbah artinya tawar). Jadi, mengazab berarti membuat menjadi tawar setelah sesuatu terkontaminasi kotoran. Nah, jadi taubat itu merupakan upaya awal agar dekat dengan Tuhan, dan sekaligus "grasi" dari Tuhan, agar ditiadakan pengazaban.

 

Ada tiga langkah yang dilakukan orang untuk bertobat, pertama, menyesali segala perbuatan dosa yang telah dilakukan. Kedua, bertekad untuk tidak mengulangi lagi perbuatan tersebut selama-lamanya. Ketiga, senantiasa berbuat baik kepada Allah dan sesama manusia.

 

Ketiga elemen taubat ini belum lengkap bila tidak diiringi permohonan maaf kepada orang-orang yang pernah di dzolimi, atau diambil haknya secara tidak halal. 

 

Menurut Abu Ali Al Daqqaq (w. 412H) dalam tulisan Yunasril Ali, Ruh dan Jenjang-jenjang Ruhani, Serambi Ilmu Semesta, 2003, taubat merupakan langkah awal menuju Ilahi. Dan taubat sendiri terdiri atas tiga peringkat: taubat, inabah dan awbah.

 

Taubat sudah dijelaskan di atas, upaya kembali kepada Allah setelah terjebak dalam dosa dan maksiat, karena takut murka-Nya. Setelah itu, orang yang bertobat itu senantiasa meningkatkan amal kebaikannya, baik secara kualitas maupun kuantitas dalam rangka mendapatkan pahala yang lebih besar. Upaya peningkatan amal yang baik menuju yang lebih sempurna  disebut inabah. Jelasnya, inabah bukan bertaubat dari dosa, tetapi bertobat atas kekurangan menuju kesempurnaan.

 

Menurut Al Daqqaq, taubat adalah sifat orang beriman(QS. Al Nur [24]:31, sementara inabah adalah sifat para wali dan orang-orang yang dekat dengan Allah atau muqarabbin (QS. Al Zumar [39] : 17-18). Disebutkan pada ayat tersebut bahwa sifat orang yang inabah (munib) ialah memilih yang terbaik dari apa yang diperintahkan Allah, sehingga ia memperoleh hidayah Allah dan dekat dengan-Nya.

 

Peringkat tertinggi dalam pertobatan adalah awbah, ialah tobat kepada Allah bukan atas motivasi dosa dan pahala, seperti pada taubat dan inabah, akan tetapi semata-mata ingin dekat dengan Allah dan senantiasa ingin selalu bersama-Nya. Kondisi ini yang disebut Dzu Al Nun Al Mishri(w. 861M) "Taubat orang awam adalah taubat akan dosa, sedangkan orang istimewa (khawwash) bertaubat dari kelalaian terhadap Allah", taubat ini adalah taubat para nabi dan para rosul. (QS. As Shad [38]: 30-31).

 

Salam,

Http://ferrydjajaprana.multiply.com

Http://tasawuf.multiply.com

 

Penulis bisa dihubungi pada alamat email : verri_dj@yahoo.com

 

 


EventMelalui An Nafs Kita Menuju Insan KamilJul 19, '08 12:36 PM
for everyone
Start:     Jul 19, '08 1:00p
End:     Aug 17, '08 11:00p
Location:     Http://tasawuf.multiply.com

Pada mid Juli sampai Mid Agustus di http://tasawuf.multiply.com diselenggarakan diskusi tentang An Nafs, kami mengajak rekan-rekan ikut serta.

Hasil diskusi akan kami rangkum dalam tulisan "Melalui An Nafs Kita Menuju Insan Kamil", kenapa judulnya demikian? Karena pada umumnya perjalanan spiritual para sufi menuju Insan Kamil adalah melalui nafs-nafs ini.

Kami mengharapkan peran aktif member semua, karena dengan tambahan-tambahan sinergi berupa pertanyaan ataupun sanggahan akan memperkaya khasanah tulisan.

Salam,
Ferry Djajaprana

Blog EntrySeri 12 IkhlasMay 15, '08 12:44 AM
for everyone
 

Seri Ke 12 Belajar Tasawuf

Oleh : Ferry Djajaprana


Ikhlas atau tulus, arti menurut kamus Tasawuf 1) adalah bersih dan terbebas dari tujuan untuk selain Allah.

Syed Ali Bin Uthman Al Hujweri 2) menggambarkan bahwa ikhlas adalah perbuatan akan bernilai apabila ada ke ketulusan di dalamnya. Ikhlas itu seperti jiwa di dalam tubuh. Badan tanpa jiwa adalah mati, seperti batu. Keikhlasan adalah aspek bathiniah sedangkan perbuatan adalah aspek lahiriah. Apabila kedua aspek ini berpadu maka akan menghasilkan kesempurnaan. Ke duanya saling melengkapi dan saling bergantung. Jika seseorang tulus selama satu tahun tapi tanpa ditunjukkan dengan perbuatan, maka tak ada artinya. Sebaliknya, jika sesorang melakukan perbuatan tanpa ketulusan, seperti dia telah pergi entah ke mana. Suatu perbuatan akan dinilai sebagai perbuatan apabila didalamnya ditemukan keikhlasan.

Menurut Abd Al Karim Ibn Huwazin al Qusyayri 3) keikhlasan berarti menjadikan Allah sebagai satu-satunya obyek persembahan. Ini berarti menghendaki kedekatan dengan Allah melalui ibadah, dengan mengesampingkan yang lain, apakah itu sifat riya yang bertujuan memperoleh pujian atau penghormatan diri manusia. Tepatnya "Keikhlasan berarti menyucikan amal-amal perbuatan dari kesadaran apapun terhadap sesama mahluk." Dikatakan juga, "Keikhlasan berarti melindungi diri sendiri dari kepedulian terhadap pandangan sesama manusia".

Firman Allah dalam surat Al Ikhlas 4) 1) katakanlah "Dialah Allah yang Maha Esa, 2) Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu 3) Dia tidak beranak dan tidak pula diberanakkan 4) dan tidak ada satu orangpun yang setara dengan Dia.

Disebut Al Ikhlas yang artinya "Memurnikan keesaan Allah" karena surat ini sepenuhnya menegaskan kemurnian, keesaan Allah dan menolak segala kemusyrikan.

Abu Utsman al Maghriby menyatakan bahwa ,"Keikhlasan adalah keadaan dimana nafsu tidak memperoleh kesenangan. Ini adalah ikhlasnya orang awam. Mengenai ikhlasnya manusia pilihan, keikhlasan datang kepada mereka bukan karena perbuatan mereka sendiri. Amal kebaikan lahir dari mereka, tetapi mereka terpisah dengannya. Mereka tidak menyadari perbuatan baik mereka, tidak pula mereka punya kepedulian terhadapnya

Itulah ikhlasnya kaum pilihan".

Menurut ulama yang disebut ikhlas itu ada dua, yaitu keikhlasan beramal dan keikhlasan mencari pahala. Keiklasan beramal adalah keinginan mendekatkan diri kepada Allah, mengagungkan ikhwal-Nya dan menyambut seruan-Nya. Adapun yang mendorong motif ini adalah keyakinan yang benar. Lawan keiklasan dalam beramal adalah kemunafikan.

Adapun keikhlasan mencari pahala adalah keinginan memperoleh manfaat akhirat dengan amal kebajikan. Lawannya adalah riya. Jadi riya adalah keinginan memperoleh dunia dari amalan akhirat.

Bibliography :

1) Jumantoro, Totok. Amin, Samsul Munir. Kamus Ilmu Tasawuf, Penerbit Amzah, Wonosobo, 2005

2) Al Hujweri, Syed Ali Bin Utsman , Kashful Mahjub (Unveiling The Veiled), AS Noordeen Publisher, Malaysia, 1997 (p.102).

3) Al Qusyayri, Abd Al Karim Ibn Hawazin. Risalah Sufi Al Qusyayri (Terj. Principles of Sufism), Penerbit Pustaka, Mizan Press, 19901.

4)Al Quran dan terjemahannya, Mujamma Al Malik Fahd Li Thiba'at Al Mushaf, Madinah Al Munawarah, KSA, 1415 H.


Salam,

Http://ferrydjajaprana.multiply.com

Http://tasawuf.multiply.com



Blog EntryD z i k i rMay 2, '08 12:16 AM
for everyone
 

 

Seri ke 9 Belajar Tasawuf


Oleh : Ferry Djajaprana


Dzikir menurut kamus ilmu Al Quran artinya ingat 1). Sedangkan menurut istilah dzikir adalah apa yang diucapkan oleh hati dan diucapkan oleh lisan berupa tasbih (menyucikan Allah), tahmid (memuji), menyebut sifat-sifat kebesaran-Nya, keagungan-Nya, Keindahan-Nya dan Kesempurnaan-Nya. Dzikir yang paling utama adalah ucapan La Ilaha Illalah Muhamadur Rosulullah.


Adapun yang dimaksud mengingat disini adalah mengingat Allah. Banyak cara dzikir yang diajarkan oleh Rosulullah, ada yang diucapkan secara berulang-ulang (wirid), ada yang diucapkan dengan mengeraskan suara seperti talbiyah dan azan. Ada yang diucapkan dalam hati (dzikir sirri), ada dzikir dengan merenungkan segala ciptaan Allah (tafakkur) dan dizikir dengan mengeksplorasi ciptaan Allah (tadzabur), dzikir juga bisa dilakukan dalam berbagai keadaan , berjalan, duduk, berbaring dan bekeja.


Di masyarakat awam, banyak yang memahami bahwa dzikir adalah obat penenang jiwa yang berfungsi untuk menenteramkan bathin, bahkan ada yang mengamalkan dzikir sekian ratus kali untuk membuka rezeki, untuk kekuatan, seolah-olah menjadikan dzikir seperti ilmu klenik, untuk melawan kekuatan jahat seperti yang biasa ditayangkan dalam film-film misteri.


Tulisan dzikir yang akan kami paparkan disini pertama adalah dzikir yang dibahas dalam konteks pembentuk tingkah laku melalui pendekatan tasawuf suluki 2) juga dalam penjabaran tasawuf kontemporer.


Dzikir dalam Tasawuf


Berikut ini adalah beberapa hadis dan firman Allah yang diambil dari kitab Ihya Ulumuddin 3), karya Imam Al Ghazali khususnya pada bab yang membahas tentang Dzikir, antara lain :


Allah Ta’ala berfirman “Maka apabila kamu telah menyelesaikan salatmu, ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk, dan diwaktu berbaring”. (QS. An Nisa : 103).


Rasulullah SAW bersabda “Orang yang mengingat Allah diantara orang-orang yang lalai adalah seperti orang yang hidup diantara orang-orang yang mati.”


Rasulullah SAW bersabda,”Orang yang mengingat Allah diantara orang-orang yang lalai adalah seperti pohon hijau di tengah-tengah rumput kering”.


Rasulullah SAW bersabda :”Tidaklah suatu kaum dalam sebuah majlis sambil mengingat Allah Azza Wa Jalla di situ, melainkan mereka dikelilingi para malaikat dan diliputi rahmat serta Allah menyebut mereka diantara para malaikat di sisi-Nya”.


Rasulullah SAW bersabda : “Sebaik-baik yang diucapkan olehku pada para nabi sebelum aku ialah : Laa ilaaha Illalah wahdahu la syariika lah (Tiada Tuhan selain Allah sendiri, tiada sekutu bagi diri-Nya).”


Barang siapa bertasbih (mengucap subhanallah) setiap habis shalat 33 kali, dan bertahmid (mengucap Alhamdulillah) 33 kali dan bertakbir (mengucap Allahu Akbar) sebanyak 33 kali serta menggenapi seratus dengan “ La Ilaha Illallah wahdahu la syarikalahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa a’laa kulli syaiin Qadir (Tiada Tuhan selainAllah sendiri, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kekuasaan dan segala puji. Dia menghidupkan dan mematikan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu)”, diampunilah dosa-dosanya, walaupun seperti buih laut.”


Menurut Al Ghazali, dzikir-dzikir yang bermanfaat ialah yang disertai kehadiran hati, sedangkan yang dilain itu sedikit manfaatnya. Karena yang dituju adalah kesenangan dengan Allah dan hal itu terwujud dengan berdzikir disertai hati yang hadir (khusyuk). Dengan ini engkau akan aman dari penghabisan yang buruk. Wallahu Alam.


Di dalam kitab “Matnul Hikam” karya Syeikh Ibnu Ato’illah As Sukandari 4), menyebutkan bahwa dasar bagi orang yang menghadap Allah adalah dengan berdzikir.


Pada ayat 45 kitab Matnul Hikam, menyebutkan yang artinya :”Janganlah kau tinggalkan dzikir disebabkan karena hatimu tidak hadir bersama-sama Allah di dalam dzikir. Sesungguhnya kelalaianmu kepada Allah tanpa adanya dzikir itu sangat berbahaya, daripada kelalaianmu kepada Allah masih adanya dzikir kepada-Nya. Semoga Allah mengangkatmu dari dzikir yang disertai kelalaian menuju pada dzikir yang disertai kesadaran (ingat kepada Allah), dan dari dzikir yang disertai kesadaran menuju pada dzikir yang disertai kehadiran hati kepada-Nya. Dan dari dzikir yang disertai kehadiran kepada-Nya menuju kepada dzikir yang disertai adanya keghaiban dari selain yang telah disebut. Dan yang demikian tidaklah sukar bagi Allah”.


Dzikir (ingat) kepada Allah adalah merupakan jalan terdekat untuk menuju kepada Allah. Karena dengan dzikir atau ingat kepada Allah itu kita akan selalu berhati-hati dalam melangkah dan berbuat. Selain itu juga kita akan selalu memperhatikan, apakah langkah dan perbuatan kita tersebut sesuai dengan garis-garis yang ditentukan oleh Allah.


Dengan demikian, kalau kita menjaga diri agar tidak melanggar ketentuan-ketentuan Allah dan selalu memperhatikan dan melaksanakan perintah-perintahnya maka Allah akan menjaga diri kita dan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan kita. Hal ini sesuai dengan firman Allah yang tersebut dalam Al Quran, yang artinya :

Karena ini ingatlah kamu kepadaku, niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) Ku”. (QS. Al Baqoroh : 152).


Dalam Surat Al Ahzaab, Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk berdzikir (menyebut nama Allah) dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya.


Selain itu, dalam hadits qudsi juga menyebutkan “Aku (Allah) menuruti sangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Dan aku selalu menyertainya ketika ia berdzikir kepada-Ku. Dam jika ia ingat kepada-Ku dalam jiwanya, maka akupun mengingatnya di dalam Dzat-Ku. Dan jika ia dekat kepada-Ku di tempat ramai, maka akupun mengingatnya di tempat ramai yang lebih baik daripadanya. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, aku pun akan mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepadaku sehasta maka akupun mendekat kepadanya satu depa. Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku pun akan datang kepadanya dengan berjalan cepat”.


Hakekat Dzikir ialah melupakan apa-apa selain Allah. Firman Allah :”Dan ingatlah akan Tuhanmu bila kamu lupa.” (S. Al Kahfi:24).


Lafadz dzikir itu sangat banyak diantaranya : Tasbih, tahmid, tahlil, takbir, tamjid, shalawat dan lain-lain, tetapi yang paling utama menurut Rosulullah adalah “Laa Ilallohu”. 5)


Dalam prakteknya masing-masing Tarekat memiliki cara tersendiri untuk mengamalkan dzikir ini. Sebagai contoh adalah Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah 6) yang merupakan rumusan atau formulasi Syaikh Akhmad Khatib Sambasi dari dua system tarekat yang berbeda (Qadiriyah dan Naqshabandiyah) menjadi satu metode tersendiri yang praktis untuk menempuh jalan spiritual (sebagian orang menyebutnya “Tarekat Sambasiyah” yang berinduk kepada Qadiriyah. Kedua ajaran tersebut dikemas dalam satu paket ajaran secara utuh, sehingga menjadi bentuk baru yang memiliki perbedaan dengan tarekat dasarnya.


Didalam dzikir Qadiriyah lebih mengutamakan pada dzikir Dzahr, yaitu dzikir yang diucapkan dengan suara keras dan jelas dalam menyebutkan kalimat nafyi wal Itsbat, yakni kalimat la ilaha Illallahu. Sementara Naqshabandiyah lebih suka memilih dzikir dengan cara-cara yang lembut dan samara (dzikir khafiy) pada pelafalan ism adz-Dzat, yakni Allah, Allah, Allah!.


Dalam menyempurnakan formulasi tarekatnya, Syaikh Khatib Sambasi nampaknya masih menggunakan metode-metode tarekat lainnya, sebagaimana yang diakuinya dalam risalahnya yang ia namakan Fath Al Arifin. Ia menyatakan sebagai berikut : Semula tarekat kami ini dibangun atas rangkaian huruf “naqthu jimin”, maka barang siapa tidak mendatangi kami dan mengambil ini (tarekat ini) pada kami, dia pasti menyesal.


Huruf “nun” bermakna tarekat Naqshabandiyah

Huruf “Qaf” bermakna tarekat Qadiriyah

Huruf “Tha” bermakna Tarekat Anfasiyyah

Huruf “Jim” bermakna tarekat Al Junaidiyyah

Huruf “mim” bermakna tarekat Al Muwafaqah.


Tarekat Naqshabandiyah berzikir dalam diam dan menahan nafas, menghadirkan lafadz “Allah, Allah… “ di dalam hati. Tarekat Qadiriyah berdzikir nyaring, berdiri dan duduk. Tarekat Anfasiyyah berdzikir dengan peredaran nafas. Adapun tarekat Al Junaidiyyah membaca seperti :


Subhanallah 4,000 kali pada setiap hari Ahad

Al-hamdulillah 4,000 kali pada hari Senin

La Ilaha Ilallah 4,000 kali pada hari Selasa

Allahu Akbar 4,000 kali pada hari Rabu

La haula Wala Quwwata Illa Billah, 4,000 kali pada hari Kamis

Shalawat pada hari Jumat

Istighfar pada hari Sabtu.


Tarekat Muwafaqah berwirid dengan Asmaul Husna yang bersamaan dengan hitungan nama (yang mengamalkannya). Tarekat ini disebut tarekat Samaniyyah yang menghimpun semua tarekat di dalamnya.


Kelima terekat yang disebutkan diatas sebenarnya mendapatkan tempat dan porsi yang sama pentingnya dalam pengamalan Tarekat Qadiriyah Naqshabandiyah (TQN), terutama bagi kalangan mursyid-mursyidnya. Tetapi karena terlalu berat tekanan amalannya, terutama bagi para pemula (mubtadiin), mereka lebih mementingkan zikir jahr dan zikir khafiy pada setiap selesai shalat fardhu, yang keduanya merupakan inti ajaran TQN.


Dzikir menurut tasawuf kontemporer :


Yang dimaksud dzikir 7) adalah terus menerus mengucapkan nama-nama Allah dengan lisan dan mengingatkannya dalam hati. Mengucapkan dan mengingat nama Allah yang Agung dan mensucikan-Nya dari sifat-sifat yang tidak layak baginya. Allah menyuruh kita memperbanyak dzikir kepada-Nya. Wahai orang-orang yang beriman ingatlah kepada Allah sebanyak-banyaknya (QS. Al Ahzab [33]:41).

Kaum sufi percaya bahwa jika seorang salik terus-menerus ingat kepada Allah, perlahan tapi pasti dirinya akan dipenuhi dengan kualitas ketuhanan.

Tujuan dari mengingat Allah terus menerus diantaranya adalah untuk berlatih konsentrasi terhadap satu titik. Bagi salik yang semula memiliki pikiran yang bercabang, secara bertahap akan dialihkan kepada satu focus, yaitu Allah. Dengan demikian, ia terbebas dari konflik-konflik psikis dan diberkati dengan keseimbangan, ketenangan dan keamanan. Ini sudah merupakan jaminan Allah, “ Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Al Ra’d [13:28].

Selama melatih dzikir, kaum sufi mengulang-ngulang nama Allah. Tidak hanya sekedar menyebutkan, tetapi juga memfokuskan perhatian kepada maknanya. Karena manusia baru dapat mencapai perhatian melalui kata-kata, maka dengan pengulangan itu diharapkan salik memahi artinya. Kata itu sendiri tidak memiliki kekuatan, seiring dengan terbiasanya berspiritual, maka pengucapan kata-kata verbalpun menjadi tidak mesti ada. Berkaitan dengan ini Jalaludin Al Rumi, berkata “Aku ingin melemparkan semua kata, suara dan ucapan, karena tanpa ketiganya aku biasa bertemu dengan-Mu”.

Abu Yazid pernah berucap,”Manusia bertaubat dari dosa-dosa mereka, tetapi aku bertaubat dengan ucapanku “Tiada Tuhan selain Allah”, karena dalam hal ini aku memakai alat dan huruf, sedang Tuhan tidak dapat dijangkau dengan huruf dan alat”.

Pada kenyataannya, dzikir adalah sebuah cara untuk mempercepat proses menghilangkan kualitas-kualitas rendah manusia dan menggantikannya dengan kwalitas ketuhanan, berakhlak dengan akhlak Tuhan, dan akhirnya menghapus ego individual sedemikian rupa sehingga tidak tersisa lagi jejak “aku”. Inilah akhir jalan thariqah dan mulainya samudra ketiadaan atau fana’.


Dengan dzikir kepada Allah akan membuat pedzikir cinta terhadap apa-apa yang dicintai Allah 8). Dzikir adalah ibadah yang sangat membantu dalam mengerjakan sesuatu kepada Allah. Dzikir dapat membuat seorang hamba dapat memotivasi dirinya untuk berlaku taat kepada Allah, memudahkannya dalam beramal, merasa senang mengerjakannya tanpa ada rasa sulit dan membebani. Suatu keadaan yang tidak terdapat pada diri orang yang lalai.


Dzikir juga bisa membuat sesuatu yang sulit menjadi mudah, sesuatu yang berat menjadi ringan. Tidak ada kesulitan yang dibacakan zikir kepada Allah, melainkan menjadi mudah. Tidak ada sesuatu yang berat jika dibacakan dzikir, melainkan akan menjadi ringan. Dzikir kepada Allah memberikan kelapangan setelah kesempitan dan kemudahan setelah kesulitan, serta kegembiaraan setelah kesedihan.

-o0o-


Bibliography:


  1. Al Hafidz, W. Ahsin. Kamus Ilmu AlQuran, Penerbit Amzah, , Wonosobo, 2005

  2. Dr. Ahmad Mubarak, Manusia Modern Mendamba Allah (Relevansi Tasawuf dengan problem Kejiwaan Manusia Modern, Penerbit Hikmah, Jakarta, 2002

  3. Al Ghazali, Imam. Ihya Ulumudin (Ringkasan), Pustaka Amani, Jakarta, 1986

  4. As Sukandari, Syaikh Ibnu Athoillah, Matnul Hikam (Kuliah Marifat), Penerbit Tiga Dua, Surabaya, 1996

  5. Suhrowardi, Syihabuddin, Bidayatussalikin, Penerbit Muddawamah Wa Rohmah, Tasikmalaya, 2007

  6. Thohir. Ajit. Gerakan Politik Kaum Tarekat, Pustaka Hidayah, Bandung, 2002

  7. Haidar Bagir, Zainun Kamal. “Manusia Modern Mendamba Allah, Renungan Tasawuf Positif”, Penerbit IIMAN dan Penerbit hikmah, Jakarta, 2002

  8. Al Shadr, Abddur Razzaq. Berdzikir Cara Nabi (Terj: Fiqhu Ad'iyah Wa Adzkar), Hikmah, Jakarta 2007



Http://ferrydjajaprana.multiply.com

http://tasawuf.multiply.com



Blog EntryRidha (Seri ke 8 Belajar Tasawuf)Apr 20, '08 8:42 AM
for everyone

Ridha

Belajar Tasawuf Seri ke 8

 

Kata “ridha” sudah cukup familiar didengar oleh telinga kita, karena kata ridha sudah diserap dari Bahasa Arab ke dalam Bahasa Indonesia. Hanya saja persamaan kata ridha ini terlalu sederhana maknanya, yaitu rela.

Menurut kamus Ilmu Al Quran, ridha artinya 1) rela (puas) dan senang menerima qada dan qadar  Allah SWT. Dalam ilmu tasawuf, ridha merupakan salah satu maqam (tingkatan) batiniyah yang harus dilalui oleh orang Sufi dalam usahanya mendekatkan diri kepada Allah. Menurut para mutasawif, sikap ridha adalah tidak menentang qada dan qadar Allah, merasa senang dengan malapetaka yang menimpa dirinya karena dirasakan sebagai nikmat, tidak meminta surga atau dijauhkan dari neraka, karena cintanya kepada Allah.

Menurut Imam Al Ghazali 2) ridha merupakan buah  dari kecintaan (mahabbah). Mahabbah setelah menjadi padat disebut kerinduan (isyq). Kalau isyqnya terus menebal, maka tidak perlu lagi  ada proses pemadatan mahabbah, karena mahabbah sudah mendarah daging. Dengan itu akan lahirlah apa yang disebut mahabbah, yaitu ridha. Ridha dengan Qada Allah.

Menurut Imam Al Ghazali, ridha bukan hanya sebagai buah mahabbah, tetapi juga  termasuk maqam tertinggi  dikalangan muqarabbin (orang-orang yang dekat dengan Allah). Jadi dapat kita bayangkan kalau mereka sudah muqarabbin, ditambah memiliki keridhaan yang merupakan maqam tertinggi, maka wajarlah bila kadang-kadang  ada sikap yang dimata orang lain yang tidak muqarabbin –sangat tidak rasional.

Hakikat keridhaan menurut Al Ghazali sangat pelik buat kebanyakan orang. Karena ketika kita memperbincangkan masalah ridha, disitu banyak keserupaan dan banyak ketidak jelasan. Hakikat ridha tidak akan terungkapkan kecuali bagi orang-orang yang memang diajari oleh Allah, artinya dipahamkan ilmu agamanya. Jadi membicarakan ridha itu terkait dengan makrifatullah yang boleh jadi berdasarkan pendekatan rasional maupun pendekatan hati.

Menurut Al Kadzabi pengertian ridha dengan meninggalkan ikhtiar, menerima ketentuan hukum Allah, senangnya hati terhadap ketentuan yang diberikan oleh Tuhan kepada dirinya. 3)

Ar Ridha termasuk karakter yang diperselisihkan oleh kaum sufi, apakah termasuk dalam maqamat atau ahwal. Setelah mencapai maqam tawakal, nasib hidup mereka bulat-bulat diserahkan pada pemeliharaan dan rahmat Allah, meninggalkan dan membelakangi segala keinginan terhadap apa saja selain Tuhan.

Adapun menurut AnNun, tanda-tanda orang yang telah ridha adalah : Mempercayakan segala usaha sebelum terjadi ketentuan. Lenyapnya rasa gelisah setelah terjadi ketentuan dan cinta yang bergelora sebelum turunnya malapetaka.

 

Bibliography :

1)      Al Hafidz , Ahsin W., Kamus Ilmu Al Quran, Penerbit Amzah, Unsiq, Wonosobo, 2005

2)      Efendi, Agus. Kuliah-kuliah tasawuf, Pustaka Hidayah, Bandung, 2000


Http://ferrydjajaprana.multiply.com

 

 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help