Pertentangan Antara Akal dan Rokhani
Menikmati kehidupan itu paling nyaman apabila bekerja sesuai dengan keinginan hati. Bekerja dengan tidak ada beban. Dan tidak dibawah aturan-aturan yang ketat, tentunya makna kalimat ini dalam konteks yang bertanggung jawab.
Setelah memasuki usia paruhbaya (baca:40-an), mulai terlintas dalam pikiranku untuk segera mengambil paket pensiun dini.
Paket pensiun adalah paket 'momok', bagi yang tidak mempersiapkannya dari jauh-jauh hari, dengan perhitungan yang matang. Karena alih-alih mau pensiun malah jadi pengangguran terselubung. Perencanaaan financial sejak dini dengan disiplin mengalokasikan bagian dari pendapatan untuk investasi adalah suatu hal yang mesti dilakukan. Keseriusan dalam melaksanakan proyek di saat 'nganggur'pun suatu syarat mutlak. Karena menjadi pensiunan adalah menjadi wiraswasta. Wiraswasta adalah pekerjaan terhormat bahkan satu level lebih sulit dibandingkan dengan zona nyaman 'kekaryawanan'.
Beberapa alternatif yang bisa dilakukan pada saat pensiun nanti, umpamanya saja : Menekuni hobby, mengajar, membangun bisnis sendiri, mendirikan yayasan untuk kemanusiaan. Hanya saja mesti diingat bahwa apapun yang direncanakan sebaiknya bertujuan untuk memaknai hidup, bukan lagi menambah setoran.
Pensiun dini adalah uji kematangan diri. Ketika masih karyawan kita bisa menghitung penghasilan per bulan dan kira-kira biaya yang akan dikeluarkan pada bulan berikutnya, tetapi apabila pensiun maka pendapatan tergantung ada pekerjaan atau tidak. Syukur-syukur apabila pensiun, malah mampu menciptakan lapangan kerja untuk kawan-kawan atau saudara yang belum beruntung mendapatkan pekerjaan.
Harapan pensiun dini adalah harapan diri, tentu sangat menyulitkan pasangan suami atau istri, karena perhitungan-perhitungan pencarian rezeki harus mantap terkendali.
Ada kesulitan yang mendera pikiranku, ketakutan akan kejatuhan perhitungan, karena grafik kebutuhan adalah linear sementara pendapatan konstan. Bahkan akan ekstrim pendapatan pun berfluktuasi. Ada kesulitan mempercayai bahwa Allah SWT tetap akan memberikan rezeki umatnya dari jalur yang tak diduga.
Atau serahkan semua persoalan pada Allah SWT, selanjutnya bersyariat melakukan persiapan, pelaksanaan sehingga pintu rezeki terbuka. Masih belum haqul yaqin bahwa rezeki adalah yang memberikan Allah SWT.
Begitulah konflik akal dan ruhani didalam diri pada saat ketuaan mulai melanda diri ini. Perlu keikhlasan, keridhoan, keyakinan bahwa Allah-lah yang memberi rezeki dan tak mungkin menelantarkan hamba-Nya.
Salam,
Http://ferrydjajaprana.multiply.com