ferry's posts with tag: pensiun dini

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag pensiun dini
ReviewReviewReviewReview4 cara Aman Masuk Dunia EnterpreneurMar 27, '08 10:31 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Business & Investing
Author:Bara Investama
Bahwa profesi pengusaha (entrepreneur) menjanjikan peluang peningkatan
penghasilan yang berlipat? Yes, karena itulah banyak diantara kita
ingin jadi entrepreneur sukses. Bahwa profesi pengusaha memungkinkan
kita bebas finasial di hari tua karena tabungan cukup sehingga kita
bisa pensiun lebih tenang dan fokus untuk misi hidup yang lain? Betul
demikian dan sudah banyak yang membuktikan. Hanya saja memang tak
mudah menjadi entrepreneur sukses, terbukti banyak pula yang gagal.

Selain itu, tak sedikit orang yang masuk ke dunia wirausaha dengan
terburu-buru dan emosi. Tanpa pikir panjang dan pertimbangan matang ia
langsung tinggalkan pekerjaan sebelumnya yang notabene merupakan
andalan mata pencaharian keluarga. Angan-angannya langsung melambung,
membumbung, dan membayangkan hidup serba-enak bila menjadi pengusaha
sukses dengan penghasilan berlipat. Ia lupa bahwa berwirausaha juga
punya resiko, resiko gagal dan bangkrut. Ia lupa merencanakan
bagaimana seandainya ia gagal memulai. Harus diakui, banyak sekali
orang bertindak semacam ini, yang akhirnya bukannya makin bersemangat
berwirausaha namun justru menjadi antipati alias benci dan menyesal
kenapa melangkah jadi entrepreneur. Bahkan kadang jadi menyalahkan
orang lain. Apalagi kalau yang hingga cerai dengan istri atau dibenci
sanak keluarga. Cara pandang dan cara memulai entrepreneur 'yang asal
berani' seperti ini tentu saja kurang elegan.

Disini saya ingin memberikan beberapa informasi alternatif cara aman
masuk menjadi entrepreneur sesuai yang saya tahu dari relasi-relasi
saya pengusaha yang sudah terbukti sukses. Kalau kita ingin mandiri
berwirausaha alias menjadi entrepreneur, kita tidak harus langsung
cabut dari profesi lama kita. Tidak perlu grusa-grusu. Kita harus
dengan dingin membedakan antara berani dan nekad. Apalagi kalau yang
sudah punya tanggungan keluarga, kita juga harus menimbang ada sekian
jiwa yang ikut dalam gerbong kita sehingga kalau kita salah kemudi
mereka juga bisa kejeblos.

Berikut ini beberapa informasi cara yang lebih aman untuk pindah ke
kuadran entrepreneur.

Pertama; kita bisa memulai berwirausaha dengan melakukan penyertaan
saham di bisnis teman kita sembari kita tetap kerja dulu di perusahaan
lama kita. Jadi kita setor modal ke kawan yang punya bisnis bagus dan
nanti mendapat bagi hasil. Darisini kita sekalian mulai belajar
mengelola usaha. Pelan-pelan kita mulai aktif terjun di dalamnya dan
membantu kerja bareng dengan si teman itu. Kalau skala usaha joinan
dengan teman itu bagus dan penghasilan dari bagi hasil sudah bisa
untuk menutup kebutuhan hidup kita dan keluarga, barulah kita putuskan
keluar. Jadi ketika kita keluar dari perusahaan lama tidak kaget
karena tetap ada penghasilan.

Kedua, jurus menginjak dua kapal. Artinya, kita masih sebagai karyawan
di sebuah perusahaan mapan, namun di waktu yang sama juga merintis
usaha alias menjalankan usaha milik sendiri. Cara ini dimungkinkan
bagi mereka-mereka yang punya cukup waktu luang sehingga bisa nyambi.
Sebenarnya cara ini sekarang lebih dimungkinkan karena ada HP dan
telpon yang memudahkan koordinasi. Jadi, sementara kita ada di kantor,
kita bisa sembari mengendalikan bisnis sendiri dari jarak jauh. Hingga
skala tertentu nyambi ini sangat dimungkinkan, namun kalau bisnisnya
mulai membesar kita pasti harus cabut. Yang jelas, strategi menginjak
dua kapal ini merupakan pilihan aman dalam melangkah jadi entreprenur.
Satu kaki masih ada di kapal milik perusahaan lain, satu kaki lainnya
untuk melakukan test market untuk membangun bisnis sendiri. Cara ini
paling umum dijalankan oleh para perintis usaha.

Ketiga, kalau anda tidak mau joinan dengan orang lain dan tidak bisa
berdiri di dua kapal, kita bisa berdayakan pasangan kita
(istri/suami). Jadi, sementara kita masih kerja di perusahaan lama,
pasangan kita (istri atau suami) yang mengurusi bisnis sendiri untuk
masa-masa perintisan ini. Artinya sekoci pendapatan keluarga masih ada
yang bisa diandalkan, baik buat beli beras atau susu anak-anak. Kalau
usaha sendiri ini sudah jalan, silahkan saja keluar dari kerja di
perusahaan orang lain itu.

Soal tip yg ketiga ini saya punya contoh kasus riel. Ada pengusaha
sukses kawan baik saya, Pak Budiyanto Darmasatono yang beliau
pengusaha kurir ekspress yang sudah keryawan 2.700 orang. Beliau dulu
waktu awal-awal di jakarta selulus D3 UGM juga gelantungan naik bis
kota. Waktu beliau memulai usaha tidak langsung keluar dari pekerjaan
lamanya sebagai supervisor di Dinners Club, namun istrinya dulu yang
menjalan usaha. Untuk ide dan konsep-konsep bisnisnya tetap Pak
Budiyanto yang memotori. Istrinya yang melakukan eksekusi. Kalau ada
meeting2 yang penting, beliau juga cuti dari kantornya dan ikut istri
melakukan presentasi ke calon klien. Jadi dia tidak gegabah langsung
cabut dari kerjaan kantor lamanya.

Nah, ketika usahanya sudah berjalan baik dan pendapatannya mulai bisa
diandalkan, barulah ia keluar secara baik-baik dari perusahaan
lamanya, berpamitan dengan sopan untuk usaha sendiri. Bisnis sendiri
itupun langsung ia komandani dan menjadi dirut-nya. Bisnis itu
kemudian makin berkembang dan pengusaha yang rajin berbagi ke yatim
dan fakir-miskin ini sekarang sudah punya 2.700 karyawan dengan kantor
operasional sudah ada di semua propinsi di Indonesia. Yang pasti, tip
ketiga ini tentu saja berlaku untuk yang ketika akan mulai mandiri
berwirausaha sudah berkeluarga, kalau yang masih single tentu saja
pasangan Anda ini bisa kakak atau Adik anda. Ini cara sukses dan aman
untuk masuk ke kuadran entrepreneur namun tidak mengganggu keamanan
sumber penghasilan keluarga.

Keempat, kalau Anda sudah ngebet sekali untuk menjadi entrepreneur dan
yakin bakal sukses merasa tak perlu pakai ban serep seperti itu,
setidaknya Anda tetap bisa melakukan pengamanan lain, yakni dana
pendidikan anak. Cara ini juga dilakukan salah satu pengusaha kawan
saya, Pak Harijanto, pengusaha sepatu produsen Nike dan Piero yang
punya karyawan 9.000 orang. Ketika beliau akan menjadi entrepreneur
dengan membeli saham perusahaan dimana ia bekerja ia juga
mempertaruhkan masa depannya: bisa sangat sukses namun juga bisa
menjadi miskin kalau gagal. Nah, untuk mengamankan proses untuk
menjadi entrepreneur ini, beliau dan istri mufakat. Lalu diputuskan,
beliau maju menjadi entrepreneur dengan membeli perusahaaan dimana ia
bekerja namun sebelumnya tabungan pendidikan untuk anak tidak boleh
diotak-atik. Tabungan anak harus tetap ada dan disendirikan. Jadi
katakanlah proses dia menjadi entrepreneur itu gagal, dana pendidikan
anak tetap aman.

Kawan-kawan, jadi itu beberapa kiat aman pindah ke kuadran
entrepreneur. Semoga dengan cara itu proses transisi kita menjadi
pengusaha bisa sukses dan melegakan semua pihak, tidak ada
penyesalan-penyesalan. Silahkan kawan2 yang ingin memulai usaha
memilih jalan yang terbaik.

Kawan-kawan semua bisa meyimak lebih dalam tentang kiat-kiat menjadi
entrepreneur ini (termasuk kisah Pak Budianto Darmastono dan Pak
Harijanto) di buku erbitan Gramedia, "10 Pengusaha Yang Sukses
Membangun Bisnis dari 0" disusun Sudarmadi yang baru saja dicetak
ulang. Kita bisa belajar kiat memulai dan mengembangkan bisnis dari 10
pengusaha yang sudah terbukti dan skala bisnisnya tidak tanggung.


Demikian saja, semoga informasi ini bermanfaat dan saya ikut berdoa
semoga sukses buat kawan2 semua.

Wassalam

Blog EntryPensiun DiniSep 3, '07 6:53 AM
for everyone

Pertentangan Antara Akal dan Rokhani

Menikmati kehidupan itu paling nyaman apabila bekerja sesuai dengan keinginan hati. Bekerja dengan tidak ada beban. Dan tidak dibawah aturan-aturan yang ketat, tentunya makna kalimat ini dalam konteks yang bertanggung jawab.

Setelah memasuki usia paruhbaya (baca:40-an), mulai terlintas dalam pikiranku untuk segera mengambil paket pensiun dini.

Paket pensiun adalah paket 'momok', bagi yang tidak mempersiapkannya dari jauh-jauh hari, dengan perhitungan yang matang. Karena alih-alih mau pensiun malah jadi pengangguran terselubung. Perencanaaan financial sejak dini dengan disiplin mengalokasikan bagian dari pendapatan untuk investasi adalah suatu hal yang mesti dilakukan. Keseriusan dalam melaksanakan proyek di saat 'nganggur'pun suatu syarat mutlak. Karena menjadi pensiunan adalah menjadi wiraswasta. Wiraswasta adalah pekerjaan terhormat bahkan satu level lebih sulit dibandingkan dengan zona nyaman 'kekaryawanan'.

Beberapa alternatif yang bisa dilakukan pada saat pensiun nanti, umpamanya saja : Menekuni hobby, mengajar, membangun bisnis sendiri, mendirikan yayasan untuk kemanusiaan. Hanya saja mesti diingat bahwa apapun yang direncanakan sebaiknya bertujuan untuk memaknai hidup, bukan lagi menambah setoran.

Pensiun dini adalah uji kematangan diri. Ketika masih karyawan kita bisa menghitung penghasilan per bulan dan kira-kira biaya yang akan dikeluarkan pada bulan berikutnya, tetapi apabila pensiun maka pendapatan tergantung ada pekerjaan atau tidak. Syukur-syukur apabila pensiun, malah mampu menciptakan lapangan kerja untuk kawan-kawan atau saudara yang belum beruntung mendapatkan pekerjaan.

Harapan pensiun dini adalah harapan diri, tentu sangat menyulitkan pasangan suami atau istri, karena perhitungan-perhitungan pencarian rezeki harus mantap terkendali.

Ada kesulitan yang mendera pikiranku, ketakutan akan kejatuhan perhitungan, karena grafik kebutuhan adalah linear sementara pendapatan konstan. Bahkan akan ekstrim pendapatan pun berfluktuasi. Ada kesulitan mempercayai bahwa Allah SWT tetap akan memberikan rezeki umatnya dari jalur yang tak diduga.

Atau serahkan semua persoalan pada Allah SWT, selanjutnya bersyariat melakukan persiapan, pelaksanaan sehingga pintu rezeki terbuka. Masih belum haqul yaqin bahwa rezeki adalah yang memberikan Allah SWT.

Begitulah konflik akal dan ruhani didalam diri pada saat ketuaan mulai melanda diri ini. Perlu keikhlasan, keridhoan, keyakinan bahwa Allah-lah yang memberi rezeki dan tak mungkin menelantarkan hamba-Nya.

Salam,

Http://ferrydjajaprana.multiply.com



© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help