ferry's posts with tag: mysticism

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag mysticism
Link: http://tasawuf.multiply.com

Milis multiply untuk para pencari Tuhan (Salik), pengikut suatu tarekat, Mistik Islam, sufisme dan Tasawuf

ReviewReviewReviewReviewMusyawarah Burung (Mantiq Al Thayr)Jul 10, '07 11:12 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Fariduddin AL Athar

RINGKASAN MANTIQ AL-THAYR

Segenap burung dari seluruh dunia, yang dikenal maupun tidak, suatu ketika berkumpul. Mereka mengeluh, “Di dunia ini tak ada negeri yang tak memiliki raja. Bagaimana kerajaan burung bisa tak memiliki raja seorang pun sampai sekarang? Keadaan ini tak bisa kita biarkan berlangsung terus. Kita harus bersama-sama berusaha dan pergi mencari seorang raja buat kita, karena tak adalah negeri yang pemerintahannya baik dan teratur rapi tanpa seorang raja.”
Mereka pun mulai bersidang untuk memecahkan persoalan itu. Burung Hudhud demikian tertarik dan dengan penuh harapan majulah ia ke depan, mengambil tempat di tengah-tengah sidang para burung itu. Sebuah hiasan terpampang di dadanya yang menandakan bahwa ia telah menguasai jalan ilmu pengetahuan rohani; jambul di kepalanya adalah mahkota kebenaran, dan ia pun telah menguasai pengetahuan baik dan buruk.
“Saudaraku para burung sekalian,” kata Hudhud. “Aku adalah salah seorang di antara mereka yang telah mengecap rahmat Tuhan. Aku adalah utusan dari alam gaib. Aku memiliki pengetahuan Ketuhanan dan rahasia makhluk-makhluk-Nya. Bila ada burung seperti aku dengan paruh bertanda nama Tuhan, Bismillah, pantaslah burung seperti itu kalian ikuti karena orang harus mempunyai pengetahuan yang luas mengenai rahasia-rahasia yang gaib. Namun hari-hari bersliweran tak putus-putusnya dan aku tak punya sangkut paut lagi dengan apa dan siapa pun. Seluruh diriku telah diliputi oleh cinta kepada Baginda Raja. Aku bisa mendapatkan air dengan naluriku, dan begitu banyak rahasia kehidupan lain telah kuketahui. Aku telah bercakap-cakap dengan nabi Sulaiman, beserta pengikut-pengikutnya yang utama. Yang mengherankan ialah biasanya dia tak pernah bertanya dan tak pernah ingat lagi kepada siapa saja yang pernah mengunjungi istananya, namun kepadaku sehari saja aku jauh dari sisinya dikirimnya utusan ke mana-mana untuk mencariku, sehingga kemuliaanku tak pernah berkurang karenanya. Akulah yang mengirimkan surat-suratnya, dan aku pulalah sahabatnya yang paling setia. Burung yang telah dimuliakan oleh sang nabi memperoleh anugerah mahkota di atas kepalanya. Dapatkah burung yang bisa bercakap-cakap seperti itu rontok bulu-bulunya dalam debu? Bertahun-tahun lamanya sudah aku menjelajahi lautan dan daratan, mengarungi puncak-puncak gunung dan dasar lembah. Aku sanggup menerobos ruang yang sesak dilanda banjir dahsyat. Aku senantiasa mengiringi nabi Sulaiman setiap kali bepergian dan aku telah mengenal batas-batas dunia.”
“Aku kenal raja itu dengan baik, tapi aku tak bisa terbang sendiri menemuinya. Bebaslah dirimu dari rasa malu, sombong dan ingkar. Dia pasti bisa melimpahkan cahaya bagi mereka yang sanggup melepaskan belenggu diri sendiri; mereka yang demikian itu akan bebas dari baik dan buruk karena berada di jalan kekasihnya. Bermurah hatilah sepanjang hidupmu. Sekarang angkatlah kakimu dari bumi dan terbanglah dengan gembira menuju istana sang raja. Namanya Simurgh. Dia adalah raja diraja sekalian burung. Dia dekat kepada kita, namun kita jauh darinya. Tempat semayamnya sukar sekali dicapai dan tak ada lidah yang sanggup menyebut namanya. Di hadapan baginda bergantungan ratusan ribu benang sinar terang dan gelap, dan di dalam dunia yang fana maupun baka tak seorang pun yang dapat menaklukkan kerajaannya. Dialah raja yang berdaulat dan mandi kesempurnaan. Dia tak pernah memperlihatkan seluruh dirinya, juga di tempatnya bersemayam. Karena itu tak adalah pengetahuan atau kepandaian yang bisa mengetahuinya. Jalan itu tiada dikenal, dan tak seorang pun memiliki kesabaran yang cukup buat menjumpainya. Walaupun begitu ribuan makhluk senantias merindukannya selama mereka hidup. Pun jiwa yang paling murni tak dapat menguraikannya, pikiran pun tak dapat menggambarkan: dua alat penglihatan manusia ini buta di hadapannya. Kearifan tak dapat mencapai kesempurnaannya dan manusia yang paham pun tak mampu melihat keindahannya. Seluruh makhluk ingin mencapai kesempurnaan dan keindahan ini melalui khayalannya. Tapi bagaimanakah kau bisa menjejakkan kaki di jalan itu dengan pikiran? Bagaimana kau bisa mengukur bulan dengan ikan? Demikianlah telah ribuan kepala bolak-balik pergi ke sana, seperti bola yang berputar-putar di lapangan, dan hanya ratap tangis rindu mereka yang terdengar. Beribu daratan dan lautan terbentang sepanjang perjalanan menuju tempatnya. Jangan bayangkan perjalanan ini singkat; orang harus memiliki hati singa untuk dapat menempuh jalan yang luar biasa ini, karena begitu panjangnya dan lautnya rancam serta dalam pula. Kau harus berusaha sekuat tenaga, disertai senyum dan sesekali menangislah tersedu-sedu. Seperti halnya aku, menemukan jejaknya saja sudah merasa bahagia. Jejaknya sangat berarti, dan hidup tanpa dia akan menyebabkan kita diliputi penyesalan. Seseorang tak boleh menyembunyikan jiwanya dari kekasihnya, dia harus menjaga dirinya baik-baik agar jiwanya dapat dibawa menuju istana sang raja. Bersihkan tanganmu dari kotoran hidup ini bila kau ingin disebut orang yang beramal. Panggillah kekasihmu sebagai orang yang mulia. Bila kau patuh dan tunduk kepadanya, dia akan memberikan seluruh hidupnya kepadamu.”
“Dengar! Ada lagi yang mentakjubkan. Pada mulanya Simurg terbang pada malam hari di tengah gelap gulita di negeri Cina. Selembar bulunya jatuh di situ, hingga seluruh dunia tercengang melihat keindahannya. Orang-orang mulai menggambar bulunya yang indah itu, dan dari gambar bulunya itulah tersusun berbagai sistem pemikiran, sehingga akhirnya kacau-balau karena begitu banyaknya. Bulu Simurgh yang jatuh itu sekarang masih tersimpan di negeri itu. Itulah sebabnya hadith nabi mengatakan: “Carilah ilmu pengetahuan sampai ke negeri Cina sekalipun.”
“Namun demikian pemunculan Simurgh yang pertama kali itu tidaklah begitu membingungkan dibanding Wujudnya yang rahasia. Tanda perwujudannya ini merupakan lambang kebesarannya. Seluruh makhluk yang bernyawa di dunia ini pasti memancarkan bayang-bayangnya. Oleh sebab dalam pemunculannya yang pertama kali tanpa ekor maupun kepala, tanpa ujung dan pangkal, maka tak perlulah kiranya kuceritakan lebih banyak mengenai dia. Sekarang, bersiap-siaplah kalian untuk mengarungi Jalan menuju istananya!”
Mendengar cerita Hudhud itu, burung-burung terpesona dan ramailah mereka membicarakan keagungan sang raja. Dan terdorong oleh keinginannya untuk menjumpai Simurgh, supaya kedaulatan kerajaan burung bisa ditegakkan lagi, mereka menjadi tak sabar untuk segera menghadap Simurgh. Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi bersama-sama, berjanji satu sama lain saling bersahabat dan melawan diri masing-masing sebagai musuhnya. Namun ketika mereka sadar bahwa perjalanan yang akan mereka tempuh demikian panjang dan penuh penderitaa, hati mereka pun bimbang. Sambil mengatakan bahwa mereka tak punya maksud buruk, dengan cara masing-masing mereka mengemukakan alasan.
Burung Kenari berkata: “Ambillah pelajaran dari nasibku. Seluruh umat manusia terpesona oleh warna bulu Simurgh, lalu badanku ini yang mereka kurung. Maka penuhlah hidupku diliputi sedih dan rindu, padahal buat terbang di bawah kepak sayap sang Simurgh saja aku pun tak sanggup!”
Burung Merak menyahut: “Dulu aku hidup bersama Adam dan Hawa di sorga, namun akhirnya aku terusir bersama mereka. Keinginanku ialah pulang kembali ke tempat asalku. Sebab itulah tak ada keinginanku bertualang mencari maharaja Simurgh.”
Menyahut pula Unggas: “Aku telah biasa hidup dalam kesucian, dan sudah terbiasa berenang di air. Yang lain tak kurindukan lagi. Aku tak sanggup keluar dari genangan air, dan tak bisa hidup di tempat yang kering kerontang!”
Lalu berkata Garuda: “Aku sudah biasa hidup senang di gunung. Bagaimanakah aku akan sanggup meninggalkan tempat semayamku yang menyenangkan?”
Kemudian burung Gelatik menyambung: “Aku hanseekor burung mungil dan lemah. Takkan mungkin burung sekecil aku ini sanggup mengembara sejauh itu.”
Menyahut pula burung Elang: “Saudara-saudaraku yang tercinta, kalian sudah tahu bukan bahwa kedudukanku tinggi sekali di sisi raja? Mana mungkin aku meninggalkan kedudukan semulia itu?”
Seekor burung yang lain berkata: “O Hudhud karena kau lebih mengetahui jalan menuju temapt raja yang kau ceritakan itu, dan kau yang menginginkan kami menyertaimu, sedang bagi kami jalan itu gelap gulita, sebaiknya kau sendirilah yang pergi. Dalam kegelapan semacam itu, apalagi banyak sekali bahaya yang mengancam sepanjang perjalanan, pasti kami tak bisa menyertai perjalananmu menghadap raja.”
Mendengar apa yang dikatakan burung-burung itu, Hudhud berkata: “Ingat, aku tak boleh lalai menyampaikan nasihatku yang baik kepada kalian semua. Niatku suci. Apa yang menyebabkan kalian semua mencari alasan yang bermacam-macam, apakah hanya karena terbiasa hidup enak? Dan mengapa harus kita biarkan terlantar cita-cita kita yang suci ini karena terikat kesenangan? Azam yang kuat dan hati yang teguh serta sabar, akan mampu memusnahkan segala kesulitan dan menjadikan dekat segala yang jauh.”
Mendengar jawaban Hudhud ini bertanyalah seekor di antara burung-burung itu: “Lalu dengan cara bagaimana dan melalui jalan apa saja agar kita sampai ke tempat yang jauh dan sulit itu? Dan dengan perlengkapan apa pula kita bisa sampai ke istana ‘maharaja Simurgh?”
Hupu menjawab: “Kita harus menyeberangi tujuh lembah, baru kita akan sampai di tempat maharaja Simurgh. Tak ada yang bisa lagi kembali ke dunia bilamana telah menempuh perjalanan yang maha jauh itu, dan mustahil pula kita bisa menyebutkan berapa banyak rintangan yang akan kita temui. Sabarlah, bertaqwalah kepada Tuhan, karena bila kalian telah sanggup menempuh perjalanan itu kalian akan tetap berada dalam diri kalian buat selama-lamanya.”
“Lembah pertama adalah Lembah Pencarian, kedua Lembah Cinta, ketiga Lembah Pemahaman, keempat Lembah Kebebasan dan Kelepasan, kelima Lembah Kesatuan Sejati, keenam Lembah Ketakjuban dan ketujuh Lembah Kefakiran dan Kefanaan. Di balik itu tak ada lagi apa-apa.”
Mendengar petunjuk yang diberikan Hudhud ini kepala burung-burung tunduk terkulai, dan rasa pilu mulai menekan hati mereka. Sekarang mereka mengerti betapa sukarnya perjalanan itu. Lebih-lebih bagi makhluk seperti mereka yang kecil tak berarti bagaikan busur yang mudah patah bila ditarik terlalu kencang. Mereka diliputi bayangan ajal yang akan mereka temui. Namun burung-burung yang lain, tanpa mengacuhkan penderitaan yang akan mereka alami, akhirnya memutuskan untuk segera berangkat mengarungi jalan yang mahapanjang itu.
Bertahun-tahun lamanya mereka mengarungi gunung dan lembah, dan sebagian besar dari umur mereka dihabiskan dalam perjalanan. Tapi bagaimana mungkin menceritakan seluruh peristiwa dan kejadian yang mereka alami, tanpa mengikuti perjalanan mereka dan melihat dengan mata kepala sendiri kesulitan yang dihadapi burung-burung itu? Marilah kita ikuti perjalanan jauh mereka, dengan demikian kita mengetahui penderitaan mereka.
Pada akhirnya cuma sedikit dari mereka itu yang benar-benar sampai ke tempat yang teramat mulia itu di mana Simurgh membangun mahligainya. Dari ribuan burung yang pergi, hampir semuanya sirna dan lenyap. Banyak yang hilang di lautan; yang lain ada yang mendapat kecelakaan di puncak gunung yang tinggi, dibunuh rasa haus yang tak tertahankan; yang lain lagi sayapnya hangus dan hatinya kering terbakar matahari; sedang yang lain lagi mampus diterkam harimau dan macan tutul; yang lain lagi mati karena teramat lelah di gurun dan hutan yang buas, bibir mereka kering pecah-pecah dan tubuh mereka ludes di telan panas. Beberapa lagi menjadi gila dan saling membunuh satu sama lain memperebutkan butir-butir padi atau jagung; yang lain lunglai oleh derita dan kepayahan, terkapar di jalan, tak sanggup terbang lebih jauh lagi; yang lain kebingungan dan silau melihat benda bermacam-macam yang memikat mata, berhenti di tempat di mana mereka melihat benda itu, terbius; dan banyak pula yang terhenti karena godaan kenikmatan atau keinginan buat mengecap berbagai kepuasan badaniah, sehingga lupa pada cita-citanya semula yang luhur, yaitu menemui rajanya.
Maka di luar ribuan burung yang sirna itu, tinggalah cuma tiga puluh ekor yang berhasil menempuh perjalanan itu. Dan walaupun mereka sampai juga, mereka masih bimbang, takut dan padam semangatnya, tanpa bulu dan sayap sehelai pun yang tinggal.
Kini mereka berdiri di muka gapura istana Simurgh yang tak terlukiskan dan tak terpahami hakekatnya. Itulah Wujud yang tak dapat dicerna akal maupun pengetahuan. Kemudian sinar kepuasan menyala terang di hadapan mereka, dan ratusan kehidupan sirna dalam sekejap mata tersiram oleh cahaya-Nya. Setelah itu mereka melihat ribuan matahari, sinarnya berbeda satu sama lain, beribu-ribu bulan dan bintang yang indah permai, dan semua yang mereka lihat itu membuat mereka merasa takjub dan terpesona bagaikan pusaran atom. Serentak mereka berseru: “O, Kau yang lebih gemilang dari Surya! Matahari padam oleh sinar-Mu dan menjelma atom, bagaimana pulakah dengan kami yang kecil ini? Jauh dan penuh derita perjalanan yang telah kami tempuh, adakah kami akan sia-sia? Kami telah meninggalkan diri kami dan bebas dari belenggu benda-benda dunia, akan gagalkah kami bertemu raja kami? Betapa kecilnya kami di sini dan tak tahu apakah kami ini ada atau tidak.”
Burung-burung yang tak berdaya menyerupai ayam sekarat itu kemudian merasa putus asa. Demikian lama mereka menunggu jawaban. Tiba-tiba dalam sekejap mata pintu pun terbuka dan muncullah sang pengawal istana. Dipandangnya burung-burung itu dan tahulah dia bahwa jumlah mereka tinggal tigapuluh ekor dari ribuan yang bersama-sama melakukan perjalanan.
Pengawal berkata, “Dari manakah kalian datang, o burung-burung? Apa yang kalian lakukan di sini? Siapa saja nama kalian? Betapa sengsaranya kalian, di manakah rumah kalian? Apa yang bisa kalian kerjakan sebagai makhluk yang lemah di tempat ini?”
“Kami datang kemari,” ujar mereka, “buat menghadap raja kami Simurgh. Karena begitu rindu dan cintanya kami kepada baginda, beginilah akhirnya kami kebingungan dan pusing. Dulu ketika kami berangkat jumlah kami ribuan, dan kini kami hanya tinggal tiga puluh ekor. Kami tak yakin raja kami akan memperlakukan kami penuh penghinaan seperti ini, karena perjalanan yang kami tempuh demikian sukar dan penuh penderitaan. Oh, tidak! Baginda harus menyambut kami dan menerima kami dengan penuh kasih sayang!”
Pengawal menjawab, “O, burung-burung yang kebingungan dan kesulitan, apakah kau ada atau tidak, raja tetap ada dan abadi. Ribuan makhluk di dunia tak lebih dari semut di depan gapuranya, apalagi kalian. Kalian kemari tak membawa sesuatu apa pun, kecuali ratap tangis dan sedu sedan. Kembali sajalah kalian ke tempat kalian datang, o makhluk yang hina dina!”
Mendengar itu mereka terkulai dan heran. Sekalipun demikian, setelah berpikir sejenak, mereka berkata lagi, “Apakah baginda akan menolak kami seraya menghina? Dan bilamana demikian memang sikap baginda, tak mungkinkah penghinaannya berubah jadi penghormatan? Majnun pernah berkata “Bila seluruh umat manusia di bumi ini menyanyikan puji-pujian bagiku, aku takkan menerimanya; aku lebih suka penghinaan Leila. Sebuah penghinaan yang diberikan Leila bagiku jauh lebih baik dari ribuan pujian dari perempuan yang lain.”
“Cahaya kebesarannya telah tersingkap,” ujar pengawal. “Dan semua nyawa akan hangus. Bila roh sirna oleh ratusan dukacita, pahala apa yang akan diperoleh? Anugerah apa yang akan kalian terima dalam sekejap ini?”
Terbakar oleh api cinta burung-burung itu berkata, “Bagaimana laron bisa mengelak dari nyala lilin apabila dia ingin menyatu dengan cahaya lilin? Sahabat yang kami cari pasti membuat hati kami senang bilamana kami dikabulkan berkumpul dengannya. Bila kami sekarang ditolak buat berjumpa, apalagi yang harus kami lakukan? Kami laksana laron yang ingin menyatu dengan nyala lilin. Kami mohon bukan lantaran dungu, karena tujuan kami adalah mensucikan diri, dan kami yakin ucapan kami ini akan membuat hatinya senang serta berterima kasih karenanya. Bukankah bagindatelah berkata, barangsiapa yang menyerahkan seluruh hatinya pada nyala apinya, takkan ada kesulitan yang merintangi dirinya?”
Setelah pengawal selesai menguji ketabahan mereka, kemudian pintu itu terbukalah. Sesaat mereka menyingkir ke samping. Kemudian seratus tabir satu persatu tersingkap di hadapan mereka dan tampaklah dunia baru di hadapan mereka. Cahaya dari segala cahaya bersinar terang dan duduklah mereka semua seraya tunduk di hadirat baginda yang mulia. Mereka memperoleh kalam buat mereka baca; dan setelah mereka membaca dan merenunginya dalam-dalam, barulah mereka paham keadaan yang sebenarnya. Hatimereka tenang dan damai, lepas dari segala kesulitan, dan setelah itu barulah mereka menyadari bahwa Simurgh tinggal bersama mereka. Dan kehidupan baru bersama Simurgh telah mereka kecap. Seluruh amal dan perbuatan mereka selama ini lenyap tak berbekas. Matahari kebesaran sang raja memancarkan sinarnya yang gilang-gemilang, dan tiap sinar memantulkan wajah mereka tiga puluh ekor banyaknya (si-murgh) dari dunia luar yang telah terserap Simurgh yang bersemayam dalam diri mereka. Mereka merasa takjub, karena sebelumnya mereka tak menyangka bahwa mereka akan tetap sebagai diri mereka. Akhirnya ketika mereka merenungi dalam-dalam, tahulah bahwa merekalah Simurgh itu sendiri dan bahwa Simurgh artinya tiga puluh ekor burung. Ketika mereka menatap Simurgh mereka lihat bahwa Simurgh benar-benar yang ada dihadapan mereka, dan bilamana mereka mengalihkan mata mereka sendiri adalah Simurgh. Dan bilamana keduanya saling memandang, diri mereka dan Dia, tahulah mereka bahwa mereka dan Simurgh adalah satu dan wujud yang sama jua. Hal ini tak pernah mereka dengar sebelumnya.
Kemudian mereka tafakkur dan tak lama sesudah itu mereka mohon kepada Simurgh tanpa menggunakan lidah, agar mewahyukan kepada mereka rahasia kesatuan dan kepelbagaian wujud. Simurgh, pun tanpa mengucapkan sepatah kata, menjawab: “Matahari kebesaranku adalah sebuah cermin. Dia yang melihat dirinya sendiri akan melihat jiwa dan tubuhnya, dan akan melihatnya dengan sempurna. Karna kalian datang sebanyak tigapuluh ekor, si-murgh, maka kalian akan melihat tigapuluh ekor burung dalam cermin ini. Bila empat puluh atau lima puluh ekor yang datang, yang akan kau lihat sama. Walaupun sekarang kalian benar-benar mengalami perubahan, kalian lihat diri kalian sendiri tetap sebagaimana diri kalian sebelum ini.
“Dapatkah penglihatan seekor semut mencapai bintang Soraya yang jauh? Dan dapatkah serangga kecil ini mengangkat tempat pijaknya? Pernah kau lihat seekor nyamuk mengangkat seekor gajah dengan giginya? Segala yang kau ketahui, segala yang telah kau lihat, segala yang telah kau katakan atau kau dengar – semua ini bukan itu lagi. Bilamana kalian telah menyeberangi lembah jalan kerohanian dan bilamana kalian telah memenuhi kewajiban dengan baik, kalian akan menjadi seperti ini berkat tindakanku; dan kalian sanggup melihat lembah hakikat dan kesempurnaanku. Kalian, yang jumlahnya tiga puluh ekor, takjub, tercengang dan kagum. Tapi aku lebih dari tiga puluh ekor burung. Aku adalah hakekat yang sesungguhnya dari Simurgh yang sebenarnya. Leburkan diri kalian dengan bangga dan penuh sukacita ke dalam aku, dan di dalam aku kalian akan menemukan diri kalian.”
Setelah itu burung-burung itupun sirna buat selama-lamanya di dalam Simurgh – bayang-bayangnya musnah ditelan sang matahari, dan khatam.
Apa yang kau dengar semua ini atau apa yang kau lihat dan kau ketahui bukan awal dari segala yang harus kau ketahui, dan puing-puing kehidupan di dunia ini bukanlah tempat tinggal yang harus kau rindukan. Carilah batang pohon, dan jangan khawatir apakah cabang-cabangnya itu ada atau tidak.
Ribuan generasi telah lewat. Burung-burung yang baka itu telah pasrah meleburkan dirinya dalam kefanaan. Tak seorang pun, tua atau muda, bisa menguraikan dengan tepat apa yang disebut baka dan mati itu. Seperti bilamana segala peristiwa jauh dari mata kita, bagaimana mungkin kita menguraikannya? Bila pembaca ingin penjelasan lebih jauh dengan amsal-amsal mengenai kebakaan yang terjadi setelah fana, aku akan menulis buku yang lain. Selama kita terbelenggu oleh benda-benda dunia, kita takkan sampai ke Jalan itu. Namun bilamana dunia tak lagi membelenggu, kau akan sampai seakan-akan memasuki dunia mimpi, dan akhirnya akan tahu bahwa kau mendapatkan rahmat yang tak terkira. Janin insan terpelihara dengan baik hanya oleh cinta dan kasih sayang sehingga kelak bisa menjadi orang yang pandai dan saleh. Pengetahuan inilah yang harus dituntut orang. Kemudian ajal datang dan segala yang kau miliki lenyap, tenggelam. Sehabis itu kau jadi debu jalanan. Berkali-kali seseorang itu fana; tapi bila orang berhasil mengetahui rahasia-rahasia kehidupan yang hakiki, akhirnya ia akan menerima kebakaan, dan akan mendapatkan kehormatan dalam keadaan hina. Tahukan kau apa yang kau miliki? Masuklah ke dalam dirimu dan bercerminlah! Selama kau tak paham akan ketiadaanmu, dan selama kau tak menyadari kebanggaan semu, kesombongan dan cintamu yang berlebih-lebihan pada dirimu sendiri, selama itu pula kau takkan mencapai puncak kebakaan. Di Jalan itu kau akan terjerumus dalam kehinaan, namun kemudian bangun penuh kehormatan.


Blog EntryPas Foto Wajah TuhanJul 10, '07 10:03 PM
for everyone

Ada seorang anak balita yang sedang asyik bermain-main bertanya kepada Bapaknya..

“Ayah, bagaimana sich.. Wajah Tuhan itu?” sambil terus asyik memainkan permainannya.

Baru saja Sang ayah berfikir, kakaknya yang sudah mendapatkan pelajaran agama di Sekolah Dasar (SD) menyeletuk “Kalau Wajah Tuhan itu tidak kelihatan, dan berbeda dengan manusia...”

“Jadi Wajah Tuhan itu seperti pocong,... ayah?”, demikian kesimpulan sederhana yang dianalisa oleh anak balita itu, setelah memperhatikan dua premis sebelumnya. Kesimpulan asal jadi khas anak-anak yang boleh jadi karena pengaruh tontonan tayangan televisi yang marak menayangkan hantu atau misteri.

Sang ayah terkesima dengan pertanyaan yang mudah itu tetapi sulit menjawabnya.

Sang ayah berfikir keras, kenapa Tuhannya itu sulit dijelaskan kepada puteranya? Kenapa Tuhan pilihan agamanya ini tidak ada fotonya, tidak ada videonya seperti kebanyakan tuhan yang dianut oleh beragam agama?

??!@?()_??????..., berjuta tanda tanya hadir dalam fikirannya, berkecamuk, dan membuatnya tak bisa tidur! Padahal tidak ada nyamuk.

-oVo-


Sang Ayah tentu saja sulit menjelaskan tentang Wajah Tuhan ataupun Wujud Tuhan, karena Wujud Tuhan yang Absolut berada jauh dari pengalaman dan pengetahuan manusia, sementara harapannya bisa mengungkapkan misteri ini dengan logika, atau metode ilmiah yang pernah dia peroleh di bangku kuliah.

Contohnya seperti kita saja yang saat ini tengah berada di ruangan, di atas kita ada langit-langit atau atap, di atas langit-langit ada lapisan lain atmosfir dan berbagai lapisan langit lainnya yang tak terbatas atau ambang limit. Ambang limit ini adalah ungkapan kesempurnaan yang tak terbatas, harapan ingin menguak misteri ambang limit ini adalah keingingan lepasnya manusia dari kungkungan keterbatasan dirinya.

Andaikan manusia mampu memasuki ambang batas ini maka ia akan tertelan dalam Kekosongan, jati diri keberadaanya akan lenyap dalam keterbatasan. Pada saat itu, sesuatu memudah dan tak mampu lagi didefinisikan dengan kata-kata (fana).

Kenapa sang ayah tak mampu menguraikan jawabannya? Karena bahasa sebagai hasil pengalaman manusia tidak akan mampu menangkap Ketakterbatasan, karena bertentangan dengan kodrat penalaran manusia yang selalu cenderung mengurai, mendefinisikan dan membatasi. Tentunya sangatlah wajar apabila sesuatu yang tak terurai, tak terungkap dan tak terbatas itu tak mungkin tercerap oleh perangkat pengetahuan dan pengalaman manusia. Tuhan atau Sang Wujud itu berada di luar definisi, ia hanya bisa dibayangkan, disembah, diumpamakan, dipuji, diagungkan dan diimani.

Rosulullah SAW pernah bersabda bahwa sangat banyak hijab atau tirai yang menyelimutinya “Sesungguhnya pada Allah terdapat tujuh puluh ribu hijab dari cahaya dan kegelapan.” Jadi sangat sulit membahas Wajah Allah kecuali dengan meminta kepadaNya untuk memperkenalkan Diri Nya. Di dalam agama lah hal-hal yang menyangkut keagamaan itu diungkap. Melalui wahyu Ilahi yang sudah diterjemahkan oleh Rosul dalam bahasa manusia, sehingga manusia bisa memahaminya melalui perumpamaan (mitsal), tanda (ayat). Dengan cara inilah Sang Mutlak bisa kita sapa, kita seru, kita ingat, kita hadirkan dalam Qalbu.

Lalu bagaimana kalau sang ayah, mencoba memaksakan menalarkan tentang Realitas Mutlak? Kalau diumpamakan, contohnya itu seperti memandang matahari. Walaupun kelihatan dari kejauhan, dan nampaknya bisa dicerap karena terangnya tapi apabila mata ini dipejamkan maka gelaplah yang didapat, apabila dipaksakan maka kebutaanpun bisa menghinggapi mata kita karena tak mampu menahan silaunya.

Jadi, memahami Wajah Allah, cukuplah memperhatikan ciptannya (alam), sehingga kita memahami Pengetahuan-Nya (ilmu) atau tanda-tandanya (alamat). Karena alam adalah pertanda, maka banyak tanda-tanda pada alam (alamin) sehingga perwujudannya banyak alam di dunia ini, alam air, alam udara, alam benda, alam maya dan lain-lainnya seperti yang disebut dalam kitab suci Al Quran, dan biasa kita ucapkan dalam keseharian “Alhamdulillahi Robbul Alamin”, Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam”. (QS. Al Fatihah:2).

Salam,

http://ferrydjajaprana.multiply.com


Suatu ketika, Nabi Ibrahim AS tumbuh dikalangan kaum penyembah berhala. Dia berusaha untuk menemukan Tuhan. Dia memandang pada bintang-bintang yang paling terang dan berkata, “Engkau adalah Tuhanku.” Lalu bulan purnama muncul. Ia jauh lebih besar dan lebih terang daripada bintang-bintang yang ada. Ibrahim memandang bulan dan berkata, “Engkau adalah Tuhanku.” Kemudian matahari terbit; rembulan dan bintang-bintang menghilang. Ibrahim berkata, “Engkau adalah yang terbesar, Engkau adalah Tuhanku.” Kemudian malam tiba, dan matahari menghilang.

Ibrahim berkata, “Tuhanku adalah Dia yang mengubah segala sesuatu dan mengembalikannya kembali. Tuhanku adalah Dia yang berada dibalik segala perubahan.”


Nabi Ibrahim AS takjub atas alam sekitarnya ketika ia betapa di gurun pasir. Memang dalam banyak kisah-kisah Nabi, semuanya berawal dari kontemplasi, entah itu kontemplasi kepada alam, atau hal apa pun untuk berusaha mencari hakikat realitas di balik segala sesuatu. Al-Quran menjelaskannya dengan sangat indah:

"Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin." (QS 6:75).

Ketika Nabi Ibrahim sedang berkontemplasi di bawah luasnya cakrawala langit malam yang di taburi bintang-bintang, muncul sebuah bintang yang terang. Dalam penglihatan visi nabi, bintang yang terang ini adalah lambang/simbol atau manifestasi Kemegahan Allah. Ketika nabi berkontemplasi pada bintang yang terang ini, lalu bintang ini hilang ditelan terangnya cahaya bulan. keadaan ini di gambarkan oleh Al-Quran:

"Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam." (QS 6: 76)

Kemudian bulan dengan bentuk dan cahayanya yang indah di lihat oleh batin nabi sebagai lambang/simbol atau manifestasi Keindahan Allah. Al-Quran menggambarkanya

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku." Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat." (QS 6: 77).

Nabi menyadari bahwa manifestasi Kemegahan Allah pada bintang-bintang bukanlah sebuah akhir karena ia bisa tergantikan oleh manifestasi Keindahan Allah pada bulan. Kontemplasi Nabi terhenti setelah ia menyaksikan bintang dan bulan pun hilang setelah waktu berjalan. Nabi merasakan bahwa apa yang ia lihat sebelumnya bukanlah sebuah akhir karena ia bisa di gantikan oleh manifestasi lainnya. Kemudian nabi berdoa kepada Allah agar Allah menghantarkan beliau lebih jauh lagi melampaui manifestasi Kemegahan dan KeindahanNya sebagaimana doanya pada ayat di atas "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat".

Setelah terus hening dalam kontemplasi, akhirnya matahari terbit. Matahari ini di lihat batin Nabi sebagai lambang/simbol atau manifestasi Kebesaran Allah. "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar" kata Nabi Ibrahim AS. Sepanjang siang Nabi berkontemplasi pada Kebesaran Allah, tetapi akhirnya matahari ini pun terbenam. Pada saat matahari tenggelam inilah Nabi TERCERAHKAN, Beliau tercerahkan dan menyadari hakikat segala sesuatu, beliau menyadari bahwa manifestasi bukanlah sebuah ujung. Ketika matahari terbenam, beliau menyadari bahwa ujung dari sebuah ujung, akhir dari sebuah akhir, seluruh manifestasi berakhir kepada sebuah esensi yaitu esensi Tunggal Sang Ilahi....ALLAH SWT. Dan Nabi berkata "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan". Keadaan ini di gambarkan oleh Al-Quran

"Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar." Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan." (QS 6:78).

Sungguh kontemplasi yang sangat dalam, semoga kita bisa mengambil hikmah yang terkandung di dalamnya. Alhamdulillah, memang segala sesuatu adalah pelajaran dariNya. Semoga Allah Swt tetap mengikat kita dalam cahaya-cahaya cinta dan kasih sayangNya. Semoga RahmatNya membimbing kita menujuNya. amin.

*untuk cerita selanjutnya, setelah tercerahkan barulah Nabi memulai dakwahnya. Dakwah ini di sebutkan oleh Al-Quran pada ayat seterusnya yaitu ayat 79-83 . (Dimas Tandayu)


-o0o-


Pada tulisan di atas ada 'black box' tentang bagaimana proses pencerahan itu terjadi. Saya mencoba membukanya dengan meminjam teori filsafat Mulla Shadra melalui kitab karangannya Hikmat al-Muta'aliyah (hikmat transendental) yang lebih dikenal dengan al-asfar al-arba'ah (empat perjalanan). Empat perjalanan yang dimaksud oleh Mulla Shadra dikemukakan dalam al-asfar al-arba'ah sebagai berikut: pertama perjalanan dari makhluk menuju Tuhan, di cerita tentang Nabi Ibrahim dikisahkan bagaimana Ibrahim mencari Tuhannya.

Ke dua perjalanan menuju Tuhan melalui bimbingan Tuhan, adalah hanya berdasarkan petunjuk Tuhanlah Ibrahim berkontemplasi untuk mendapatkan pencerahan.

Ke tiga perjalanan dari Tuhan menuju makhluk melalui bimbingan Tuhan. Nabi Ibrahim mulai mendaptkan mendapatkan wahyu oleh Tuhan. dan yang terakhir adalah perjalanan di dalam makhluk melalui bimbingan Tuhan, Nabi Ibrahim AS mulai mendapatkan tugas untuk memberikan pencerahan kepada umat di zaman nya.

Mulla Shadra, figur mazhab Ishfihan, dengan pengalaman mistis-eksotatik nya, menganggap iluminasi dan wahyu sebagai sumber vital pengetahuan disamping penggunaan rasio. Menurut Mulla Shadra, secara umum, memperoleh ilmu pengetahuan melalui dua metode, yaitu metode Hushuli dan metode Hudhuri. Metode hushuli ialah metode memperoleh ilmu melalui upaya sengaja, sesuai alat yang digunakan manusia. Metode ini dibagi lagi menjadi dua macam, yaitu wahyu (naqly) dan akal (`aqly).

Sedangkan metode hudhuri ialah metode memperoleh ilmu dengan cara perenungan dan penghayatan terhadap sebuah obyek, sehingga ia hadir dalam kesadaran seseorang tanpa abstraksi rasional. Metode ini adalah bagaimana hati (qalb) ditempelkan dengan obyek (ma'qul). Konsep hudhuri Mulla Shadra adalah kemampuan manusia menangkap totalitas wujud, baik materi maupun maknanya, yang diperoleh melalui mukasyafah dan musyahadah dengan kesadaran penuh manusia setelah memperoleh cahaya dari Tuhan. Mulla Shadra mensintesiskan kedua metode di atas.

Demikian barangkali teori bagaimana proses Nabi Ibrahim AS mendapatkan wahyunya yang saya ungkap dengan teori yang diberikan Mulla Shadra. Wallahu A'lam Bissawab.


Salam,

Http://ferrydjajaprana.multiply.com

 


Blog EntryMenggambar Haramkah? (Seri 4, terakhir)Jun 7, '07 6:21 AM
for everyone
 

Seri 4:


An Nubuwah dan Ar Risalah


Asumsi bahwa Islam selalu sesuai dengan setiap ruang dan waktu (Al Islam Salih li kuli zaman wa makan) adalah pijakan Syahrur untuk melakukan konstruksi baru dalam pemikiran ke Islaman. Problematika peradaban dan fiqih Islam terkait dengan pemahaman umatnya secara mayoritas terhadap misi nabi Muhammad SAW, dapat dibedakan menjadi dua, yaitu An Nubuwah dan Ar Risalah. Terabaikannya pemilahan ke dua hal ini mengakibatkan Islam menjadi agama yang tertutup, kaku dan tidak dinamis. Akibatnya masyarakat kontemporer cenderung memilih produk hukum di luar pemikiran Islam, artinya tidak sesuai dengan Islam yang selalu sesuai dengan ruang dan waktu.


AnNubuwah dapat dipahami sebagai akumulasi pengetahuan yang diwahyukan kepada Muhammad SAW yang memposisikannya sebagai nabi. Konsep ini mencakup seluruh informasi dan pengetahuan ilmiah yang tertera dalam al Kitab, dan sekaligus membedakan dari hal yang hak dan yang bathil atau antara kebenaran realitas (hakikat) dan praduga semata (wahm), jadi nubuwah identik dengan ilmu pengetahuan sedangkan risalah, merupakan kumpulan penetapan hukum yang disampaikan kepada Muhammad sebagai pelengkap bagi pengetahuan yang telah diwahyukan. Arrisalah menempatkan posisi Muhammad sebagai Rosul, sementara AnNubuwah menetapkan Muhammad sebagai Nabi. ArRisalah identik dengan hukum. DAri pengertian ini bisa diperoleh gambaran bahwa teori eksistensi alam semesta, manusia dan tafsir sejarah merupakan bagian Nubuwah dan sekaligus sebagai ayat mutasyabihat. Adapun mengenai hukum yang terdiri dari masalah waris, dan ibadah, moralitas universal, muamalah, hukum-hukum perdata, dan larangan-larangan merupakan kategori ar Risalah, yang semuanya itu adalah ayat muhkamat yang memilah antara yang halal dan haram.


Dalil dari Ayat Al Quran Untuk Teori Batas


Menurut Syahrur konsep dasarnya dalam menyusun teori batas adalah pada Surat AnNisa ayat 13-14. “(Hukum-hukum tersebut adalah ketentuan dari Allah) adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barang siapa taat kepada Allah dan rosul-Nya, niscaya Allah memasukkan ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rosul-Nya serta melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam api neraka, sedangkan ia kekal di dalmnya, dan baginya siksa yang mengjinakan”.


Syahrur mencermati penggalan ayat “tilka hudud Allah” yang menegaskan bahwa pihak yang memiliki otoritas untuk menetapkan batasan-batasn hukum adalah Allah semata. Dia berpendapat bahwa otoritas penetapan hukum hanya dimiliki oleh Allah, sedangkan Muhammad walaupun sebagai orang Nabi dan juga Rosul, pada hakikatnya adalah bukan penetu hukum yang memiliki otoritas penuh (asysyari). Muhammad adalah pelopor ijtihad di dalam Islam. Pendapat ini berlandaskan pada pemahaman penggalan ayat setelahnya “wa yata’adda hududahu”, yang berarti “dan melanggar batas ketetapan hukum-Nya”. Kata ganti (damir) “hu” pada penggalan ayat di atas menunjukkan kepada Allah saja, dan penggalan ayat secara lengkap akan lebih menegaskan pemahaman ini :


“ Dan barang siapa yang bermaksiat kepada Allah dan kepada Rosulnya, serta melanggar batas-batas ketetapan hukum-Nya”.


Ayat iniharus dipahami bahwa otoritas penetapan hukum hanya kepada Allah saja, senadainya Nabi Muhammad berhak atau memiliki otoritas tasyri tentulah ayat itu akan berbunyi “wa yatta adda hududahuma”, yang artinya “dan melanggar batas-batas penetapan hukum keduanya (Allah dan Rosul-Nya).”


Kesimpulan:


Dengan demikian haruslah dipahami bahwa ketetapan hukum yang bersumber dari Nabi tidak semuanya identik dengan penetapan hukum dari Allah. Hukum yang ditetapkan oleh Nabi lebih bersifat temporal-kondisional sesuai dengan derajat pemahaman, nalar zaman, dan peradaban masyarakat waktu itu, maka ketetapan hukum itu tidak bersifat mengikat hingga akhir zaman.


Disinilah menurut Syahrur, letak keutamaan Muhammad sebagai Nabi. Beliau adalah uswatun hasanah dalam pengertian teladan dalam berijtihad dan penerapannya.


Syahrur mengajukan motivasi kepada para cendekiawan muslim untuk tidak ragu untuk berijtihad meskipun masalah-masalah hukum tersebut telah diklaim memiliki justifikasi nas hadis Nabi. Bagi Syahrur kondisi masyarakat yang dinamis dan selalu berubah sesuai tuntutan situasi dan kondisi yang dilatar belakangikemajuan ilmu pengetahuan, merupakan alasan utama pemberlakuan ijtihad.


Dengan mempertimbangkan alasan-alasan yang telah dikemukakan diatas maka saya berijtihad bahwa menggambar mahluk hidup adalah boleh.



Salam,

http://ferrydjajaprana.multiply.com



Blog EntryMujizat Dan KaramahMay 24, '07 9:34 PM
for everyone

Kata karamah (karomah) sering dihubung-hubungkan dengan makam keramat para Waliullah. Sehingga sering kita jumpai para pengunjung makam wali selalu mengharapkan karamah para wali. Lalu apa sebenarnya karamah itu?

Karamah artinya kemuliaan. Kekuatan spiritual yang diberikan kepada para wali. Ini merupakan bagian dari pada mujizat (keajaiban). Biasanya orang membedakan karamah dengan mujizat adalah pada derajatnya, karamah diberikan kepada para wali, sementara itu kalau mujizat diberikan kepada nabi atau rosul disebut mujizat.

Kata karamah menunjukkan sesuatu yang kuar biasa dan tak terlukiskan. Anugerah yang paling besar adalah pengetahuan tentang Allah.

Menurut Syeikh Al Hadad, orang yang mengingkari karamah para wali, sebagaimana yang tertulis dalam kitab Latha’if Al Minan, karya Syeikh Abu Turab An Nasksyabi, merupakan kufur nikmat. Karamah adalah termasuk bagian dari mujizat para nabi. Alasannya, sifat mujizat adalah otonom, sementara itu sifat karamah adalah taba’iyah artinya kalau mujizat itu menunjukkan kebenaran seorang rosul, sedangkan karomah merujuk kepada kejujuran mengikuti syariat rosul tersebut.

Al Qaysari, ketika menjelaskan Fushus Al Hikam karangan Ibn Arabi, menjelaskan lebih teknis walaupun masih senada. Extra ordinary atau kharq Al adat yang diberikan kepada para awliya (wali) adalah karamah, sementara itu kalau diberikan kepada para anbiya’ dinamakan al-mujizat.

Keadaan luar biasa atau keajaiban adalah merupakan efek takdir, dia berasal dari penetapan Ilahi, yang selaras dengan sunatullah, karena dalam kharq al adat tujuan utamanya adalah memanifestasikan Kudrat Ilahi. Takdir Ilahi adalah penetapan di al hadrat al Ilmiyyah, artinya berasal dari penetapan Ilahi. Yang termasuk dalam takdir Ilahi ini adalah qadha dan qadhar Ilahi.

Lalu bagaimana dengan fenomena dukun atau ahli sihir?

Masih menurut Al Qaysari, terkadang khawariq al adat bisa terjadi kepada yang bukan wali atau nabi, mereka adalah orang yang berjiwa kuat (al nufus al qawiyyah) dari asli fitrahnya. Mereka memiliki isti’dad yang lengkap, sehingga dengan persedian sedikit sudah ‘bisa nyambung’ dengan wujud al-malakut dan alam kudrat. Mereka akan menjadi nara sumber yang ghaib dan ajaib. Ada dua golongan jiwa, pertama yang berjiwa baik dan buruk. Golongan pertama jika sampai ke maqam al wilayah, akan menjadi wali, tetapi jika tidak, mereka hanyalah menjadi orang soleh yang mukmin. Yang kedua adalah yang berjiwa jahat dan ahli sihir. Ke dua golongan ini memiliki kekuatan untuk ada di alam ini.

Jika semua faktor-faktor dan sebab-sebab yang mendukung telah terwujud, maka mereka bisa menguasai alam. Dan dari mereka ada yang menjadi tonggak pada zamannya dalam kekuasaan lahiriyah.


Salam,

http://ferrydjajaprana.multiply.com


Blog EntryMembahas Sifat AllahMay 22, '07 11:13 PM
for everyone
Ada pertanyaan sekitar siffat Allah, khususnya Ar Rachman dan Ar Rachim, kenapa digolongkan pada Asmaul Khusna (99 Nama Terbaik), bukan sifat wajib 20?

Ar Rachman dan Ar Rahim adalah nama Allah, kita biasa menyebutnya dengan Asmaul Husna (99 Nama), bukan sifat Allah Yang 20.

Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai asmaaulhusna (nama-nama yang baik)." - (Q.S. Thaa-Haa : 8)

Sifat wajib Allah yang wajib diketahui  ada 20. 
Sifatnya: wujud, qidam, baqa', mukhalafatuhu lilhawadith, qiamuhu binafsih, sama', basar, kalam, kaunuhu sami'an, kaunuhu basiran, kaunuhu mutakalliman,wahdaniat, qudrat, iradat, ilmu, hayat, kaunuhu qadiran, kaunuhu muridan, kaunuhu hayyan.

Selain itu ada juga Sifat Yang Harus (Jaiz). Kalau diamati sifat-sifat Allah yang diatas adalah sifat yang bisa dikenal oleh manusia. Allah adalah Dzat Yang Mutlak, karena Allah ingin dikenal makan Allah ber tajalli, menciptakan alam ini. Jallaludin Rumi pernah menggambarkan melalui syair puitisnya, yang mengibaratkan (misal) Tuhan itu seperti Wortel yang tertanam masuk ke bumi, maka yang dikenal/terlihat oleh mata manusia adalah daun-daunan wortel, dan yang diperkenalkan kepada manusia adalah sifat-sifat yang bisa dicerap oleh nalar/otak kita.

Salah satu Asma lainnya yaitu Bathin, artinya gaib, disini saja manusia sudah tidak mampu menalarnya.

Disinilah para ahli Tasawuf, mencoba menalarkannya, alih-alih memberi penjelasan yang didapat justru semakin jauh dari kebenaran hakiki, bukankah dengan penjelasan yang bisa dinalarkan membuat Allah Yang Ghaib itu ternalar, dus sebenarnya malah menjauh dari kehakikian itu.

Ingat ada ayat yang menjelaskan bahwa Tuhan itu seperti prasangka hamba-Nya, artinya memahami sifat Allah itu sesuai dengan derajat mahluknya, jangan memaksa Allah dengan hanya sifat wajib ini karena justru akan 'memanusiakan' Tuhan.

Lalu, jika sifat-sifat Allah yang 20 adalah sifat yang bisa dikenal oleh manusia, sekali lagi, apakah Ar-Rohman dan Ar-Rohim tidak dikenal sebagai sifat? bukan kah makna Ar-Rohman adalah Penyayang, dan Ar-Rohim adalah Pengasih. Sayang dan kasih itu kan lebih dekat pengertiannya kepada sifat bukan nama?
Manusia itu terjebak ruang dan waktu, sementara Tuhan itu tidak. Secara epistemologi kalau  sifat didefinisikan maknanya adalah subject ditambah predikat, artinya menggabungkan tambahan predikat untuk menjelaskan si subjek. Contoh : Bola Kuning, Esensi = Bola, Sifat Kuning. Kita memahami Bola secara universal, bentuknya bulat. Tetapi apabila disebut bola kuning, maka kita segera tahu bola mana yang dimaksud, karena masing-masing bola memiliki sifatnya sendiri, inilah persepsi inderawi.

Tuhan adalah tunggal, esensinya tidak sama dengan manusia. Sifat Allah itu berbeda dengan makhluknya. Sifat Allah artinya adalah mengakui bahwa Zat dan Sifat-sifat Allah identik, dan bahwa berbagai Sifat-Nya tidak terpisah satu sama lain. Tauhid Zat artinya adalah menafikan adanya apa pun yang seperti Allah, dan Tauhid Sifat-sifat-Nya artinya adalah menafikan adanya pluralitas di dalam Zat-Nya. Allah memiliki segala sifat yang menunjukkan kesempurnaan, keperkasaan dan ke-indahan, namun dalam Sifat-sifat-Nya tak ada segi yang benar-benar terpisah dari-Nya. Keterpisahan zat dari sifat-sifat dan keterpisahan sifat-sifat dari satu sama lain merupakan ciri khas keterbatasan eksistensi, dan tak mungkin terjadi pada eksistensi yang tak terbatas. Pluralitas, perpaduan dan keterpisahan zat dan sifat-sifat tak mungkin terjadi pada Wujud Mutlak.

Jadi jelas, predikat sifat pada manusia adalah nempel dan plural, sementara sifat Allah melebur kepada ketunggalan-Nya. Ingat "Laisa Kamitslihi Syaiun", Allah tidak sama dengan ciptaan-Nya.

Nah, dari pendapat-pendapat ini, apakah memang qur'an mengharuskan kita wajib mengenal sifat2 ini atau cukup dari Amaul Husna saja..? Tentu saja tidak, yang wajib adalah skala minimal, kalau anda cukup dengan yang wajib maka kewajiban telah gugur. Dimana ada suatu kewajiban disitu ada nilai tambah, bahasa fiqihnya sunah. Bagi kalangan penempuh jalan menuju Al Haq, mereka menempuh pemahaman ketuhanan dari sudut mutasyabihat, ilmu kewalian, mendekat terus ke Dzat Nya, sehingga terkuak Esensi Dzat Wujudnya Yang Hakiki. Dzat yang sama sekali berbeda... (opo tumon???). Ingat teori degradasi dalam mahluk, masing-masing mahluk itu unik secara hakiki, dan derajatnya pun unik.


Salam,
Http://ferrydjajaprana.multiply.com

COMMENTS :

Wah, sebenarnya nama Allah itu banyak. Yang 99 itu yang diperkenalkan secara resmi di AQ dan hadits. Kalaupun ada orang yang membatasi dengan jumlah segini atau segitu mungkin dalam konteks keilmuan saja (sekedar wacana).

Mengenai Ismu Azhom memang sampai sekarang masih menjadi misteri . Ibnu Arabi, kalau saya nggak salah baca, di salah satu bukunya pernah menyimpulkan kalau nama itu ya "Allah" sebagai Ism Azhom, lalu ada juga yang mengatakannya "Allah, al-Rahmaan, al-Rahiim" itu Ism Azhom.

Baru2 ini, di salah satu buku novel (mencari nama ke-100 atau apa ya lufa nih judul pastinya) , nama itu disebutkan di QS 87:1 dimana disitu disebutkan "Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi". Nah menurut novel tersebut (kalau nggak salah novel ini diterjemahkan oleh Serambi) nama yang ke-seratus itu secara historis muncul menjadi ide Izm Azhom DARI qs 87:1 itu. Tapi memang benar sih nampaknya yang dimaksudkan Qs 87:1 maupun kalimat Basmalah satu sama lain berkaitan.

Ini hanya masih dugaan saja lho, dari kodefikasinya nama tersebut tersembunyi di QS 7 yang sebenarnya ada 2 yaitu ayat ke 8 nya mulai dari Ghairil.....Jadi, Ism azhom tersembunyi diawal surat yaitu disekitar huruf Ba dikalimat Basmalah dan QS 1:7(8)


Blog EntryIlmu Mukasyafah (2)May 22, '07 9:15 PM
for everyone

Yang dimaksud kasyf menurut Al Ghazali adalah metode pengetahuan melalui sarana kalbu yang bening, atau pemahaman intuitif langsung. kasyf (iluminasi) adalah apa yang tadinya tertutup bagi manusia, atau tersingkap bagi seseorang seakan ia melihat dengan matanya. Dengan demikian pengetahuan itu diperoleh dari sumbernya secara langsung, bukan melalui fikiran atau belajar.

Mukasyafah adalah tersingkapnya tabir yang menjadi kesenjangan antara sufi dengan Allah. Kesenjangan tersebut adalah jarak antara mahluk dengan khaliknya.

Sementara itu Kasyf menurut Qaysari adalah penyingkapan hijab. Secara terminologis, kasyf adalah mengetahui makna yang tersembunyi dan realitas dibalik hijab secara wujud.

Penyingkapan-penyingkapan itu sebenarnya merupakan Tajali Nama yang mengurusinya. Dan semuanya berada di bawah Nama Al-Alim.

Adapun yang berkaitan dengan duniawi, seperti dalam praktek memberitakan kejadian-kejadian duniawi yang akan terjadi, termasuk dalam kasf Al Suri, kasyf ini disebut kasy Ruhbaniyyah, karena mereka mengetahui hal-hal gaib melalui riyadah dan mujahidah mereka.

Tetapi para ahli suluk beranggapan bahwa hal itu sebagai al istidraj, yaitu kemunduran derajat, bahkan mereka tidak menanggapinya, karena tujuan mereka adalah fana’ fi l-Lah dan Baqa bil-Lah.

Menurut Al Qaysari, sumber mukasyafah adalah al qalb al insani dan intelek amalinya yang bercahaya yang menggunakan indera ruhaniyah. Karena qalbu manusia memiliki penglihatan, pendengaran dan sebagainya. Sebagaimana diisyaratkan Allah dalam firmannya :

“Maka sesungguhnya tidak buta matanya, tetapi yang buta adalah hatinya yang ada di dalam dada”. Dan “Allah telah menutup keatas hati mereka dan pendengarannya dan penglihatan mereka dengan tirai.”

Dan indra ruhaniyyah ini adalah bathin indera jasmani. Ketika tersingkap hijab dimensi ruhani dan dimensi kongkrit maka akan menyatu indera ruhaniyah dan indera jasmaniyahnya. Dan dia akan mempersepsikan dengan indera ruhanniyahnya. Ruh akan menyaksikan semuanya secara esensial, karena hakikat yang ada akan menyatu dengan ruh dalam martabatnya dengan keberadaan yang lengkap dan seluruh hakikat terpadu di dalamnya.


Salam,

Http ://ferrydjajaprana.multiply.com


Blog EntryMencari Muara Ajaran Syekh Siti JenarMay 20, '07 9:37 PM
for everyone

Catatan Pinggir Ferry Djajaprana Dari Ajang Diskusi

Syekh Siti Jenar (SSJ) adalah nama yang tak pernah lekang. Ungkapan itu tidaklah berlebihan, apabila kita mau mencari buku-buku, maupun babad yang pernah diterbitkan. Kepopuleran SSJ di masyarakat setingkat dengan kepopuleran Wali Songo, hanya saja ajaran SSJ dianggap ‘sesat’ lantaran ajaran ‘Manunggaling Kawula Gusti’ (MKG) atau dalam bahasa Arabnya Wahdatul Wujudnya telah melawan syariat agama Islam. Betulkah demikian? Lalu dari mana ajaran SSJ itu bermula?

Tulisan ini hanya akan mendeteksi kesinambungan ajaran MKG bahwa ajaran itu merupakan pengaruh dari ajaran Al Hallaj maupun Ibn Arabi.

SSJ lahir di Cirebon, Jawa Barat. Ia putera seorang raja pendeta. Ayahnya bernama Resi Bungsu 1).( Prof. Dr. Abdul Munir Mulkan, SU, Makrifat Siti Jenar, Grafindo, Jakarta,2005)

Nama asli SSJ adalah Ali Hasan alias Abdul Jalil. Mengenai tahun kelahirannya sulit terlacak.

Menurut Agus Sunyoto, pengarang ‘Suluk Malang Sungsang SSJ’, dalam suatu diskusi tentang SSJ menjelaskan bahwa Tarikat Akmaliyah meyakini bahwa guru mereka yang bernama SSJ, memang benar berasal dari Cirebon.

Ada yang unik dalam pengajaran SSJ, karena tidak lazim pengajaran suatu tarikat mengajarkan dua pengetahuan sekaligus, yaitu Qalb dan Aql. Aql adalah pengetahuan analitis yang bertolak dari akal, atau penalaran. Sementara Qalb, seperti umumnya diajarkan pada tarekat-tarekat adalah pengetahuan yang didapat dari intuisi supra-rasional berbagai Realitas Transenden yang berhubungan dengan manusia. Pengetahuan ini bersifat normatif dan nonmaterialistik. Pengetahuan ini berasal dari ‘pengalaman langsung’ yang terkait dengan dzauq (rasa). Ilmu pengetahuan ini dibangun dan dikembangkan di atas tradisi para penempuh jalan ruhani dalam menuju Allah.

SSJ mengajarkan Sasahidan, yaitu faham mistik yang sering dihubungkan dengan ajaran ‘manunggaling kawula-gusti, jumbuhing kawula-gusti, sangkan paraning dumadi yang secara keliru dikaitkan dengan ajaran ittihad, hulul, wahdat al-wujud, istighraq tang panteistik. Padahal ajaran Sasahidan yang disampaikan SSJ adalah faham mistik yang tidak sederhana didefinisan dengan panteistik, monistik dan pantaestik sekaligus jika didefiniskan secara umum.

Di dalam Sasahidan, SSJ mengajarkan Tuhan sebagai Dzat Wajibul Wujud yang ingin diketahui keberadaan-Nya mencipta mahluk dengan pewahyuan Tuhan sendiri melalui tujuh tahap. Ajaran ini disebut martabat tujuh, yang berangkat dari tajalli (penampakan) Tuhan melalui tingkatan-tingkatan atau martabat, dimana pewahyuan Diri dari Yang Satu bertajalli dalam keadaan Bersatu (al Ahadiyah), hal ini bisa dikatakan bahwa Tuhan telah mengungkapkan diri-Nya dalam “keadaan Ketuhanan” (al martabah Ilahiyah). Tingkat pewahyuan diri Diri dari Yang Satu (tajalliyah) itu bertahap menampakkan diri melalui tujuh martabat, yaitu : Martabat Ahadiyah, Wahdah, Wahidiyah, Alam Arwah, Alam Mitsal, Alam Ajsam, dan Insan Kamil.

Salah satu bagian ajaran Sasahidan yang disampaikan SSJ adalah ajaran “Sangkan Paraning Dumadi” artinya asal dari segala ciptaan. Menurut SSJ bahwa pangkal dari segala ciptaan adalah Dzat Wajib al Wujud yang tak terdefiniskan yang diberi istilah “awang uwung” (Ada tetapi Tidak Ada, Tidak Ada tetapi Ada) yang keberadaannya hanya mungkin ditandai oleh kata “tan kena kinaya ngapa” yang disebut dalam Al Quran “Laisa Kamitslihi Syaiun” artinya “ tidak bisa dimisalkan dengan sesuatu). Inilah tahap Ahadiyah. Dari keberadaan Yang Tak Terdefinisikan itulah Dzat Wajib al Wujud Yang Tak Terdefinisikan mewahyukan Diri sebagai Pribadi Ilahi yang disebut Allah. Inilah tahap Wahdah dimana Yang Tak Terdefinisikan mewahyukan diri menjadi Rabb-al Arbab. Dari tahap wahdah ini kemudian mewahyukan Diri sebagai Nur Muhammad. Inilah tahap Wahidiyah dimana yang tak terdefinisikan mewahyukan diri sebagai Rabb. Nur Muhammad ini ini kemudian mewahyukan Diri menjadi semua ciptaan yang disebut mahluk, baik yang kasat mata maupun tidak kasat mata.

Dengan pandangan itu konsep keesaan (tauhid) Ilahi yang diajarkan SSJ tidak bisa disebut wahdatul wujud, karena di dalam doktrin Sasahidan disebutkan bahwa “Dia Yang Esa sekaligus Yang Banyak (al wahid al katsir), Dia adalah Yang Wujud secara bathin dan Yang Maujud secara dhahir, sehingga disebut Yang Wujud sekaligus Yang Maujud (Ad-Dhahir Al Bathin)”.

Dalam perjalanannya mencari ilmu hakikat makrifat, SSJ pernah merantau ke Baghdad, Irak (kira-kira abad 15 - 16 M – itu masa hidupnya). Berdasarkan legenda, menurut Abdul Munir Mulkhan, pola Islamisasi pasca-Demak, sesudah Sultan Hadi Wijoyo yang berkuasa sejak th 1550 hingga tahun 1582 memindahkan kekuasaannya ke Yogya - Surakarta. Konflik pemahaman Islam antara Wali Songo dengan SSJ bisa menjadi petunjuk betapa mengakarnya Islamisasi di Jawa pada abad 15M. Islam di Nusantara lebih diwarnai model sufi daripada model syariah yang lebih terbuka berhubungan dengan tradisi lokal, sistem keyakinan Hindu-Budha dan Jawa.

Sementara itu di Baghdad satu periode sebelumnya Hussayn Ibn Manshur Al Hallaj (857-922), seorang sufi Persia dilahirkan di Thus yang dituduh musyrik oleh khalifah di Baghdad, dihukum bunuh karena ajarannnya. Al Hallaj adalah gelar, asal kata “al Hallaj Al Asrar, yang artinya pembersih hati atau kesadaran. 2) (Cyril Glasse, Ensiklopedi Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002)

Al Hallaj terkenal dengan ucapannya “Anna Al Haqq” atau Akulah Yang Maha Mutlak” atau “Kebenaran”. Ahmad Ibn Fatik berkata bahwa ia pernah mendengar Al Hallaj berkata “Akulah Yang Maha benar dimana kebenaran itu milik Tuhan dan Aku mengenakan Esensi-Nya sehingga tidak ada perbedaan diantara Kami”, pernyataan itu adalah pernyataan aneh Al Hallaj dibandingkan dengan tokoh lainnya.

Ibn Arabi, yang memiliki nama lengkap Abu Bakar Muhammad Muhyiddin (1165-1240 M), sebagai seorang sufi sekaligus guru Sufi, dipandang sebagai tokoh besar sehingga disebut “Syekh Agung” (Syeikh al Akbar), karena pandai sekali dalam menyusun doktrin metafisis. Ibn Arabi lahir di Spanyol. 3) (Cyril Glasse, Ensiklopedi Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002).

Ibn Arabi mempopulerkan ajaran Wahdatul Wujud dengan mengekspresikannya secara formal.

Yang dimaksud wahdat al-Wujud dapat diartikan kesatuan wujud 4). (Drs. Totok Jumantoro MA, Samsul Munir Amin, Kamus Ilmu Tasawuf, Penerbit Amzah, 2005)

Walaupun doktrin ini disandarkan kepada Ibn Arabi, dalam realitanya merupakan ajaran fundamental dan sangat penting dalam seluruh aliran tasawuf.

Doktrin wahdatul Wujud yang sering disalah tafsirkan dengan pengertian sebuah kesamaan substansi antara alam dan Tuhan, yakni bahwa alam adalah Tuhan yang samar.

Paham Wahdat Al-Wujud diidentikkan dengan pantheistik oleh orientalis. padahal ada perbedaan antara Wahdat Al Wujud dengan Pantheisme. Menurut Ibn Arabi dalam kitab Futtuhad Al Makiyah, bahwa hakikat wujud itu itu hanya satu yaitu Allah, sedangkan wujud yang banyak itu merupakan Ilusi atau bayangan dari Yang Satu itu.

Essential Identification of manifestated order with onto logical principle, sedangkan pengertian pantheisme adalah subsantial identification of universe with God.

Dalam pantheisme, jauhar atau esensi Tuhan terdapat dalam setiap yang ada. Menurut konsep ini bahwa wujud segala yang ada ini bergantung pada Wujud Tuhan. Andaikan Wujud Tuhan tidak ada maka wujud selain Tuhan juga tidak ada.

Menurut Ibnu Arabi “Maha Suci Allah yang menciptakan segala sesuatu dari dzatNya, sehingga apabila kami melihat-Nya berarti kami melihat diri kami, dan apabila kami melihat diri kami maka kami juga melihat Diri-Nya”.

Manusia adalah hamba Tuhan, karena tuhan beriluminasi secara dzatiyah pada manusia (tajalli dzatiyah) sehingga manusia adalah zat Tuhan, karena itu disebut Insan Kamil atau nuskhat Ilahi.

Lebih jelasnya, Ibn Arabi menyatakan bahwa Tuhan adalah pencipta alam, dimana prosesnya sebagai berikut :

Tajalli, dzat Tuhan dalam bentuk a’yan tsabitah. Tanazzul Tuhan di alam ma’ani ke alam ta’ayyunat (realitas rohaniah), yaitu alam arwah yang mujjarat. Tannazul kepada realitas nafsiah, yaitu alam nafsiah berfikir. Tanazzul Tuhan dalam bentuk ide materi yang bukan materi, yaitu alam mitsal (ide) atau khayal. Alam materi, yaitu alam inderawi.


Kesimpulan :

Masih ada kesinambungan antara ajaran Ibn Arabi dengan ajaran SSJ, mengingat keberadaan SSJ dari prediksi sekitar abad 15atau 16M, sementara Ibn Arabi sekitar abad 11-12M, dan Al Hallaj abad 9M, maka ada kemungkinan SSJ terpengaruh oleh ajarannya Ibn Arabi ataupun Al Hallaj. Hanya saja ajaran SSJ dipraktekkan oleh pengikutnya di sana-sini secara rahasia dan berkesinambungan. Untuk kebenarannya, hanya Allah saja yang Maha Tahu segalanya.


Salam,

http://ferrydjajaprana.multiply.com

http://tasawuf.multiply.com




Bibliography :

1) Prof. Dr. Abdul Munir Mulkan, SU, Makrifat Siti Jenar, Grafindo, Jakarta,2005

2) Cyril Glasse, Ensiklopedi Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002

3) Drs. Totok Jumantoro MA, Samsul Munir Amin, Kamus Ilmu Tasawuf, Penerbit Amzah, 2005

4)Agus Sunyoto, Makalah Diskusi SSJ, 2007



Blog EntryFenomena Air Laut PasangMay 20, '07 9:29 PM
for everyone
 Air laut pasang diberbagai daerah di kawasan Nusantara, di mulai dari Aceh, Ujung Kulon, Anyer, Jakarta, Pelabuhan Ratu, Cilacap, Yogyakarta, Tuban, Madura, Bali dan Lombok. Tentunya masih banyak daerah lain yang terkena pasang air laut yang beberapa hari ini naik dari tiga sampai enam meter yang tidak terendus oleh kuli tinta.

Tidak seperti lazimnya air pasang dimana mengalami kulminasi pada saat bulan purnama, tapi pasang air laut yang sekarang melanda akibat terkena angin besar yang bertiup dari Samudera Hindia. Demikian menurut penjelasan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) pada saat memberikan penjelasan tentang ihwalnya pasang air laut di bulan Mei ini.

Penjelasan BMG adalah penjelasan nalar yang bisa diterima akal kita, karena dalam fisika ada postulat yang menjelaskan bahwa adanya reaksi karena adanya aksi.

Karena aku adalah orang awam di bidang ilmu meteorologi dan geofisika, maka aku cukup menyingkap apa yang terjadi di balik kejadian itu.

Di Muara Angke Jakarta, penduduk dibingungkan dengan kejadian air laut pasang, sehingga air laut naik ke permukaan sehingga kawasan tempat tinggal para nelayan tergenang air laut. Siapa saja yang tinggal di sana berduka, berapa angka kerugian yang mereka derita, tetapi dibalik musibah itu para tukang becak diberikan keuntungan berlipat, mereka bersuka-cita oleh karenanya.

Di kota Sampang, Madura nelayan-nelayan yang berbudi daya tambak ikan bandeng, belum sempat memanen ikannya, tiba-tiba dalam sekejap ikannya yang dikerangkeng dalam tanggul tambak, menjadi bebas berenang ke laut lepas. Ada fenomena menarik pada saat ikan bandeng itu terlepas, pertama mereka terhempas terbawa ombak sehingga mencapai daratan yang tergenang air, selanjutnya mereka bersusah payah, berjuang untuk kembali ke laut tempat mereka berasal. Seperti diri ini juga sama, bagi para ‘pencari kebenaran’ untuk mencapai kebenaran diperlukan usaha, alih-alih mendapatkan kebenaran sejati, justru kesesatan yang diperolehnya. Banyak ikan bandeng yang berusaha terlepas dari ketersesatan, akhirnya tertangkap kembali oleh manusia.

Lain tempat lain masalah, di Bali umpamanya, beberapa bangunan yang berada di pinggir pantai, hancur luluh lantak karena sapuan gelombang pasangnya air laut, tentunya pemiliknya menderita, mereka harus memikirkan untuk membangun kembali tempat bisnisnya. Di sana kelak akan membutuhkan tenaga-tenaga ahli bangunan, sehingga lowongan pekerjaan kuli bangunan yang tadinya nganggur menjadi bekerja kembali. Ada yang merasa iba akan musibah itu, mereka memberikan pertolongan kepada yang membutuhkan, rupanya tali kasih sesama manusia akan terjalin, terlepas dari perbedaan agama yang mereka anut.

Waktu terus bergerak, berputar membawa perubahan-perubahan. Kita yang nyaman dengan keadaan reguler menjadi terperangah bila ada hal-hal baru yang berkenaan dengan bumi yang kita tinggali, ada yang menyalahkan lapisan ozon yang berlubang akibat efek rumah kaca, ada yang berbicara pemanasan global. Aku yang dulu berpatokan bahwa akhiran ‘ber’ pada nama bulan tiap tahunnya dibuat kecele, karena musim hujan besar-besarnya terjadi di bulan Pebruari. Kita lupa, bahwa bumi sebagai makrokosmos, sama juga seperti kita sebagai mikrokosmos. Kita tidak bisa selalu tetap sehat, adakalanya mengalami sakit juga. Demikianlah untuk tetap eksis, bumi juga mengalami ujian-ujian sunatullah, mengikuti hukum kausalitas. Karena dibalik apa yang ada, ada Yang Menggerakan yaitu Dzat Yang Lahir sekaligus Bathin, yang memiliki skenario sendiri.

Tinggal kitanya mau atau tidak, menyimak , mengikuti pelajaran-Nya agar kita arif tinggal di muka bumi ini, hidup harmonis bersama alam dan seisinya, menjadi khalifah-Nya dengan bijak ? Lalu, apa artinya bencana itu? silakan dihayati sendiri. Kalau aku hanya senang memancing saja. Memancing ikan bandeng yang terlepas.. :)


Salam,

http://ferrydjajaprana.multiply.com


 


Blog EntryIlmu MukasyafahMay 13, '07 11:48 PM
for everyone
Ilmu mukasyafah biasa disebut ilmu bathin adalah puncaknya ilmu para pencari. Biasanya yang memiliki ilmu ini adalah kaum shidiqin yaitu orang yang benar-benar tulus menghambakan dirinya kepada Allah serta kaum muqarabbin yaitu mereka yang didekatkan ke hadirat Allah. Ia adalah cahaya yang terbit di hati seseorang, apabila telah menyelami pensucian dan penjernihan (tadikiyyah) dari segala sifat yang tercela.

Meminjam istilahnya Ibnu Arabi, muskasyafah adalah terbukanya selubung alam barzakh. Proses terbukanya selubung alam malakut disebut musyahadah dan untuk terbukanya selubung alam wahidiyah disebut mu’ayana.

Dalam sufisme, proses tersingkapnya tirai penerimaan nur gaib dalam hal seseorang mediator disebut al hal, yaitu proses penghayatan gaib yang merupakan anugerah Tuhan dan diluar adi kuasa manusia. Menurut sufi, jika mata (bashar) hanya mampu mengindra jarak dekat (hijab) maka pandangan bashirah (mata bathin) mampu mengetahui obyek yang jauh dang menyingkapkan kotoran dan hijab.
Salam,

----- salam mas DJ

thank you for quick respond ya, tidak ada batasan baku dalam tasawuf (bukan metafisika mas.. hehehe). Tetapi, seperti pernah didiskusikan dulu di milis ini juga, itu bukan berarti kita bisa menggunakan istilah semau sendiri. JIka kita ingin mendalami fisika, maka kita harus menguasai bahasa (istilah) fisika. Dengan cara yang sama, sufi menggunakan istilah tertentu bukan tanpa dasar epistemologis dan ontologis. Sering dikatakan istilah tasawuf bisa dipakai secara longgar. Boleh jadi pendapat ini bisa diterima, tetapi jika suatu istilah dipakai tanpa mengacu pada apa yang dirujuk pada istilah itu, maka besar kemungkinan akan terjadi kesalahan tafsir.

Bagi orang awam, yakni bukan sufi, seperti kita ini, tertib istilah justru penting.

Pertama, istilah sufi adalah sebentuk "pemadatan" sebuah pengalaman (dzawq), dan karenanya, makna sesungguhnya hanya bisa dipahami oleh mereka yang sederajat, atau setidaknya pernah mengalami apa yang dirujuk dalam istilah itu. Tetapi, karena sufi tidak hanya berbicara kepada sesama sufi, maka mereka terpaksa menggunakan sebentuk simbol, yakni istilah, untuk mendeksripsikan kepada orang selain sufi mengenai apa maknanya. Jadi, bagi orang awam, adalah tidak valid jika kita menggunakan istilah sufi bukan dalam konteksnya - sebab, pada level wacana dan diskursus intelektual, tertib istilah mesti dihormati. JIka tidak, untuk apa sufi susah-susah menyuusun istilah tersendiri?

misalnya, jika saya bicara fana, maka kita bicara sebagai "orang luar" sebab saya belum pernah mengalami fana. Bahwa ada cabang-cabang fana, itu benar. Tetapi, sebagai orang luar,kita tidak bisa semaunya sendiri menggunakan istilah ini untuk tafsir subyektif kita. maka, kehati-hatian dibutuhkan dalam memahami fana ini, setidaknya di tingkat intelektual.

Dalam diskursus intelektual, kita harus punya argumen (hujah) yang kuat. Sebuah pengalaman fana sesungguhnya amatlah subyektif,dan meta- empiris, dan karenanya,pada hakikatnya, tak bisa dideksripsikan. Tetapi pembahasan fana oleh orang luar bukan berarti sia-sia, selama kita menghormati kaidah-kaidah yang berlaku di dalam kajian tasawuf.

Misalnya, ada banyak definisi "tasawuf" atau "sufi." Dan kita bisa mengatakan, kalau begitu, sufi tidak bisa didefinisikan secara pasti. Pernyataan ini benar, tetapi bukan berarti keragaman definisi itu lantas menegasikan tertib-makna istilah. Inilah resiko jika kita mulai masuk ke pembahasan lewat kata-kata. Menyusahkan memang, tetapi itu mesti dilalui, agar tidak terjadi kesalahan. Maka, sesungguhnya, kita tidak bisa mendiskusikan lewat kata-kata soal, misalnya seperti disebut mas Verry, tentang siapa yang masuk dalam fana,setan atau malaikat. Ini diluar jangkauan wacana intelektual. Yang bisa kita lakukan,paling banter, adalah memahami konsep dasar fana, atau baqa. Ini adalah daerah tapal batas antara dimensi empiris dan nonempiris,dan karenanya kita mesti sedikit hati- hati.

Maka yg bisa didiskusikan adalah,misalnya,mengapa sufi punya konsep fana yang berbeda?

Bagaimana penjelasan filosofisnya? dan seterusnya.

Tentu saja, model penjelasan seperti ini akan terus bersifat spekulatif, kecuali kita mengalami sendiri fana itu. Jadi, dalam diskusi fana,misalnya,kita tidak perlu bertanya-tanya, pengalaman apa yang dirasakan? apa yang dijumpai? Itu tidak perlu, kecuali kita benar-benar total masuk ke dunia tasawuf. JIka kita sekedar membahas kulitnya, maka memahami konsep dasar fana itu sudah cukup, dan itupun tidak semudah yang kita bayangkan.

MIsalnya, jika kita membaca Qusayiri, Hujwiry,Ibn Arabi, dan Jilli, kita akan jumpai banyak konsep tentang fana, beserta derivasinya. Tetapi jika kita membaca kitab tarekat, misalnya naqshabandi, qadiriyah, chistiyyah, fana itu akan selalu dikaitkan dengan sebentuk proses, bukan hasil.

 urutan2an fana fi syaikh, fi rasul dan fi ALlah, misalnya, adalah sebagian kecil saja dari gambaran tentang fana fi Allah. Jadi, jika kita membatasi pembahasan kita pada tapal batas ini, membaca buku barangkali sudah cukup. debat tidak masalah.

Tetapi jika kita ingin masuk sepenuhnya, bukan sekedar paham secara intelektual,tetapi juga paham secara sirriy, (hakikat-ma'rifat) maka, barangkali, kita harus tinggalkan dulu diskusi intelektual kita, setidaknya untuk sementara. salam triwibs salam triwibs --- I

Tulisan saya disarikan dari buku Ibnu Arabi (Futuhat Al makiyah) dan detail
 dari buku ensiklopedi tasawuf, bisa jadi info tersebut ada unsur subyektif.

sepengetahuan saya mukasyafah bukan ilmu batin. mungkin saya salah. tetapi mukasyafah bermakna "pembukaan hijab" - bukan pembukaan selubung alam barzakh. Alam barzakh adalah bagian dari alam ghaib, atau dari perspektif emanasi atau martabat tujuh, ia kadang disebut alam mitsal - alam di mana yang material "dispiritualkan" dan yang spiritual "dimaterialkan." Ini adalah alam "imajinasi kreatif" menurut tradisi Ibn Arabi. alam wahidiyah, atau alam persatuan adalah gradasi dari emanasi ilahi (faid al-aqdas) - sebelumnya ada alam ahadiyyah, wahdah, wahidiyyah, (yang berkaitan dengan konsep Nur Muhammad), ruh, alam ajsam dan seterusnya. juga, saya jadi bingung ketika dikatakan ilmu mukasyafah adalah puncaknya ilmu para pencari

Dulu dalam diskusi bertahun-tahun lampau di milis ini mas Hery Mardian pernah mengatakan pentingnya "tertib" istilah ketika membicarakan tasawuf. Rasanya peringatan mas Hery amat relevan di sini. mukasyafah, misalnya, dalam arti umum adalah pembukaan mati batin. tetapi, apakah mukasyafah ini sama dengan futuh, yg juga berarti pencerahan/pembukaan? Banyak sufi justru mengisyaratkan agar berhati-hati ketika mukasyafah datang menghampiri,sebab boleh jadi mukasyafah adalah sebentuk "istidraj." Ada beberapa keberatan jika dikatakan mukasyafah adalah puncak ilmu. Pertama, Tidak semua sufi yang mukasyafah berarti telah mencapai puncaknya ilmu para pencari.

Ada 70 wali Allah yang sudah mukasyafah tapi berhasil disesatkan oleh Iblis (seperti pengakuan Iblis kpada Sultan al-awliya Syaikh Abdul Wadir al-JIlani). Kedua, mukasyafah adalah bagian dari sebuah proses, bukan tujuan puncak dalam suluk ruhani. Selama mengalami proses mukasyafah, sufi (terutama yg masih di tengah jalan) masih harus menghadapi banyak cobaan dan godaan. Apa yang datang dari mukasyafah boleh jadi adalah, meminjam bahasa Qur'an, makr (tipu daya Allah). ia bisa jadi kasyaf syathani, atau khatir syathani. Betul bahwa hati yg suci bisa mendapatkan mukasyafah, tetapi hati yang suci bukan terminal akhir, dan karenanya mukasyafah juga bukan puncak ilmu. Dalam makna wirid- wirid besar tarekat mu'tabarah tersirat bahwa bahkan mukasyafah pun masih bisa disusupi iblis, dan karenanya selalu dibaca istiadzah (sebagian menggunakan wirid shalat istadzah setiap pagi). Kasyaf rabbani memang boleh jadi menjadi isyarat kesucian,tetapi tidak selalu ia bersifat paripurna. Ketiga, seorang yang telah mendapatkan mukasyafah boleh jadi belum mencapai kondisi fana, fana-al-fana, dan baqa. Karenanya, mukasyafah boleh jadi merupakan "hal" atau keadaan spiritual, yang tidak permanen (yang berbeda dengan "maqam" yang relatif permanen). demikian sedikit tambahan. NB:buat mas Hery, dah lama ya kita nggak diskusi rame kayak 2-3 tahun yg lalu di milis ini. ketika kita menulis berpanjang-panjang. ada yg nadanya yg penuh dalil, ada yng nadanya bijak,ada yg kritis dan kadang ngagetin kayak mpok ninik, ada yg sekedar berceloteh.. ah masa lalu.. hehehehe

salam
triwibs

ReviewReviewReviewReviewMisteri Cahaya IlahiApr 26, '07 5:32 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Ferry Djajaprana


"Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya- Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada sebuah pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah
barat, yang minyaknya saja hampir2 menerangi walaupun tidak disentuh api.Cahaya di atas cahaya. Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan bagi manusia dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." Demikian bunyi firman Allah yang tertulis dalam Al Quran An Nur (24)ayat 35, cahaya yang ditulis itu merupakan teka-teki yang menantang untuk dicoba dibuka esensinya. Tak urang beberapa arifin/filsuf dari kalangan umat muslim mencoba membukanya untuk memberikan pencerahan.

Allah memberikan perumpamaan cahaya-Nya seperti lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Cahaya itu bersemayam di dalam hati orang yang terpilih dan dikehendakinya. Dengan cahaya itu Allah membimbing dan menuntun hatinya sehinga mampu memahami ayat-ayat dan nasehat-nasehat Allah. Allah yang telah mengantar jiwa kita melayang menemuinya, dan yang menunjukkan jalan rohani kita untuk melihat secara dengan cahayanya kita membedakan petunjuk dari setan atau dari Allah SWT.

Firman Allah dalam Al Anfaal,8 ayat 29:
“Wahai orang-orang yang beriman jika kamu bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberi kepadamu furqan (pembeda”.Yang dimaksud Furqan adalah cahaya yang dengannnya kita mampu membedakan yang hak dan yang bathil.

Mari kita telaah lebih lanjut pemahaman cahaya sebagai pencerahan dari para pendahulu kita yang mencoba menguak tabir iluminasi atau pencerahan :

Disini saya mencoba mengedit beberapa pendapat mereka, diantaranya Suhrawardi dan Mulla Shadra dengan filsafat iluminasinya, Al Ghazali dengan Misykat al Anwar, dan Said Nursi dengan Risalah Annurnya, dari buku sumber Filsafat Islam dibantu seorang kawan Sisca yang ikut andil menggalinya. Terimakasih atas waktu dan bantuannya.

Filsafat Iluminasi Suhrawardi

Filsafat iluminasi yang dalam bahasa Arab disebut dengan Hikmat al-Isyraq dapat kita ikuti jejaknya mulai dari al-Maqtul Syihab al-Din al-Suhrawardi. Dalam banyak risalah, al-Suhrawardi menyatakan bahwa pendapat-pendapatnya sesuai dengan metode peripatetik konvensional yang ia sebut sebagai metode diskursif yang baik. Namun metode tersebut tidak lagi memadai bagi mereka yang berusaha mencari Tuhan atau bagi yang ingin memadukan metode diskursif dengan pengalaman batin sekaligus. Menurut al-Suhrawardi, agar dapat melakukan tugas ini, seseorang dapat mengambil jalur filsafat iluminasi atau Hikmat al-Isyraq.

Syihab al-Din Suhrawardî, lewat mazhab Iluminasi (al-Isyraq) menciptakan prespektif baru yang didasarkan pada pengetahuan melalui iluminasi (pencerahan) dan upaya melatih pikiran rasional dan
penyucian jiwa. Filsafat iluminasi lahir sebagai alternatif atas kelemahan-kelemahan yang ada pada filsafat sebelumnya, khususnya paripatetik Aristotelian. Dia mencoba memadukan antara tradisi
mistis dan filsafat Paripatetik. Dia melihat pengetahuan sejati terjadi ketika kita diiluminasi oleh Sumber Cahaya dan Sumber Realitas itu. Filsafat iluminasi sanggup bergerak lebih jauh
melebihi filsafat Paripatetik dengan menyodorkan pembuktian dan penerimaan pengetahuan secara lebih sempurna. Menurut Suhrawardi, tujuan yang ingin dicapai dalam epistemologi illuminasi adalah jenis pengetahuan yang diketahui melalui kepastian (yaqin), dengan menggabungkan antara pengetahuan dengan esensi semata dan pengetahuan dengan bentuk-bentuk abadi yang tidak berubah.

Inti dari ajaran hikmat al-Isyraq al-Suhrawardi adalah tentang sifat dan pembiasan cahaya. Cahaya ini, menurutnya, tidak dapat didefinisikan karena merupakan realitas yang paling nyata dan yang
menampakkan segala sesuatu. Cahaya ini juga merupakan substansi yang masuk ke dalam komposisi semua substansi yang lain. Segala sesuatu selain "Cahaya Murni" adalah zat yang membutuhkan penyangga atau sebagai substansi gelap. Objek-objek materil yang mampu menerima cahaya dan kegelapan sekaligus disebut barzakh.

Dalam hubungannya dengan objek-objek yang berada di bawahnya, cahaya memiliki dua bentuk, yakni cahaya yang terang pada dirinya dan cahaya yang menerangi yang lain. Cahaya yang terakhir ini merupakan penyebab tampaknya segala sesuatu yang tidak bisa tidak beremanasi darinya. Di puncak urutan wujud terdapat cahaya-cahaya murni yang membentuk anak tangga menaik. Pada bagian tertinggi dari urutan anak tangga ini disebut Cahaya di atas Cahaya yang menjadi sumber
eksistensi semua cahaya yang ada di bawahnya, baik yang bersifat murni maupun campuran. Oleh al-Suhrawardi cahaya ini juga disebut Cahaya Mandiri, Cahaya Suci atau Wajib al-Wujud.

Filsafat iluminasi, seperti yang tergambar dalam karya-karya suhrawardî, terdiri tiga tahap. Tahap pertama ditandai dengan persiapan pada diri filosof: ia harus "meninggalkan dunia" agar mudah menerima "pengalaman". Tahap kedua tahap Iluminasi (pencerahan), ketika filosof mencapai visi (melihat) "cahaya Ilahi" (al-nûr al-ilâhî). Tahap ketiga yaitu pengetahuan Iluminasionis (al-
`ilm al-isyrâqî) itu sendiri. Tahap keempat dan terakhir adalah pendokumentasian atau bentuk pengalaman visioner yang ditulis ulang.

Namun, Secara epistemologis ia tidak bisa menggapai realitas wujud.

Filsuf yang juga banyak diinspirasikan oleh Hikmat al-Isyraq al-Suhrawardi namun kemudian memodifikasinya ajaran tersebut sedemikian rupa sehinga menjadi ilm al-huduri (knowledge by presence) adalah Mulla Shadra.

Filsafat Iluminasi Mulla Shadra

Karya yang menjadi magnum opus Mulla Shadra adalah Hikmat al-Muta'aliyah (hikmat transendental) yang lebih dikenal dengan al-asfar al-arba'ah (empat perjalanan). Empat perjalanan yang dimaksud oleh Mulla Shadra dikemukakan dalam al-asfar al-arba'ah sebagai berikut: pertama perjalanan dari makhluk menuju Tuhan, kedua perjalanan menuju Tuhan melalui bimbingan Tuhan, ketiga perjalanan dari Tuhan menuju makhluk melalui bimbingan Tuhan, dan yang keempat adalah perjalanan di dalam makhluk melalui bimbingan Tuhan.

Mulla Shadra, figur mazhab Ishfihan, dengan pengalaman mistis-eksotatik nya, menganggap iluminasi dan wahyu sebagai sumber vital pengetahuan disamping penggunaan rasio. Menurut Mulla Shadra, secara umum, memperoleh ilmu pengetahuan melalui dua metode, yaitu metode Hushuli dan metode Hudhuri. Metode hushuli ialah metode memperoleh ilmu melalui upaya sengaja, sesuai alat yang digunakan manusia.

Metode ini dibagi lagi menjadi dua macam, yaitu wahyu (naqly) dan akal (`aqly). Sedangkan metode hudhuri ialah metode memperoleh ilmu dengan cara perenungan dan penghayatan terhadap sebuah obyek, sehingga ia hadir dalam kesadaran seseorang tanpa abstraksi rasional. Metode ini adalah bagaimana hati (qalb) ditempelkan dengan obyek (ma'qul). Konsep hudhuri Mulla Shadra adalah kemampuan manusia menangkap totalitas wujud, baik materi maupun maknanya, yang diperoleh melalui mukasyafah dan musyahadah dengan kesadaran penuh manusia setelah memperoleh cahaya dari Tuhan. Mulla Shadra mensintesiskan kedua metode di atas.

Mishkat Al Anwar Al Ghazali
Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali atau Al-Ghazali, yang mempelopori internalisasi mistisisme ke dalam filsafat, tentang pencarian kebenaran sampai mencapai beatific vision tentang
pengalaman mistis `the vision of God' yang disebutnya Mishkat al- anwar (The Niche of the Lights)

Filsafat Iluminasi menawarkan gagasan perihal kesadaran empirik akan sensasi dan perasaan. Misalnya, seseorang melalui kehadiran, dan bukan konsepsional, merasa sakit. Jelas, jenis kesadaran semacam ini diistimewakan dengan nilai sense-certainty (rasa-kepastian) tertinggi bahwa saat ia sadar sedang merasa sakit, saat itu bukan berarti ia mengatakan bahwa ia ragu apakah ia sedang merasa sakit.
Ini adalah sebuah kepastian, meskipun kesadaran ini tidak menjelaskan sifat benar dan salahnya kesadaran tersebut. Hal ini semata-mata karena teori logika perihal kebenaran mesti diberikan
dengan cara tertentu, sehingga penilaian atau ekspresi itu, saat membuat rasa, secara alternatif mampu mencerap tingkat-tingkat kebenaran dan kesalahan. Mengapa pencabangan logika seperti ini kebenaran dan kesalahan tidak diterapkan dalam `ilm hudûrî (presence/kehadiran), adalah pertanyaan yang sangat disadari sepenuhnya oleh filosof iluminasi.

Gagasan perihal `al-hudûr' (presence/ kehadiran) sebenarnya merupakan transisi dari `knowing' (mengetahui) menuju `being' (wujud/eksis/mengada).

Suhrawardî cenderung menggagas terminologi `apparentness' sebagai konotasi negatifnya, yakni "negation of absent". Hal ini tampak jelas dari pernyataannya:

"it thus follows that in this awareness of your reality you need not have anything besides the very reality of yourself, which is `apparent' to yourself, or, if you wish, `not absent' from yourself."

Dengan demikian, bisa ditarik kesimpulan bahwa "not absent from
yourself" (tidak absen dari diri-anda) sama dengan "not being other than yourself" (tidak berwujud [baca: eksis menjadi] selain diri-anda).

Badiuzzaman Said Nursi
Badiuzzaman Said Nursi menyatakan bahwa seseorang harus mencapai keikhlasan untuk mendapatkan kebaikan dengan kebutuhannya. "Karena di dalam keikhlasan terdapat banyak kekuatan dan cahaya... kami tentu saja memaksa siapa pun untuk bekerja dengan segenap kekuatan untuk mencapai keikhlasan.

Kita perlu menanamkan keikhlasan di dalam diri kita. Jika tidak, apa yang kita capai selama ini dalam amal yang tersembunyi akan hilang sebagian dan tak akan kokoh; dan kita akan bertanggung jawab."
Salam,
http://ferrydjajaprana.multiply.com

ReviewReviewReviewReviewKitab BidayatussalikinApr 18, '07 6:46 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Syihabuddin Suhrowardi
Sensasi Dzikir

Terkadang bagi para pe-dzikir yang sedang melavalkan Asma Allah, sampai badannya bergoncang dan tubuh bergerak-gerak, kenapa fenomena ini bisa terjadi?

Ada tiga tingkatan dzikir, pertama adalah dzikir adat, yang dimaksud adalah ingat dan menyebut asma Allah sesaat, umpamanya pada saat terjatuh atau tertimpa bencana. Dzikir ini menyebut Asma Allah, tetapi hatinya tidak mengingatnya. Ke dua, adalah Dzikir Ibadah, maksudnya dzikir dengan lisan “La Ilaaha Illallah”, seraya hatinya ingat akan arti kalimat tersebut. Terakhir Dzikir mahabbah dan ma'rifat. Contohnya, lisan mengucap Laa Ilaaha Illallah, dibarengi dengan bergoyangnya kepala dari bawah ke atas, ke kanan dan ke kiri, dan dzikir tersebut menembus pada hatinya. Dzikir yang ke tiga ini sering dilakukan para ahli thariqat Qodoriyah Wa Naqsabandiyah.

Menurut Syekh Abdul Karim As Sama'ani tentang dzikir mahabbah wal ma'rifat, dalam kitab karangannya “Bidaayatus Saalikiin”, menjelaskan sebagai berikut:

“Apabila murid Thariqat dzikirnya sudah mencapai itigraq (menyebar ke seluruh badannya sampai ke tulang sum-sum, hati dan jantungnya akan terisi oleh kalimat itu), sehingga lafadz dzikirnya dengan huruf-huruf munkati'ah, seperti kalimat yang sepotong-potong, contohnya : hu-hu-hu..., ih, ih, ih,..., he-he-he.., ri-ri-ri, ah-ah-ah..., semuanya ada maknanya. Biasanya keluar kalimat itu tidak disengaja. Ditambahkan menurut Syekh Abil Hasan Sadzili, yang mengatakan “Dimana hati sudah ma'rifat, maka lisan akan tumpul” terangnya.

Menurut ahli thariqat, dimana dzikir itu sudah meliputi seluruh tubuhnya, maka badan di dominasi dzikir, biasanya akan timbul khusyu, lalu keluar air matanya, serta panas di sekujur badan. Setelah itu pedzikir itu akan tenggelam dalam lautan mahabbah dan ma'rifat, yang disebut bahrul hayyat artinya “Lautan Kehidupan”.

Dalam suatu riwayat Nabi Muhammad SAW bersabda “Perbanyaklah dzikir kepada Allah sehingga mereka (orang munafik) berkata bahwa kamu adalah orang gila”.

Salam,
Http://ferrydjajaprana.multiply.com
http://tasawuf.multiply.com


Blog EntryPilihanApr 16, '07 10:13 PM
for everyone

Tulisan dibawah aku salin dari body belakang truk dengan plat polisi No. K 1608 JA, yang kujumpai sedang berjalan di jalan tol Gatot Subroto Jakarta, pagi hari (17/4). Truk itu ditutupi terpal yang diikat rapi, berwarna hijau muda. Disebelah kiri body truk ada tulisan “Edy Chandra”, dalam huruf kapital, mungkin nama pengemudinya atau bisa jadi nama pemilik kendaraan tersebut.

                                                            OPTION :

Having Fun In The Car

Making Love In The Car

Breakfirst In The Car

Studing In The Car

Dugem In The Car

-o0o-


Coretan-coretan dibelakang truk biasanya mampu menggugah perasaan pengemudi di belakangnya yang biasanya tak bisa tidak untuk membacanya. Bahkan kalau kita ke luar kota di jalur Pantura sering kita jumpai gambar wanita seksi yang dilukis besar-besaran.

Tak pelak lagi, gambaran-gambaran di bagian body belakang truk secara subyektif menggambar pengemudinya.

Hidup di jalan raya, memang menarik apa bila kita juga memperhatikan sekeliling kita. Pernah aku jumpai belakang body truk yang bergambar anak manis yang sedang berdoa, dilengkapi dengan tulisan “Doa Ibu Menyertai”, secara iseng aku menyalipnya dan kulihat wajah pengemudinya, sudah berusia senja, dengan jenggot putih dan berpeci hitam.

Pernah juga pada suatu waktu, aku lihat body belakang truk yang bergambar, wanita seksi dengan tulisan “Senyummu Derita Dompetku”, kebetulan aku berada di belakang kendaraannya, bersamaan ada wanita muda yang minta tumpangan di jalur Pantura, semerta-merta pengemudinya yang nampaknya masih muda membanting setir dan terlibat dalam dialog, entah apa yang mereka perbincangkan.

Kembali lagi ketulisan Option di atas, alangkah indahnya apabila kata “In the car”nya di ganti dengan kata “In the name of God”.


OPTION :

Having Fun In The Name of God

Making Love In The Name of God

Breakfast In The Name of God

Studying In The Name of God

Party In The Name of God

-o0o-

Sehingga dalam berbagai kegiatan yang bersifat positif ingat akan Tuhan (dzikr) adalah baiksekali. Dalam tarikan dan hembusan napasnya selalu mengingat akan Tuhannya adalah spiritualis sejati.

Cuma, seandainya saja kata-kata berjudul “option” yang sudah diperbaiki dengan kata ganti “In the name of God” itu ditulis kembali di belakang body truk itu, apakah kita masih mau membaca dan mengingatnya? Atau justru kita tancap gas, segera menyalipnya dan melupakannya?


Memang konotasi positip dan negatip sedikit sekali perbedaannya, bersifat subjektif tetapi mempengaruhi jiwa dan raga kita.

Ada-ada saja bang Edy Chandra itu... menulis iseng di belakang truk sehingga mampu menggerakkan tanganku untuk menulis cerita ini.


Salam,

Http://ferrydjajaprana.multiply.com



ReviewReviewReviewReviewReviewMasnawiApr 10, '07 10:21 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Jalaluddin Rumi
Puisi Mistis Rumi
Oleh : Ferry Djajaprana

Ocean
All of the Ocean is the wave, and the wafe
contains all of the Ocean.
The individual wave’s meovement comes from the Ocean behind it.
The Individual exists because the Ocean exists.

Jalaluddin Rumi

-o0o-

Di atas adalah cuplikan puisi karya Rumi pada buku Masnawi karyanya, yang menggambarkan metafora tentang alam. Bisakah anda membayangkan, tentang cerminan Tuhan yang digambarkan sebagai Samudra, dan ombak sebagai manusia?

Kisah, legenda, anekdot, dan puisi adalah sesuatu yang inheren dan memainkan peranan yang sangat penting dalam tradisi mistis Islam yang lebih dikenal dengan sebutan tasawuf, selain dimaksudkan untuk mencerahkan wawasan dan meningkatkan fleksibilitas mental, sering kali para guru dan para syeikh Sufi menggunakan berbagai media tersebut untuk menyampaikan ajaran-ajaran akhlak, etika, moralitas maupun rasa ektase dalam menapak jalan ruhani.

Dalam tulisan ini, akan dibahas tentang puisi mistis sebagai sarana untuk penyampaian pesan-pesan mistis yang penuh dengan metafora. Banyak penyair yang menggarap puisi mistis sebagai pelampias akan kerinduannya terhadap Tuhan, tetapi ada seorang penyair yang paling menonjol yaitu Jalaluddin Rumi..

Jalaluddin Rumi

Jalaluddin Rumi (1207-1273M) – seorang penyair sufi Persia dan merupakan maestro par excellence dalam dunia tasawuf yang sudah sangat termasyhur dan dikagumi, selain menulis kisah-kisah, Rumi juga pandai sekali meracik puisi yang sarat dengan simbolisme dan metaforisme, sekalipun puisinya nampak sederhana, ternyata harus dipahami dengan cara “melampaui” persepsi awam atau orang kebanyakan agar bisa dipetik hikmah atau kearifan yang terkandung di dalamnya.

Pada usia 39 tahun Rumi sudah menjadi sufi, Di Konya Rumi menjadi guru agama dan berkawan dengan Syamsuddin al-Thabritzi (w. 1247M), seorang pribadi yang misterius dan seorang pujangga yang jenius yang sangat berpengaruh dalam membuat syair. Ia telah mendorong perkembangan spiritual Rumi. Belakangan Rumi selain menulis tentang puisi ketika bersamanya, bahkan juga menulis mengenai pribadinya, inilah petikannya :






“Mentari dari Thabriz... adalah cahaya yang absolut...
Ia adalah matahari, dan kumpulan cahaya kebenaran Tuhan”.

Syamsuddin Al Thabritzi dipandang sebagai satu diantara kutub pada zamannya. Ia telah membawa Rumi menuju kenikmatan pengetahuan Tuhan secara langsung.

Mathnawi, adalah karangan Rumi mengenai ajaran-ajaran spiritual sufi dan kisah kesufian, dan juga berisi syair-syair yang berkualitas tinggi. Syamsuddin telah mengajak Rumi untukmenjalani kehidupan dalam tharekat Dervishi, dan tharekat Mevlevi (Arab: Maulawi) yang didirikannya dan berpusat di Konya - Turki.


Puisi Adalah Sarana Berekspresi Kecintaan Akan Tuhan

Ternyata dari berbagai literatur tentang Rumi yang khusus mengkaji tentang puisinya, saya dapat menyimpulkan, sebagai berikut :

1)Puisi karya Rumi ini ekstatis, romantis, Obsesi terhadap Tuhan, Penghambaan terhadap Tuhan, penghargaan terhadap sesama mahluk hidup.
2)Untuk menceritakan rasa transenden dan cinta mistis yang mendalam
3)Puisi yang dibuat bukan sekedar puisi yang berupa ungkapan rasa tetapi juga berisi kebenaran
4)Memberikan pencerahan dan sebagai petunjuk mencari Tuhan
5)Ekspresi kecintaan akan tuhannya.


-o0o-

Bibliography:

1) Idries Shah, The hundred tales of wisdom(100 kisah Rumi), Pustaka Hidayah, Yogyakarta, 2001
2) Will Johnson, “Rumi Gazing at the beloved: The Radical Practice of Beholding The Divine (Rumi Menatap Sang Kekasih), PT. Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, 2005
3)Cyril Glasse, Ensiklopedi Islam, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002
4) Artikel-artikel tentang Rumi dari Browsing Internet ;
a.Coleman Barks Web Article of Rumi, address : http;//www.colemanbarks.com
b.Alexandra MArks, “Persian Poet Top Seller in America”
c.Phil Catalfo “The Soul of Rumi: A new collection of Ecstasic Poems”
d.Margaret Doyle “Translating Ecstassy: Coleman Barks on Rumi with a side of curry”.

Jakarta, 10 April ‏2007‏‏-‏04‏‏-‏11‏

http://ferrydjajaprana.multiply.com
http://tasawuf.multiply.com

ReviewReviewReviewReviewMysical Poetry of RumiApr 9, '07 3:49 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Coleman Barks
You fill it with yourself, or it dies! - Rumi Almost 15 years ago, poet Robert Bly handed a younger colleague an accurate but stilted 19th-century translation of the mystic Islamic poet Jalaluddin Rumi. "Release these from their scholarly cages," the poet recalls telling Coleman Barks. Mr. Barks set to work, recasting the poems in fluid, casual American free verse. The results have astonished many. In a country where Pulitzer Prize-winning poets often struggle to sell 10,000 books, Barks's translations of Rumi have sold more than a quarter of a million copies. Recordings of Rumi poems have made it to Billboard's Top 20 list. And a pantheon of Hollywood stars is recording a collection of Rumi's love poems - these translated by holistic-health guru Deepak Chopra - for release next Valentine's Day. Put it all together and you've got a Rumi revival that's made the 13th-century Persian wordsmith the top-selling poet in the country today. "It's a matter of our enormous spiritual hunger matched by our natural anticlericism gone ballistic," says Phyllis Tickle, contributing editor in religion to Publisher's Weekly. "It's also just beautiful poetry." For seven centuries, Rumi's poetry has been sung in the Islamic world from India to Iran, Turkey to Afghanistan. He's considered an ecstatic, a romantic, obsessed with God, exalting the divine universality of the heart in everything and everyone. "He celebrates the Presence, he calls it the Friend or the Beloved, that we sense in the beauty outside of us on a rainy day, or in a group of friends fixing food, a horse being saddled, or a child sleeping," says translator Barks. "All of these things that are obviously beautiful outside of us also touch the beauty inside of us - that jewel-like inner presence that he activates in his poetry."

A celebrated past In his day, Rumi was celebrated by Christians, Jews, and Buddhists, as well as by Sufi Muslims who claim him as a part of their tradition. That is the ecstatic, feeling strain of Islam - less familiar in the West than the severe fundamentalist image of Islam. "He's such a spokesman for freedom and transcendence that people have found him to be a great literary voice for centuries," says Carl Ernst, head of religious studies at the University of North Carolina at Chapel Hill. Some scholars compare Rumi's revival to similar fads, such as the burst of interest in Kahlil Gibran's poetry a generation ago. But Mr. Ernst believes the Rumi phenomenon is bigger.

The mystic's current fans range from Islamic scholars to New Age enthusiasts. Barks says he can't explain the phenomenon. Bly says Rumi fills a place in the Christian tradition left vacant when the Gnostics - Christian mystics - were discredited as heretics by early Christian religious leaders. That ecstatic impulse has occasionally re-emerged with St. Francis and some of the medieval mystics, such as St. Teresa. The late 20th century is seeing a revival of the Pentacostal, charismatic movement in the US. But the mystical tradition never blossomed in mainstream Christianity to the extent that it has in the Muslims' Sufi tradition. Rumi was also a rebel of sorts in his day. His poetry, which in the original Persian is densely rhymed and rhythmed, breaks many of the rules of classical poetry. It sometimes runs too long, sometimes too short. His images are playful, full of the richness and abandon of childhood. He compares himself to a magician, creates images the way a wizard makes birds appear from the palm of his hand. "He doesn't try to describe mystical love, he tries to linguistically show it to us," says Fatemeh Keshavarz, professor of Persian language and literature at Washington University in St. Louis. "He mirrors his experience of mystical love." In the Muslim world, many consider Rumi a saint.

"My experience of a poet-saint is that they affect the deepest regions of one's intelligence and heart," says Daniel Ladinsky, a South Carolina poet who works with translations of Shams-ud-Din Muhammad Hafiz, a 14th-century Sufi poet who is also enjoying a revival in America. Mr. Ladinsky learned about the Persian mystical poets while living in a monastic community of sorts in India. He says both Rumi and Hafiz address his "profound need to make sense out of God.... I simply want to get along with the One I have to live with." Addie Wolbach, a mother of three who lives in Boston, began reading the Persian mystics 10 years ago. "People are hungrier and thirstier for things of the heart," says Ms. Wolbach. "I'm not looking for poetry. I'm looking for the 'Master's' words - his 'truth.' " The dual poetic and spiritual nature of Rumi's works has sparked some controversy. In the 19th century, British scholars translated Rumi's work literally, replicating the words and metaphors he used to make his spiritual points. They made "no pretensions to being poetic," says Mr. Ernst. These are the translations that Ms. Wolbach prefers. But for others, the literalness is awkward and inaccessible. Enter poet Coleman Barks. He does not know Persian and works from other people's translations. He also makes no attempt to replicate the rhyme and rhythm of the original Persian, preferring instead to render the essence of the poems into free verse. "Translations should let something of Rumi's culture spill into the translations," says Professor Keshavarz. "Although I do think [Barks] does a good job of capturing the poetic color and fragrance of Rumi." In some poetic circles, the fact that Barks works from other people's translations has raised questions about the authenticity and the relationship of his work to the original.

A spiritual quick fix? "The majority of the people reading Rumi are looking for a spiritual quick fix," says Louisa Solano, owner of the Grolier Poetry Book Shop in Cambridge, Mass. "They have no real interest in poetry at all, other than Rumi." But for those who go to Barks's bimonthly readings around the country, the re-worked Rumi poems are exactly what they're looking for. "It's all about honesty and going in deeply within. He's speaking his 'truth' from a place of clarity and openness," says Josie Hanlon of Boston, who recently attended one of Barks's readings, which was accompanied by traditional Sufi dancing. But whatever one thinks about Rumi's work, his popularity in America is difficult to ignore. "I think it's extremely interesting that at the same time, politically speaking, there is this intense, ideological confrontation with Islamic fundamentalism," says Ernst. "This spirituality that Rumi represents has obviously touched a very deep nerve in the American psyche."


There's a reason the thirteenth-century Sufi mystic Jallaludin Rumi is the best-selling poet in America today: His words express the ineffable longing to merge with the eternal; t