ferry's posts with tag: tasawuf
Seri Ke 19 Belajar Tasawuf
Oleh : Ferry Djajaprana
Dalam pandangan fisika kuantum 1) kita mengenal apa yang disebut medan gaya. Medan ini dapat didefinisikan sebagai struktur tidak terlihat yang menempati ruang angkasa dan kita mengenali melalui pengaruhnya.2) Medan-medan ini menurut Gary Zukav, "merupakan inti alam semesta. Benda-benda yang kita amati dalam berbagai percobaan, yakni manifestasi fisik materi sebagai partikel, merupakan efek sekunder dari Medan"3). Kesimpulan ilmiah ini mau tidak mau mendorong para ilmuwan untuk menjauhi cara berfikir materialistik dan parsial yang dominan. Sebaliknya, teori medan memaksa ilmuwan untuk berfikir tentang sebuah alam yang mengandung berbagai pengaruh yang saling bertemu dan struktur tak terlihat saling berhubungan.
Kesadaran akan keberadaan Sang Maha Cerdas telah memasuki bumi, turun ke dalam mencapai hubungan puncak. Sebuah peradaban baru telah lahir. Sekarang kita tepat berada di tengah-tengah masa transisi dimana dua dunia bercampur; dunia lama tetap bertahan dengan begitu kuatnya dan terus saja mendominasi kesadaran kaum awam, dan kesadaran baru muncul secara diam-diam, evolutif, tanpa diketahui sampai sedemikian rupa sehingga secara eksternal dunia telah sedikit demi sedikit berubah untuk sementara waktu, kemudian dunia baru ini akan bergulir, tumbuh sampai pada suatu hari akan menjadi cukup kuat untuk berdiri sendiri 4)
Menurut Einstein, bahwa ruang dan waktu bukanlah entitas-entitas terpisahkan. Keduanya merupakan sebuah kontinum, atau aspek-aspek yang berbeda dari sesuatu yang penting dan sama. Kemampuan puncak saling bertukar tempat dari keduanya seperti kemampuan yang dimiliki materi dan energi. 5)
Tulisan yang tersebut di atas sengaja kami paparkan sebagai prolog karena dalam kehidupan zaman sekarang ini sesungguhnya kita sudah masuk ke zaman nuklir, ada pengalaman menarik yang dialami oleh seorang penulis Argentina Jorge Luis Borges yang terkagum-kagum ketika memahami mistik dan fisika kuantum, dia menjelaskan sebuah pandangan yang biasanya dimiliki oleh para mistikus dan idealis, yakni sifat halusinatif dunia ini. Katanya, "Kita (Tuhan Yang Maha Esa yang bekerja pada diri kita) telah memimpikan dunia ini. Kita telah memimpikannya sebagai abadi, misterius dan dapat dilihat, hadir dalam ruang dan tetap dalam waktu; tetapi kita setuju dengan interval-interval ketidak logisan arsitektur dunia yang renggang dan kekal yang mungkin kita mengetahui bahwa itu keliru", papar Jorge Luis Borges. 6)
-o0o-
Demikianlah celotehan para fisikawan quantum yang merasakan keberadaan Dzat Maujud Mutlak yang berada di luar cakrawala pengetahuan dan pengalaman manusia.
Data yang ada pada manusia hanya memungkinkan cakrawala itu bergeser, sehingga medan pemahaman tentangnya makin bertambah. Demikianlah para ilmiawan itu mengintip lewat celah-celah fisika kuantum, makin hanyut dalam ketakjuban. (QS. Al Mulk: 4). Dalam bahasa matematika batas atas disebut limit. Definisi limit adalah nilai-nilai suatu pengalaman manusia senantiasa mendekati ambang limit, tetapi dia takkan bisa melampauinya. Ambang limit itu sendiri merupakan ungkapan yang tak terbatas dan tak terperikan. Kehendak melampaui ambang ini adalah upaya mahluk keluar dari ketaksempurnaan dirinya. Akan tetapi, begitu ia keluar dari ambang ini, ia akan tertelan dalam Kekosongan - jati diri eksistensinya akan lenyap dalam Ketakterbatasan. Pada saat itu disebut fana oleh ahli makrifat. 7) mengikuti firman Allah :
"Semua yang berada di alam (ciptaan) akan merasakan fana (musnah, binasa). Dan tetap kekallah Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (QS. Ar Rahman : 26-27).
Bahasa sebagai hasil pengalaman manusia tidak akan bisa menangkap Ketakterbatasan, karena hal itu bertentangan dengan kodrat penalaran manusia yang cenderung mengurai, dan membatasi. Sesuatu yang tak terungkap dan tak terbatas, pastilah tak kan terurai. Artinya sesuatu yang tak terurai ini tidak mungkin dicerap oleh manusia. Wujud Mutlak atau Pewujud berada di luar analitis dan definisi, observasi ataupun verifikasi, ia hanya bisa di umpamakan dan dibayangkan, disembah dan dipuji, diagungkan dan diseru dengan keimanan dan penghambaan.
Lalu bagaimana cara mengenal Wujud Mutlak ini? Caranya mintalah kepada-Nya untuk memperkenalkan Diri-Nya. Agama adalah wilayah pengungkapan Ilahi. Melalui kalam dan wahyu Ilahi wujud mutlak atau Allah itu memperkenalkan Diri-Nya dalam bahasa perumpamaan (mitsal) dan tanda (ayat) yang bisa dipahami oleh pikiran manusia.
Untuk memperkenalkan Diri-Nya, Allah menciptakan tanda-tanda dan perumpamaan. Dengan tanda dan perumpamaan ini Allah menyingkapkan Diri-Nya kepada mahluknya.
Sebagai contoh, ketika X bergerak kita memahami bahwa gerakan X adalah proses yang harus dilalui X untuk menuju kepada kesempurnaannya. Tentunya pusat yang dituju oleh X tidak mungkin bergerak-gerak, karena akan menggugurkan asumsi bahwa gerakan adalah proses penyempurnaan. Oleh karena itu, mesti kita simpulkan bahwa gerakan semua benda menuju kepada Pusat yang tidak bergerak, yakni Wujud yang Maha Sempurna sehingga Wujud itu kita sebut Penggerak yang tidak bergerak.
Bibliography :
1) Talbot, Michael; Mistisisme dan Fisika Baru, (Asli : Mysticism and the new Phisycs. Beyond Space and Time, Beyond God, to the Ultimate Cosmic Consciousness)Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002, hal. 258
2) Margaret J. Wheatley, Leadership and the New Sciences, Abdi Tandur, 1997 hal. 35
3) Gary Zukav, The Dancing Wu Li Masters, Bantam books, 1979, hal 199
4) Talbot Michael; ibid, Satprem, Sri Aurobindo or the adventure of consciousness, hal. 149
5) Talbot Michael, Ibid, hal. 119
6) Talbot Michael, Ibid, hal,1
7) Kahzim, Musa; Tafsir Sufi Mendedah Masalah Ketuhanan dalam Al Quran, Penerbit Lentera Basritama, Jakarta, 2003. (Hal. 44-63)
Glossary :
1) Fisika Quantum = Cabang fisika yang mempelajari atom-atom 2) Kuantum = Satuan diskret energi 3) Medan gaya = Ruang dimana garis-garis gaya listrik, magnetik atau dinamis bekerja
Salam, Http://ferrydjajaprana.multiply.com Http://tasawuf.multiply.com
Seri ke 15. Belajar Tasawuf Oleh : Ferry Djajaprana Manusia terbentuk dari dua prinsip yang berbeda. Jasmani dan rohani. Oleh karena itu ia mempunyai dua dimensi, dimensi samawi dan dimensi bumi, satu aspek bersifat kekal dan lainnya fana. Orang-orang yang arif mengetahui bahwa kedua aspek ini saling berkaitan erat sehingga setiap jenis disorientasi dari kedua aspek ini mempengaruhi yang lainnya. Konsekwensinya setiap hal yang hanya tertuju kepada salah satu wujud ini akan gagal mencapai kebahagiaan yang menyeluruh karena tidak berkaitan dengan realitas yang sesungguhnya. Di masyarakat modern umumnya kita tidak mendapatkan keseimbangan dalam konsep pemikiran, karena ada kecenderungan untuk memilih ke arah salah satu titik ekstrim, apakah aspek material ataupun aspek spiritual. Perhatian mereka berpusat kepada alam semesta atau pada manusia saja, tidak menguak lebih dalam hakikat keberadaan manusia dan alam ini. Hancurnya nilai sakralitas pandangan manusia dan alam menyebabkan seolah-olah kehancuran alam dan manusia tidak dapat dicegah lagi. Untuk itu agar manusia dapat merasakan integritas manusia dan alam itu secara utuh manusia harus berada di titik pusat. Sehingga mampu mengambil jarak dari kenyataan yang senantiasa berubah. Dengan kata lain manusia modern harus memikirkan kembali kehadiran Tuhan yang menjadi landasan pijakan atau dengan kata lain manusia modern membutuhkan agama untuk mengobati krisis yang dideritanya.
Tasawuf sebagai terapi krisis Sebagian orang berpendapat bahwa tasawuf mengakibatkan kemunduran dan kejujumudan umat Islam. Seyyed Hossein Nasr dalam bukunya Sufi Essays (1972) , salah satu bab dari buku tersebut "Apa Yang Dapat Diberikan Islam kepada Dunia Modern" (What Does Islam Have to Offer to the Modern World?), dan buku karangannya yang lain, Islam and the Plight of Modern Man (1975), justru berpendapat sebaliknya, bahwa tasawuf tidak dapat dijadikan kambing hitam akan kemunduran Islam, gerakan Wahabisme di Saudi Arabia dan Ahli Hadis di India yang menolak tasawuf dari agama Islam membuat agama Islam tereduksi sampai tinggal doktrin fiqih saja yang kering dan kaku sehingga ”tidak berdaya” menghadapi gempuran kebudayaan Barat. Dengan Tasawuf ajaran yang bersifat metafisis dan ma'rifat (gnostic) dapat dijelaskan sesuai intelektual. Dimensi spiritual tasawuf sangat dirindukan oleh manusia yang sedang mencari Tuhannya. Bahkan, tasawuf mendapatkan tempat bagi orang-orang Barat Modern yang merasakan kekeringan bathin dan kehampaan spiritual dan pemenuhannya kian mendesak. Mereka berpetualang ke negeri-negeri Timur untuk mencari-cari spiritualitas dalam Kristen, Budha dan Hindu atau sekedar berpetualang kembali ke alam hanya untuk membuang kebosanan dan kejenuhan akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan Industri. Sedangkan Agama Islam tidak dilirik karena persepsi mereka agama Islam penuh dengan kekerasan. Untuk itu sesuai dengan kebutuhannya, sebaiknya mulai diperkenalkan kepada mereka sebagai alternatif karena mereka hanya memahami bahwa sudah berabad-abad Islam hanya dikenal dari sisi legal formal saja. Orang Barat memahami yang berspiritual itu hanya orang-orang Hindu dan Budha, mereka masih merasa asing jika Nabi Muhammad diidolakan sebagai tokoh spiritual, mereka mengenal Rosul hanya sebagai panglima perang saja dan membebani umatnya dengan kewajiban-kewajiban yang banyak. Ajaran tasawuf bertujuan memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan. Sehingga orang-orang merasa di hadiratnya. Caranya adalah dengan kontemplasi, melepasakan diri dari jeratan kehidupan duniawi yang bersifat sementara dan selalu berubah. Masyarakat Barat di era modern ini terlalu mengagungkan keabsahan kacamata ilmiah dan telah kehilangan penglihatan matahatinya (intellectus) akan sulit menangkap bayang-bayang Tuhan apalagi untuk berdialog. Mereka kehilangan "benang merah" yang menghubungkan manusia dengan titik pusat yang dilakukan untuk melakukan pendakian menuju ma'rifat. Kesulitan ini disebabkan karena selain masyarakat modern hanya mengagungkan materi juga mengkultuskan rasio sehingga membuat mata hati (intellectus) mereka tertutup. Solusinya mereka harus berlatih untuk mengembalikan kesadaran Ilahiah dengan cara menjalankan ajaran tasawuf. Sehingga terjadi keseimbangan (equilibrium) antara kekuatan rasio yang berpusat di otak dan ketajaman mata bathin yang berpusat di dada.
Tasawuf dan Integrasi Kehidupan Islam adalah agama tauhid, sementara itu tasawuf adalah dimensi spiritual Islam, dengan demikian keduanya bertalian erat. Tujuan utama tasawuf adalah pengutuhan manusia dengan seluruh kedalaman dan keluaran keberadaannya dan seluruh keluasan yang tercakup dalam pribadi manusia yang disebut manusia sempurna (insan kamil), Tujuan tasawuf adalah mencapai kesadaran murni dan menyeluruh. Manusia yang terdiri dari tubuh, pikiran dan jiwa masing-masing perlu diutuhkan kembali sesuai dengan tingkatannya sendiri. Tasawuf juga berusaha mengutuhkan berbagai ilmu yang berkembang ke dalam perspektif dengan tepat. Peranan jalan kerohanian (thariqat) dalam pengukuhan manusia adalah sesuatu yang hakiki, karena hanya melalui kehadiran Tuhan dan barakah yang terkandung di dalamnya yang telah ditunjukkan ke dalam al Quran semua unsur yang tercerai berai dalam diri manusia dapat dipadukan kembali. Semua manusia pasti mengharapkan dapat mencapai kebahagiaan baik itu kebahagiaan dunia maupun kebahagiaan akhirat. Masalahnya adalah bagaimana agar kedua macam kebahagiaan tersebut dapat dicapai dengan tidak mengorbankan salah satu dari keduanya? Dalam menyikapi kedua kebahagiaan tersebut manusia dapat digolongkan menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok yang memilih mengejar kehidupan akhirat dan mengabaikan kebahagiaan dunia. Kelompok kedua adalah kelompok yang mengejar kebahagiaan duniawi dengan mengabaikan kehidupan akhirat (ukhrowi). Dan yang terakhir adalah kelompok yang mengejar kebahagiaan dunia dan akirat. Masyarakat Barat juga sebagaian masyarakat modern yang hidup kebarat-baratan kebanyakan hidup hidup dalam suasana sekularisme dengan mengorienstasikan hidupnya untuk mengejar kehidupan duniawi saja serta mengabaikan kehidupan rohaninya. Karena itu ketika kesenangan duniawi yang merupakan buah dari ilmu dan teknologi telah diraihnya jiwa-jiwa mereka tetap lapar dan kehausan, karena kehidupan spiritual mereka dicampakkan. Mereka menderita bathin kemudian mencoba lari untuk mengejar untuk memenuhi hasrat spiritual mereka. Menurut Nasr, pencarian spiritual ini sebenarnya merupakan fitrah (perenial)nya manusia secara alami baik individual maupun kolektif. Ketika suatu masyarakat mengabaikan kehidupan spiritual dan hanya mengejar materi (duniawi) sebaliknya orang-orang yang mengejar kehidupan mistik semakin sedikit pada saat itu pula masyarakat tersebut akan ambruk ditimpa beban berat strukturnya. Dengan ambruknya struktur tersebut maka masyarakat itu mencari pemecahan masalahnya karena tidak mampu mencari pengobatan penyakit psikisnya, penyakit rohani sebagai akibat dari malasnya memberi nutrisi pada rohaninya. Dalam Islam perenialisme diidentikan dengn fitrah. Alquran menggunakan kata fitrah untuk menunjukkan nilai kemanusiaan yang berpangkal pada kejadian asal manusia yang suci. Yang membuat sang pemilik tubuh memiliki kesucian dan kebaikan. Fitrah merupakan kelanjutan perjanjian primordial antara Tuhan dan ruh manusia, sehingga ruh manusia dijiwai oleh suatu kesadaran tentang Kekuatan Yang Maha Tinggi yang merupakan awal dan tujuan semua yang ada dan berada di atas alam ini. Nasr mengingatkan bahwa tasawuf adalah tradisi Islam, jadi jangan sampai disejajarkan dengan mistisisme lain di luar Islam, oleh karena itu pelaksanaannya harus melalui syariat terlebih dahulu sebelum melalui jalur thariqah. Seluruh cara spiritual (tharikah) dalam tasawuf sesungguhnya bertujuan untuk membebaskan manusia dari penjara berbagai masalah kehidupan manusia, menyembuhkan mereka dari kemunafikan, dan menjadikan mereka menjadi manusia yang utuh, karena hanya dengan menjadi manusia yang utuh saja manusia dapat diliputi kesucian. Karena banyak manusia yang terjebak dalam kemunafikan, musyrik dan mereka menderita dosa syirik (politeisme).
Bibliography : 1) Drs. Syamsuri MA, Tasawuf dan Terapi Krisis Modernisme, Majalah Dzikir No.09/I/06, CV Sejahtera Offset, Jakarta, 2006 2) Hossein Nasr, Seyyed. Sufi Esays, ABC International Group, Chicago, 1999 3) Hosein nasr,Seyyed. Islam and the Plight of Modern Man ,1975
Http://ferrydjajaprana.multiply.com http://tasawuf.multiply.com
Terimakasih atas inputannya. Kayaknya Mas penasaran dengan kaum Mutazilah ya? : ) Agar jelasnya saya jelaskan satu persatu. Mutazilah itu asal katanya A’tazala artinya mengambil jarak, memisahkan diri, atau mengundurkan diri. Penggunaan kata Mutazilah ini ada dua pemahaman, kaum mutakalimun memahami mutazilah dalam konsep pembahasan masalah kalam yang berisi tentang doktrin dasar atau akidah pokok Islam (ushuluddin). Perselisihan hokum fikih ini menimbulkan terbentuknya mazhab Ja’fari, Zaidi, Khanafi, Syafii, Maliki dan Hambali. Masing-masing mazhab memiliki fikihnya sendiri. Demikian juga dengan akidah, mereka memiliki mazhab sendiri, mazhab ini diantaranya adalah :Syiah, Mutazilah, Asy’ariyah dan Murjiah. Pembahasan masalah fikih ini tidak dibahas. Mazhab ini muncul akhir abad pertama atau awal atau awal abad ke dua Hijriyah. Konsep ajarannya yang populer adalah manzilah bainal manzilatain (sebuah posisi diantara dua posisi). Para ahli kalam mutazilah yang popular adalah : Al Qadhi Abdul Jabbar Al Astarabadi (meninggal tahun 415 H/1025) buku karangannya : Al Ushul Al lhamsah, dan Ash Shahid bin Abbad (W. 385H/995 M). Perhatikan tahun wafatnya.. Dan mutazilah yang ke dua adalah sebuah aliran pemikiran yang muncul akibat kontroversi setelah terjadinya perang saudara antara pihak Ali Bin Abi Thalib dan pihak Zubayr dan Thalhah, aliran ini timbul akibat reaksi terhadap keabsolutan pandangan hitam diatas putih gerakan Kharijiyyah. Konsep manzilah bainal manzilattain, yang muncul dari majlis Hasan Bashri, yakni “Apakah Muslim yang melakukan dosa besar tetap sebagai muslim atau tidak?”. Terhadap masalah ini pihak Kharijiyah menganggap bahwa orang itu sudah tidak beriman dan ia harus dihukum bunuh. Hasan Bashri mengatakan bahwa orang itu tetap beriman hanya saja perilakunya munafik, Wasil ibn Atho (w 131/748) kedudukan orang tersebut berada diantara , bukan mukmin dan bukan kafir, pandangan ini yang disebut Mutazilah, yakni orang yang memisahkan diri dari Hasan Bashri sebagai guru besar yang terpercaya perkataannya. Berdasarkan konsep ini maka saya menyebut bahwa berawal dari sinilah kaum sufi berawal secara politik, berawal dari majlisnya Hasan Bashri, yang nota bene beliau adalah tokoh sufi. Tentang rentetan mursyid umumnya adalah keturunan nabi, memang kata ini tidak tepat sekali makanya saya menyebutnya dengan kata ‘ umum nya’ artinya masih ada mursyid yang bukan habib, tentu hal ini perlu check dan recheck. Contoh tarekat Naqshabandi Al Haqani, mursyidnya adalah keturunan Rosul, Alawiyah yang di Surabaya, mursyidnya juga habib. Konon dahulu kala, saat Islam baru berkembang di bumi pertiwi ini, Syekh Siti Jenar sempat stress pada saat dia berguru di Baghdad, karena sebagai keturunan Jawa dia tidak bisa menjadi mursyid untuk tarekat yang dia ikuti, makanya beliau membuat tarekat akmaliyyah yang bernasab ke dirinya. Tarekat pada masa itu belum sepesat sekarang pekembangannya. Syekh Siti Jenar berprinsip kesetaraan derajat antara kawula lan gusti, demikian juga kedudukan mursyid tidak perlu harus bernasab kepada Rosul. Bahkan sekarang ini ada tarekat yang bernasab langsung ke Rosul, hanya sekedar melalui impian, yaitu bertemu dengan Rosul hanya melalui mimpi! Siapa yang berani jamin keabsahannya? Perihal Abu Yazid Al Bushtami, bahwa beliau bukan seorang habib, itu benar. Konsepsi tentang rentetan mursyid sudah dijelaskan di atas. Sebagai rangkuman penyambung antara tasawuf dan tarekat adalah sebagai berikut : Dimulai dari Rosul, Nabi dan sahabat beramal dan berbudi pekerti sesuai tasawuf. Ajaran tasawuf adalah ajaran yang sesuai dengan Al Quran dan Al hadits, pada 11 H, banyak orang Islam yang bermewah-mewahan, berlaku sombong, takabur dan menumpuk harta, sebagian dari mereka ingin kembali hidup sederhana, mengikuti gaya hidup Rosul, merekalah yang dinamakan orang tasawuf atau orang-orang sufiyah. Madrasah dengan ajaran tasawuf mulai didirikan oleh sahabat Hudzaifah bin Yamani, tetapi kata ‘tasawuf’ belum popular saat itu. Imam sufi yang popular pertama adalah Hasan Al Bashri, ulama tabiin, beliau murid pertama Hudzaifah bin Yamani, sahabat Hasan al Bashri diantaranya : Malik bin Dinar, Tsabit al Banay, Ayub As Sakhtiayani, Muhammad bin Waasik, mereka adalah ulama besar Tasawuf pada permulaan abad ke 2 H. Bashri kemudian mendirikan madrasah Tasawuf di Bashra, madrasah ke dua dipimpin oleh Malik Ibnu Musayya, yang ke tiga dipimpin oleh Ibrahim bin Adham, di Khurasan. Setelah ilmu tasawuf meluas kemudian banyak masyarakat yang pro dan kontra, yang jelas ilmu tasawuf berasal dari Rosul SAW dan sahabat-sahabat beliau. Tentang tarekat yang dipaparkan dengan kiasan bahwa mursyid itu seperti ratu lebah, bisa dikatakan saya sepakat. Tentang dugaan bahwa Syiah awalnya adalah tarekat , saya kurang sependapat, menurut saya syiah adalah ajaran kalam. Syiah artinya partai Ali, atau pendukung kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Mereka menegaskan bahwa Alilah yang berhak atas kekhalifahan atas izin Tuhan. Dan ia menerima mandatnya dari Nabi Muhammad SAW,karena Ali memiliki keistimewaan otoritas spiritual, kemudian beralih kepada anak dan keturunannya. Adapun hipotesis Mas Ali yang mengatakan bahwa Imam 12 adalah mursyid, menurutku kurang tepat. Karena konsep imam di syiah tidak sama dengan imam di suni, imam di Suni adalah pemimpin shalat, di syiah maknanya imam adalah sebagai model keteladanan. Di syiah sendiri ada beberapa sekte, diantaranya Ghulat, Syiah Zaydiyah ( lima imam) dsb. Syiah Imam 12 yang dimulai dari Ali bin Abi Thalib. Imam terakhir Muhammad bin Hasan Asykari, dia diyakini menghilang dari permukaan dunia yang disebut ghaybat al sughra (kegaiban kecil) bersamaan dengan kematian ayahnya (873), selama masa kegaiban kecil ini kehendak sang imam diwakili oleh empat orang wakilnya. Setelah kematian wakil ke 4 (940) yang tidak menunjukkan wakilnya lagi, Syiah memasuki fase kegaiban besar (ghaybat al kubra). Selama masa ini tidak ada lagi seorangpun yang bisa berhubungan dengannya, dan kelak akan muncul kembali dalam perwujudan Imam Mahdi. Tentang syiah itsna asyariyah saya tidak memahaminya, apakah yang dimaksud adalah afshariyah? Terakhir untuk tarekat Alawiyah, saya dengar di Surabaya masih aktif, di Jakarta juga masih ada, lokasinya menurut informasi yang bisa dipercaya adalah di daerah Tanah Abang. Detail sudah disampaikan Mas Doel (Qodir). Salam, ---------- >hehehe....Menurut saya, statement bang Verri bahwa rentetan mursyid >umumnya keturunan nabi (syarif/habib) juga tidak tepat. > >Kalau melihat di silsilah martin lings tersebut. Mayoritas justru bukan >para habib. Silsilah tersebut menggabungkan antara link keturunan,dengan >link guru-murid. Mungkin di buku aslinya dibedakan warna (?). >Abu Yazid Albusthami bukan lah seorang habib, melainkan seorang yang >berguru kepada Imam Jakfar Ashodiq. Setahu saya Ibnu Arabi, Hasan Bashri >(belajar pada Ali Bin AbuThalib), Abu Madyan dll juga bukan seorang habib >(please correct me if I wrong). Tetapi semuanya jika dirunut ilmunya akan >sampai pada sufi awal ahlulbait nabi tersebut. > >Menurut saya kalau memang tasawuf awal dikembangkan oleh keturunan >Rasulullah (ahlulbait), maka ya seharusnya dikatakan bahwa memang >merekalah sufi2 awal. >Terlepas dari issue sunnah syiah. >Kalau memang sufi awal justru kaum mutazilah seperti yang dikemukan bang >Verri, mestinya ada bukti-bukti bahwa merekalah pengembang tasawuf awal >(kita bahkan belum pernah membahas paham mutazilah ini seperti apa.... :-)). > >Saya memandang tarekat seperti sarang lebah yang dipimpin oleh seorang >ratu lebah (mursid). Jadi jika ada seorang mursyid (ratu lebah), pasti >akan terbentuk sebuah tarekat. Terlepas dari statement bang Verri bahwa >"penyebutan" tarekat baru diperkenalkan pada abad 4 H. > >Sebuah tarekat, bisa tumbuh dan mati. Matinya sebuah tarekat terjadi >ketika tidak ada lagi diantara saliknya yang memperoleh nur ilmu >kemursyidan. Sehingga tidak ada lagi mursyid dalam terekat tersebut. >Salah satu kesalahan umum sebuah tarekat ketika mencampurkan antara >keturunan dengan kemursyidan tersebut. Misalnya bahwa anak sang mursyid >yang tidak memiliki nur ilmu kemursyidan justru diangkat menjadi pemimpin >tarekat. Atau sebaliknya seorang yang dianggap paling tua/senior otomatis >daingkat menjadi pemimpin tarekat. Ketika pemimpin sebuah tarekat bukan >seorang mursyid, tarekat tersebut bisa dikatakan sudah mati. Mirip seperti >sarang lebah yang ditinggalkan ratu lebah. > >Saya sendiri menduga bahwa syiah sendiri pada awalnya adalah sebuah >tarekat yang dipimpin seorang mursyid. Jika hipotesa tersebut benar, maka >mursyid terakhir mereka kemungkinan adalah imam ke-12 (Muhammad bin Hasan >Asykari, berjuluk Almahdi --> terlepas bahwa dalam paham syiah, Almahdi >masih hidup). Jadi ajaran syiah itsna asyariyah sekarang bisa dipandang >sebagai bekas2 sebuah tarekat. > >Untuk tarekat alawiyah sendiri (dari Fakeh Muqaddam bin Ali baalwi), >menurut hipotesa saya adalah juga merupakan tarekat yang sudah mati (tidak >ada lagi mursyid-nya yang hidup saat ini). Ajaran ratib, tahlil, maulid >dan lainnya bisa dipandang merupakan sisa-sisa sebuah tarekat. > >Salam, -------------------- >Hehehe.. anda masih ingat saja, dalam rentetan mursyid umumnya adalah >keturunan Nabi (syarif/Habib) , kalau kita berpatokan pada hal ini yah pasti >tidak nyambung. Semua yang menjadi petinggi dalam tarekat umumnya yang >masih ada pertalian darah dengan Rosulullah. Kaum mutazilah hanyalah >sebagian kecil dan tentunya kalau mereka tidak bertautan darah dengan Rosul >akan kurang mendapatkan perhatian (kaum rumput), tentunya yang namanya >diarsir dalam batu (jadi prasati) ya petinggi spiritualnya yang nota bene >ya para Syarif itu. Kalau yang ini menjadi acuannya pasti bahasan saya >terdahulu selalu akan salah. > >Salam, >Dj ------------------------ > >Bang Verri, semakin jauh semakin terlihat bahwa klaim bahwa tasawuf awal > >dikembangkan oleh kaum mutazilah betul-betul tidak berdasar. Kelihatannya > >tokoh tokoh tasawuf awal justru keturunan Nabi Muhammad dari Imam Ali bin > >Abithalib dan Fatimah Azzahra binti Muahammad SAW. > > > >Silsilah thoriqoh Alawiyah adalah sbb: > >Fakeh Muqaddam bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Alwi > >bin Muhammad bin Baalwi Al-Habsyi bin > >Abdullah bin Ahmad Al-Muhadjir bin Isa > >Al-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin Ali > >Al-Uraidhi bin Jafar Siddiq bin Muhammad > >Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Sayyidina > >Husein bin Sayyidah Fatimah (Ali bin > >Abi Thalib) binti Sayyidina Muhammad Rasulullah > >SAW > > > >Untuk Thoriqoh Alawiyah, ada penjelasan lebih jelas di > mutabarah. html sbb: > >Thoriqoh Alawiyyah berbedadengan Thoriqoh sufi lain pada umumnya. > >Perbedaan itu, misalnya,terletak dari praktiknya yang tidak menekankan > >segi-segi riyadlah (olahruhani) yang berat, melainkan lebih menekankan > >pada amal, akhlak, danbeberapa wirid serta dzikir ringan. Sehingga wirid > >dan dzikir ini dapatdengan mudah dipraktikkan oleh siapa saja meski tanpa > >dibimbing olehseorang mursyid. Ada dua wirid yang diajarkannya, yakni > >Wirid Al-Lathifdan Ratib Al-Haddad.serta beberapa ratib lainnya seperti > >Ratib Al Attasdan Alaydrus juga dapat dikatakan, bahwa Thoriqoh ini > >merupakan jalantengah antara Thoriqoh Syadziliyah (yang menekankan olah > >hati) danbatiniah) dan Thoriqoh Al-Ghazaliyah (yang menekankan olah > >fisik).Thoriqoh ini berasal dari Hadhramaut, Yaman Selatan dan tersebar > >hinggake berbagai negara, seperti Afrika, India, dan Asia Tenggara > >(termasukIndonesia ). Thoriqoh ini didirikan oleh Imam Ahmad bin > >Isaal-Muhajir lengkapnya Imam Alawi bin Ubaidillah bin > > Ahmadal-Muhajir— seorang tokoh sufi terkemuka asal Hadhramat. Al Imam > > FaqihilMuqaddam Muhammad bin Ali Baalwi, juga merupakan tokoh kunci > > Thoriqohini. Dalam perkembangannya kemudian, Thoriqoh Alawiyyah dikenal > > jugadengan Thoriqoh Haddadiyah, yang dinisbatkan kepada Habib > > Abdullahal-Haddad, Attasiyah yang dinisbatkan kepada Habib Umar bin > > AbdulrahmanAl Attas, serta Idrusiyah yang dinisbatkan kepada Habib > > Abdullah binAbi Bakar Alaydrus, selaku generasi penerusnya. Sementara > > nama“Alawiyyah” berasal dari Imam Alawi bin Ubaidillah bin > > Ahmadal-Muhajir. Thoriqoh Alawiyyah, secara umum, adalah Thoriqoh > > yangdikaitkan dengan kaum Alawiyyin atau lebih dikenal sebagai saadah > > ataukaum sayyid keturunan Nabi Muhammad SAWyang merupakan lapisan > > palingatas dalam strata masyarakat Hadhrami. Karena itu, pada masa-masa > > awalThoriqoh ini didirikan, pengikut Thoriqoh Alawiyyah kebanyakan > > darikaum sayyid di Hadhramaut, atau Ba Alawi.Thoriqoh ini dikenal > pulasebagai</DIV> > > Toriqotul abak wal ajdad, karena mata rantai silisilahnya turuntemurun > > dari kakek,ayah, ke anak anak mereka, dan setelah itu diikutioleh > > berbagai lapisan masyarakat muslim lain dari non-Hadhrami. DiPurworejo > > dan sekitarnya Thoriqoh ini berkembang pesat, diikuti bukanhanya oleh > > para saadah melainkan juga masarakat non saadah , SayidDahlan Baabud, > > tercatat sebagai pengembang Thoriqoh ini, yang sekarangdilanjutkan oleh > > anak cucunya. ---------------------------- > >Sumber gambar sisilah dari bukunya Martin Lings > > > >--- In picts-info@yahoogro ups.com, Verri DJ <verri_dj@.. .> wrote: > >Coba di check di garis sanad, nanti ada perjumpaan di salah satu > >garis keturunan. Memang perlu ketelitian. Mudah-mudahan sudah ada > >konklusinya atau didapat "benang merahnya". > > > >Salam, > >Dj ------------------- > >At 10:08 PM 27/03/08 -0700, you wrote: > > >Ternyata kutipan yang dimaksud bang Verri adalah Terekat Sadziliyah. > > > > > >Berarti yang saya kemukakan mungkin arti ke empat dari "Alawi" ini > >sebagai > > >berikut :-). > > >Beberapa Habaib di Indonesia (kadang juga disebut Ba'alawi) menyebut > > >ajaran mereka sebagai tarekat Alawiyah. Misalnya dapat di baca di > > > > > >Para habaib tersebut adalah keturunan dari garis cucu Rasullullah Husain > > >bin Ali (bukan Hasan bin Ali). > > >Konon penjelas "tariqah" alawiyah mereka adalah Faqihilmuqaddam Muhammad > > >bin Ali Ba'alawi > > >(lahir 574 Hijriyah wafat 653 H) yang tinggal di Hadramaut Yemen . > > >Tasawwufnya dikatakan dari sanad Imam Abu Madyan dan disempurnakan oleh > > >sanad beliau sendiri dari ayahnya dan > > >dari ayah dari ayahnya hingga Rasulullah saw. -------- > > > Tentang Alawiyah > > > > > >Membicarakan satu Alawi, memiliki tiga makna. Apabila kita tidak > > >memahaminya suka di buat bingung, agar tidak bingung mari kita kupas satu > > >per satu. > > > > > >Pertama, Alawi nama kerajaan Maroko yang tergolong sebagai Syarif, > > >keturunan Hasan Ibn Ali Ibn Abi Thalib RA. Benar, seperti yang sudah anda > > >perkirakan, bahwa Alawiyah ini merupakan sekumpulan adat istiadat budaya > > >para habaib (syarif/syarifa) yang hijrah ke Hadralmaut. Sudut pandang > >> anda adalah Alawi dari silsilah kerajaan Maroko. > > > > > >Yang saya tulis, dari sumber yang lain (sumber kedua), Alawiyah ini nama > > >sebuah tarekat yang silsilahnya berasal dari Syaikh Aljazair, Ahmad Al > > >Alawi. Tharekat ini tersebar luas di Afrika Utara di di berbagai Negara > > >Arab, khususnya di Syria. Yang mana pengikut tarekat ini lebih suka > >disebut > > >Sadziliyah. Maksudnya agar tidak terjadi kerancuan dengan aliran > >'Alawiyah > > >yang lain (akan saya tulis pada point ke tiga, setelah yang satu > >ini). Ada > > >satu cerita lucu, saya punya sahabat dulu mengikuti tarekat Sadziliyah di > > >Mesir, dan dia punya afiliasi di Jakarta, sekarang dia sudah tinggal di > > >Jakarta dan masih aktif. Tahun lalu ada pembukaan tarekat Sadziliyah, > > >kebetulan kawan saya yang lain jadi pengurusnya, pada kesempatan > >peresmian > > >tersebut Syeikhnya asal Syria berkunjung ke Indonesia, saya berinisiatif > > >untuk mempertemukan keduanya sahabat saya tersebut karena saya fikir > >mereka > > >masih satu Syeikh, ternyata setelah mereka bertemu, mereka bercerita > >bahwa > > >syeikh masing-masing berbeda, jadi di ranting sini (Indonesia) > >berasal dari > > >dua cabang yang berbeda satu di Mesir dan satunya di Syria, walaupun pada > > >akarnya nanti ada titik pertemuan pada Syaikh Aljazair (logika saya, > > >memperkirakan demikian). > > > > > >Yang ketiga, Alawiyah merupakan suatu keyakinan yang menandakan "pengikut > > >Ali" yang dipeluk oleh etnik Alawi. Yang didirikan di Syria, namun > > >berkembang di Libanon dan Turki. Diperkirakan mereka berasal dari Arabia > > >Selatan yang hijrah ke Utara, dulu mereka disebut Nusairiyyah, karena > > >pimpinan mereka adalah Abu Syu'aib Muhammad Ibn Nusayr, ini juga sering > > >membingungkan dengan Nasorean atau Mandaean di Iraq. Ini tidak kita > >bahas. > > > > > >Lalu, bagaimana dengan ajaran tasawufnya dari Imam Abu Madyan? Abu > >Madyan, > > >nama lengkapnya adalah Syuaib Ibn Hussein Al Ansari (1126-1198M) , tokoh > > >sufi ini terkenal di Aljazair, berasal dari Spanyol. Berguru pada Abu > > >Yazzah Yalunnur Ibn Maymun Al Gharbi (1177), konon Abu Madyan pernah > > >berguru pada Sufi Agung Abdul Qadir al Jillani, Abu Madyan ini memiliki > > >banyak karya yang ditulis dalam bahasa Spanyol. > > > > > >Konon Ibn Arabi pernah berguru kepada Abu Madyan, menurutnya "Abu Madyan > > >adalah gurunya, ia merupakan pemrakarsa tehnik spiritual di tengah > > >masyarakat Barat" sekarang Abu Madyan terkenal sebagai pakar sufi. > > > > > >Apakah ajarannya bisa dikategorikan sebuah tarekat? Kalau dipandang dari > > >literature cukup jelas bahwa Alawiyah adalah sebuah tarekat, ada guru ada > > >murid, ada perkumpulan, ada ajarannya. Bahkan termasuk dalam tarekat yang > > >muktabarah. > > > > > >Fakta tambahan, Pada abad 19 M, tradisi ke sufian menunjuk ke Abu madyan, > > >sebagaimana yang dicontohkan oleh Syaikh Al Buzidi (Syaikh Tarekat > >Darqawi > > >dari tarekat Al Alawi), salah satu instruksinya "Jika engkau tidak mampu > > >menemui pakar spiritual maka pergilah dan berdoalah di depan makam Abu > > >Madya". Abu Madyan di pandang sebagai Quthb Al Ghaus, sebuah gelar > > >spiritual yang menunjukkan pusat penghadiran spiritual dunia. > > > > > >Untuk menjawab lebih lengkapnya bisa juga merujuk ke Turuq Darqawi/ > >Tareqat > > >Syadziliyyah, karena ini saling berkaitan. > > > > > >Salam, ------------------------> > > >Bang Verri, mau nanya sedikit tentang "tarekat" Alawiyah yang banyak > > > >dikutip disiini. > > > >Apa menurut bang Verri "tarekat" Alawiyah ini memang bentuk sebuah > >tarekat > > > >sufi? > > > > > > > >Info dari internet tentang tarekat "Alawiyah" ini kira2 sebagai > >berikut: > > > >"Thariqah Alawiyyah berpegang pada tauhid > > > >Imam Al Asy'ariy, dan Fiqih nya adalah Imam Syafii, dan Tasawwufnya > > > >dari sanad Imam Abu madyan. ...... Amalan seperti ratib yg merupakan > > > kumpulan > > > >hadits, tahlil yg merupakan kumpulan dzikir, maulid yg merupakan > > > >kumpulan shalawat sejarah dan syair atas nabi saw, dan wirid wirid > > > >serta dzikir yg sudah diajarkan oleh Rasul saw." > > > > > > > >Menurut saya, kalau dikaitkan dengan sejarah, yang disebut > > > >"tarekat"Alawiyah ini lebih merupakan sekumpulan adat istiadat budaya > > > >parahabaib (keturunan Imam Ali dan Fatimah binti Rasulullah), > > > >yangberhijrah ke hadzramaut di yemen (kemudian menyebar ke India, > > > >Indonesiadst) .. > > > > > > > >Menurut saya ini bukan merupakan bentuk tarekat sufi. > > > > > > > >Salam,
Seri 2 Oleh : Ferry Djajaprana
Safar, artinya menurut Kamus Tasawuf adalah perjalanan spiritual.1) Safar berasal dari kata asfar, safar merupakan bentuk pluralnya asfar. Safar menurut ahli tasawuf adalah Siyahah Ruhaniyah (perjalanan rekreatif yang bersifat ruhani). Menurut Syeikh Muhyi Ad-Din Ibn Arabi, safar adalah bertawajjuh-nya hati kepada Al-Haqq (Yang Maha Benar) dengan dzikir.
Menurut Syekh Al Hadad, bahwa hidup adalah safar (sebuah perjalanan menuju Tuhan). Safar menurut tarekat Alawiyah adalah suatu cara untuk melakukan perlawanan terhadap hawa nafsu, dan sebagai media pendidikan moral. Inilah perjalanan dari kemajemukan (katsrah) di pinggiran menuju kesatuan (tauhid) di Pusat. Safar dimulai ketika hati berpaling kepada Allah dengan mengingat-Nya (dzikir). Safar sinonimnya sayr wa suluk. Sayr adalah untukmemandang karakteristik yang menonjol dari perjalanan spiritual dan suluk berarti melewati tingkatan-tingkatan.
Konsep Perjalanan Spiritual Untuk Bertemu Dengan Allah
Yang dimaksud perjalanan spiritual adalah perjalanan untuk “bertemu” dengan Allah. Konsep bertemu disini maksudnya bukan pertemuan antara dua sosok wujud seperti di alam dunia ini. Kenapa bukan dua sosok wujud? Karena hanya Allah saja yang memiliki sifat Wujud. Sedangkan wujud manusia (maujud) keberadaannya hanyalah manifestasi Allah. Manusia terkungkung di dalam ruang dan waktu, sementara Allah terlepas dari ruang, waktu dan arah. Untuk itu kita dilarang membayangkan Wujud Allah sebagai suatu yang terukur, berbentuk dan terperangkap dalam dimensi ruang dan waktu. Apabila kita melakukannya, maka seluruh imajinasi tentang Sifat Allah itu batal.
Meyakini Asma Allah dan Sifat Allah itu merupakan manifestasi pertemuan (liqo) di dalam perjalanan spiritual. Wujud interaksinya adalah amaliyah dan kesalehan amaliyah kita disamping keikhlasan sejati, tanpa ada unsur kemahlukan atau unsur motivasi keinginan diri di dalam beribadah kecuali Lillahi Taala semata. Melalui peneladanan kita kepada rosulullah SAW, baik di dalam perilaku keislaman, keihsanan maupun keimanan beliau, atau perilaku dalam ibadah, ubudiyah maupun abudah, atau dalam terminologi tasawuf, meneladani syariat, tharikat dan hakikat.
Para waliyullah selalu memandang Allah di dunia ini dengan mata hatinya bukan dengan mata kepalanya. Hatinya dipenuhi cinta, rukunnya senantiasa menyandang keagungan Nya dan rahasia ruh-Nya menjadi hamparan ma'rifatnya.
Dalam tradisi Sufi ada kata mutiara, yang berbunyi “Man arafa nafsahu faqod arafa Robbahu”, barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mudah mengenal Tuhannya, ini adalah salah satu jalan untuk mengenal Tuhan melalui pengenalan diri yang lebih dalam.
Sayangnya, semakin berkembangnya jaman, dan semakin spesialisasi ilmu yang dimiliki, membuat keutuhan manusia dibagi menjadi bagian-bagian. Manusia dikaji sebagai material saja, bukan dilihat secara hakekat menyeluruh. Dengan intelektualnya manusia mengkaji objeknya yang terlepas dari ruhani, membuat obyek kajiannya semakin menjauh dari Tuhannya.
Konsep perjalanan Ruhani
Firman Allah, yang artinya “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu dan telah kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang. Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang kepada Agamanya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka jalan yang lurus.
Kini sudah saatnya manusia mengenal makna kembali ke Sang Pencipta, sesuai kalimat “Inna Lillahi Wa ina Ilaihi Rajiun”, bahwa segala sesuatu adalah milik-Nya dan hanya kepada-Nya lah kita akan kembali. Kalimat diatas biasa kita ucapkan apabila mendengar kematian seseorang, tetapi memiliki falsafah yang dalam, kalimat tersebut menandakan bahwa manusia merupakan bagian dari ciptaan-Nya, Dzat Yang Maha Kuasa.
Abu Ya'kub Ash-Shusi mengatakan bahwa seorang musafir membutuhkan empat hal. Pertama, ilmu yang akan membantu untuk membuat strategi (Ilmun Yasuusuh). Kedua, sikap wara' yang dapat mencegahnya dari perbuatan haram (waraun yuhjiruhu). Ketiga, semangat yang menopangnya (jiddun yahmiluhu), dan yang terakhir, moral yang baik untuk menjaganya.
Tahapan Perjalanan Spiritual
Tahapan perjalanan spiritual masing-masing individu berbeda antara satu dengan lainnya. Media pengungangkapannya pun berbeda. Umpamanya perjalanan spiritual ala Al 'Aththar bisa dibaca dalam kitabnya “Musyawarah Burung”, perjalanan ruhani ala Jalal Al- Din Rumi dengan gaya metaforik dan bait-bait puisi yang menyentuh hati, atau dengan ala Ibn Arabi dengan gaya filsafat mistis. Contoh yang akan saya kemukakan berikut adalah ala Allamah Husyein Tabatabai. Menurut Tabatabai, riyadhah (latihan kezuhudan) dan berserah diri secara total merupakan perangkat yang diperlukan dalam perjalanan spiritual.
Pertama, konsentrasikan pemikirannya sehingga ingatannya tidak pernah beralih, melainkan hanya kepada Allah. Kemudian , bermeditasi atau kontemplasi (muroqobbah) dengan cara melakukan perenungan dimanapun, dari tahap awal hingga tahap akhir, hasil renungan ini adalah berkobarnya api cinta di dalam hati terhadap yang absolut. Meditasi secara total dapat mengungkap “selubung” yang akan terbuka sampai akhir. Cintanya itu akan membawa suara hati, yang menunjukkan ke jalan Allah. Lalu, ketika pejalan ruhani melanjutkan meditasinya untuk waktu yang lama, secercah sinar keilahian mulai hadir dalam dirinya. Pada awal meditasi, kilatan sinar tampak sepintas, yang kemudian menghilang kembali. Lambat laun, secara bertahap sinar keilahian mulai tumbuh, menjadi kuat seperti bintang kecil di langit, kemudian makin tumbuh menjadi seperti bulan dan menjadi seperti matahari. Bisa diibaratkan sinar itu sebagai penerang ketika kita tidur sebagai pedoman untuk masuk ke alam barzakh. Kemudian, pengembara spiritual yang telah melewati tingkatan ini dan lebih keras dalam meditasinya, terlihat dirinya seperti bumi dan surga yang terang benderang. Sinar tersebut disebut sebagai pancaran cahaya diri, kemudian menjadi kesadaran yang telah menempuh barzakh. Setelah keluar dari alam barzakh. Setelah keluar dari alam barzakh yang merupakan manifestasi utama diri sendiri yang mulai disadarinya, pengembara memandang sosok dirinya sebagai benda. Ia sering merasakan seolah-olah sedang berdiri di samping dirinya sendiri, Tahap ini adalah permulaan tahap pelepasan diri. Demikian seperti apa yang dialami oleh Allamah Mirza Ali Qazi, menurutnya waktu itu yang terjadi adalah wujud dirinya seolah-olah tiada sama sekali. Pengalaman tersebut adalah pengalaman 'ketelanjangan diri', tetapi tidak bebas dari ruang dan waktu. Di tahap berikutnya, dengan bantuan Allah pengembara spiritual akan berada di atas keterbatasan ini dan juga dapat memandang dengan utuh keberadaan dirinya. Mungkin saja kejadian tersebut sebuah gambaran atas berbagai hal yang ada di alam barzakh, sebuah isyarat dan petunjuk kecil dari perjalanan spiritual. Memberikan makna yang sangat berarti untuk memandang rendah nafsu dalam kondisi tertentu yang bisa terlepaskan, dalam hal ini 'diri' tampil murni yang terbebas dari keterikatan dengan ruang dan waktu. Ketika penikmat yang telah mengerjakan semua tahapan dengan semakin baik, maka ia akan diraih oleh dorongan gerakan hati yang setiap saat semakin memahami kenyataan kelemahan diri, sehingga hatinya menjadi terpaut dan terserap total dalam kecantikan yang sempurna dari “Cinta Sejati'. Ia tidak lagi melihat diri sendiri atau orang lain. Ia menemukan dan melihat Allah di segala tempat. Dalam kondisi ini pengembara tenggelam dalam lautan yang dalam tak terselami dari keyakinannya itu.
Kiat Perjalanan Ruhani :
Dalam kaitannya dengan safar, para salaf (Tarekat Alawiyyah) melatih para pengikutnya agar selalu berusaha untuk : Menyelamatkan diri (Salamah Ash-Shadr) dari penyakit-penyakit hati dan termasuk juga memperhatikan segala hal yang dapat mengotori hati. Berbaik sangka terhadap Allah (Husn Azh-Zhann billah) dan terhadap mahluk-Nya. Zuhud terhadap dunia dan cinta akhirat. Memperhatikan hak-hak makhluk Allah. Memuliakan ilmu, ulama, para wali, orang muslim dan mukmin.
Menurut Ibn Al Arabi, dalam mengantarkan manusia untuk mengenal dirinya, untuk membawanya kepada proses kesempurnaan diri, ada beberapa tahap agar memudahkan kita (mahluk) untuk menuju Sang Kholiq, diantaranya :
-
Ta'alluq (menggantungkan hati dan pikiran hanya untuk Allah). Dalam istilah lain dikenal dengan Dzikrullah (dzikir kepada Allah). Dengan berusaha mengingat dan mengikatkan kesadaran hati dan pikiran kita kepada Allah, dimanapun berada. Sesuai dengan firman-Nya, yang artinya : Yakni orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk, atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata :”Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.
-
Takhalluq. Takhalluq merupakan suatu upaya proses penyempurnaan diri melalui pengejawantahan sifat-sifat Tuhan yang Maha Mulia untuk dapat ditiru dalam sifat-sifat seorang mukmin. Sehingga ia memiliki sifat-sifat mulia sebagaimana sifat-sifat Tuhan. Proses ini bisa juga disebut proses internalisasi sifat Tuhan ke dalam diri manusia. Seperti halnya banyak diantara kalangan sufi yang dalam hal ini menyandarkan hadits nabi yang berbunyi “Takhallaq bi akhlaq-I Allah” yang artinya berakhlaklah seperti akhlak Tuhan, atau “Takhalaq bi asma Allah” artinya berakhlak dengan nama-nama Allah.
-
Tahaqquq (Aktualisasi Sikap). Tahaqquq adalah merupakan suatu proses untuk mengaktualisasikan kesadaran dan kapasitas dirinya sebagai mukmin, sebagaimana tercermin dalam proses takhaluq – untuk kemudian mengaplikasikannya dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Ia merupakan proses terakhir dari proses pengejawantahan proses takhalluq untuk menuju manusia yang sempurna. Sebuah gambaran singkat menuju proses penyempurnaan diri manusia, yang berangkat dari pengenalan arti dan hakikat manusia itu sendiri, untuk kemudian sampai kepada Tuhannya.
Ibn Arabi mengingatkan kepada para pejalan spiritual untuk tidak meninggalkan ubudiyyah dan mengklaim Rububiyyah atas diri mereka. Rububiyyah harus dikembalikan kepada Rabb dab Ubudiyyah harus dikembalikan kepada Abd.
-o0o- Jakarta, 12 Pebruari 2008
Ferry Djajaprana
Bibliography : -
Jumantoro, Totok. Munir Amin, Samsul. Kamus Tasawuf, Penerbit Amzah, Wonosobo, 2005 -
Hossein Nasr, Seyyed. Sadr Al Din Shirazi and His Transcendent Theosophy, Institute for Humanities And Cultural Studies, Iran, 1997. -
Hawwa, Said. Perjalanan Ruhani Menuju Allah, Era Intermedian, Solo, 2002 -
Kartanegara, Mulyadhi. Menyelami Lubuk Tasawuf, Penerbit Erlangga, Jakarta, 2006 -
Azhari Noer, Kautsar, Tasawuf Perenial, PT. Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, 2002 -
Ibn Arabi, Syekh Akbar. Risalah Kemesraan, PT. Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, 1989. -
Tabatabai, Allamah Husyein, Perjalanan Ruhani Para Kekasih Allah, Inisiasi Press, Jakarta, 2005.
Link: http://tasawuf.multiply.comMilis multiply untuk para pencari Tuhan (Salik), pengikut suatu tarekat, Mistik Islam, sufisme dan Tasawuf
Pendahulu Gerakan Wahhabiyah Adalah tokoh yang sangat terkenal dengan pemahamannya yang sangat literal, diantaranya mengecam Al Ghazali dan Ibn Arabi. Ibn Taymiyyah menuduh bahwa mereka adalah penyebar bid’ah, bahkan berani mengecam kompetensi dua khalifah awal, yakni Umar Ibn Khatab dan Ali bin Abi Thalib. Biography : Ia lahir di Harran pada 1263, dan tumbuh besar di Damascus. Ia mengikuti jejak orangtuanya sebagai fuqoha dengan madhab Hambali. Pertama kali mengajar di Damascus kemudian pindah ke Kairo, di kota ini ia dihukum penjara dengan tuduhan menganut ajaran antrophomorphisme atau paham literalis dalam penafsiran Al Quran yang umumnya bertentangan dengan kalangan ulama Syi’ah. Ia berpegang teguh pada ungkapan ‘tangan Allah’ dan ungkapan sejenisnya secara literal. Beberapa kali dihukum di Mesir dan Syria karena sikap agama dan pandangan politiknya itu. Di dalam tahanan ia sempat mengajarkan paham keagamaannya pada sesama narapidana, di sana pula ia menghasilkan beberpa karya tulis yang tajam, karena pihak yang berseberang dengannya mem’beredel’ tulisannya membuatnya lebih sakit dibanding dengan ditahan di penjara itu sendiri. Ada suatu cerita yang menarik tentangnya, dalam suatu khutbah jumat dia menjelaskan bahwa “Tuhan turun dari langit ke bumi untuk mendengarkan do’a hambanya, ibarat turunnya saya dari mimbar ini”. Sikapnya yang eksentrik ini membuat dirinya dikecam, dan pendapatnya yang sangat keras tak membuyarkan penghormatan umum atas dirinya. Ironis, demikian menurut ahli biografi, karena pada saat kematiannya 1328M dihadiri sekitar 20.000 orang pelayat, sebagian diantara mereka adalah kaum wanita yang beranggapan bahwa dirinya seorang wali sehingga pemakamannya dikeramatkan. Ibn Taymiyyah adalah satu dari sekian tokoh aliran fundamental dalam Islam, dan dia merupakan pendahulu dari gerakan Wahabiyyah. Salam, http://ferrydjajaprana.multiply.com
 | Alawiyah | Jul 19, '07 3:40 AM for everyone |
The name of Thariqat Alawiyah was made from the name of Syaikh from Algerian, Ahmad Al Alawi who died in 1934. The thariqat is spreading from Northern Africa and Arabian state, especially in Syria the follower prefer called Syadiliyah.
The meaning of Alawi is follower of Ali, the name of etnik ‘Alawi. Established in Syria, later spreading into Lebanon and Turkey, especially in the area of Antakia. They supposed generation of Southern Arabian that move to North and mixed with the original ethnic. The total Alawian people around hundres thousands, In Syria the total follower of Alawiyah around 6% from the total of people Syrian. On the past they were popular called Nusairiyah, because their leader is Syu’ayb Muhammad Nusayr (D. 26/860).1)
The fourteenth/Twentieth Century 2)
Among the branches of the Shadiliyah from the past century or so, the one that would have very impressive flowering is the Alawiyah, and whoseShadili lineage take him back to Abu’l Hassan al Shadilli through Mawlay Al Arabi Al Darqawi. Syaikh Ahmad Al Alawi, was epoch, in accordance of the words of the Prophet to the effect that a reviver of his community would appear at the beginning of each century.
The Algerian master was at once agreat saint, metaphisycian, scholar, and poet. He pointed in his teaching to the ‘trancendent unity’ which under lies the formal diversity of religions and respected the truly pious Christians who come to see him. Yet he was fully a ware the false supposition upon which modernism is founded and spoke against any compromise with the secularist and humanistic tendencies prevalent in the modern world. He combined in him self the manifestasion of quissential Sufism seen in his norms through an aura sanctity which attracted a large number of disciples from near and far.
Indeed, the ‘Alawiyah had a direct had in the regeneration of Islam, not only in the Maghrib but elsewhere in the community, or wherever Shadhilism spread. The shaykhs who emerged from the ‘Alawiyah, most of whom were direct disciples of Shaykh Al ‘Alawi, wound up in different parts of the Islamic world. Like wise, the order has played an extremely important role in the intellectual revival of Islam along traditional lines. The hundreds of disciples who were members of the order themselves came from different parts of the Islamic world. We do not need much much imagination to see how these individuals, once returned to their lands, were indirectly involved in the reformative work of the founder himself.
It was always in that fashion, as a generale rule, that the sufi masters affected the populations of their disciples, their books and their own spiritual influence would generate a kind of transformation of the milieu around them, so that a collective phychical substance would result that was receptive to the influences of the spirit- or at least was much more porous to its presence than had been previously the case. This would result in widespread consequences, not only in the moral attitudes of the population but also in the fruits of their hands, in the arts of architecture and even in the intellectuals lucubrations of the principal thinker of their time. It was in the that way that spiritual rebirths took place the long history of Islam, and it was in the famous French thinker, Rene Guenon, him self a Shadili known in the Muslim world as Shaykh ‘Abdul Wahid Yahya. His numerous works on the methaphysical underpinnings, the cosmological aspects, and the spiritual foundations of the great religions of the world have had incalculable influence on a large number of Westerners, especially those in search of spiritual path, since the end of the of the First World War.
Syaikh Ahmad Al Alawi, for his part directly influenced yet another Western authority on the traditional spiritual life, Frithjof Schuon, who knew the Algerian master personally. Schuon’s own numerous works on Islam and the other great religions of the world have perpetuated into our times the theses of the great religions of the world have perpetuated into our times the these of great medieval Sufis on the universality of revelation and have shed further light on the principle arguments found in the brilliant school of metaphysicians left behind be Rene Guenon. This entire current of Western intellectual and spiritual life, which continous to vibrate at the present day to produce many important formulations of doctrine, could have existed without an initials Shadhili impetus guidance.
Given that the Shadiliyah have always considered their tariqah to posses a central role in the unfolding of spiritual life of the community-they have actually affirmed that axial sage of the epoch (qutb al Zaman) would be always found in their midst – it clear that the last word on the order can not yet be said. This is all the more so in that that the order has now taken root in Europe and North America and has begun yet another revival of the traditional intellectual spirit, this time based on the Quranic teaching, long dormant, of the universality of revelation, with all that implies in methaphysical and spiritual sense.
-o0o- Regards, Http://ferrydjajaprana.multiply.com
Bibliography ;
-
Cyril Glasse, Ensiklopedi Islam, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002 -
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Spirituality Manifestations, The Crossroad Publishing Company, Newyork, 1990
Menarik sekali membahas tokoh yang satu ini, yang sejak dahulu selalu menuai kontroversi. Tulisan ini hanya merangkum dari berbagai nara sumber, hanya untuk mengetahui siapakah sebenarnya tokoh yang satu ini, yang sering mendapat tuduhan murtad, dan penganut agama lainnya. Ibn Arabi – nama lengkapnya Muhammad Ibn ‘Ali Ibn Muhammad Ibn Arabi Al Thai Al Hatimi – adalah seorang tokoh sufi – filsuf kontroversial dari Andalusia, lahir 560 H/1165 M – 638H/1240M. Karya-karyanya dikenal memadukan antara syariat, rasio dan intuisi (dzauq). Diantaranya Futuhat Al Makiyyah (Penyingkapan Mekah), buku yang berisi 560 bab, berisi ajaran dari banyak topik, Fushus Al Hikam (Permata Kebijaksanaan) – berisi tentang sabda kenabian – keragaman – kesempurnaan yang mewujud pada masing-masing 27 nabi besar, Al Tadbirat al Illahiyah Fi Ishlah al Mamlakah al Insaniyah (Menata diri Dengan Tadbir Ilahi), Kunh Mala Budda Al Murid (Selamat Sampai Tujuan), Risalah al Anwar fi ma Yumnah Shahib Al Kalwah Min Al Asrar (Risalah Kemesraan, berisi panduan menjalani khalwat), Ruh al Quds (Jiwa Yang Suci), Al Durrat al Fakhrah (Butiran Permata Keagungan). Ibn Arabi dipandang sebagai tokoh terbesar muslim dalam menyusun doktrin-doktrin metafisis, sehingga disebut sebagai Syeikhul Akbar yang artinya Syekh Yang Agung. Ada juga yang menyebutnya sebagai “Belerang Merah” (al Kabrit Al Ahmar) sebuah term kimiawi yang mengandung pengertian bahwa Ibn Arabi mampu mencipta suatu pengetahuan terlepas dari ketidak tahuannya sebagai belerang yang mampu membentuk kuning emas dari sebuah timah. Tuduhan Murtad Banyak kaum salafi yang menuduh bahwa dirinya adalah murtad dan pengikut Nasrani, apakah benar demikian? Lalu, kenapa sampai bisa dtuduh sedemikian rupa, adakah alasannya? Tulisan Ibn Arabi banyak yang mengandung pengertian ganda, dan berapa corak kemusyrikan telah ditemukan didalam pemikirannya yang melahirkan bentuk keyakinan yang berlebihan. Karenanya, ia sering dituduh sebagai orang pantheisme. Hanya saja disini ada keanehan, andai kata saja ada kesalahan dalam pemikirannya Ibn Arabi, tetapi para pengikutnya mempertahankan dan tetap mempraktekannya, bahkan menolak untuk kompromi. Tuduhan bahwa dia adalah penganut Nasrani karena konsep kesatuan hakikat agama. Menurutnya hakikat agama adalah sama atau satu, hanya saja bentuk luarannya yang berbeda-beda. Ia menjelaskan panjang lebar tentang hal itu, yang mana pada posisi tersebut ia memiliki sifat-sifat sebagaimana yang dimiliki Yesus. Didalam syairnya pada kitab “Tarjuman Al Asywaq”, Ibn Arabi mengungkapkan sebagai berikut : Hatiku terbuka untuk segala macam bentuk; ia bagaikan padang rumput untuk kawanan rusa, dan bagaikan biara bagi pendeta-pendeta Kristen, Bagaikan candi untuk sebuah berhala, dan sebagai Ka’bah untuk menjalankan perjalanan haji, bagaikan lembaran Taurat dan sekaligus kitab suci Al Quran. Milikku adalah agama cinta, kemanapun kabilah Allah bergerak, agama cinta akan tetap menjadi agama dan keyakinanku.
Rasanya, syair di atas lah yang dijadikan rekomendasi oleh kalangan para Salafi, untuk menuduh bahwa Ibn Arabi adalah Nasrani. Lalu, bagaimana dan alasan apa sampai dituduh bahwa Ibn Arabi itu SESAT dan Menyesatkan, terutama dengan konsep Kesatuan wujudnya (wahdatul wujud)? Ibn Arabi merumuskan tentang konsep kesatuan wujud atau non dualitas, yang merupakan konsep Islam tentang Advaita Vedanta dan semakna dengang konsep Tao. Konsep itu menyatakan bahwa tidak ada satupun eksistensi yang terwujud melainkan hanya Allah. Ajaran Ibn Arabi tentang wahdatul wujud ini meluas, dan menjadikan ajaran wahdatul wujud ini sebagai ajaran metafisika sufisme, pada masanya ajaran ini menyebar di mana saja, bahkan sampai ke Indonesia. Setelah Ibn Arabi memunculkan konsep Wahdatul Wujud, kemudian diikuti oleh beberapa sufi lainnya yang terlibat dalam meng-estafetkan ajaran ini, sehingga seolah-olah Ibn Arabi ini menjadikan penghubung antara tradisi Sufi Spanyol-Maroko dengan tradisi sufi timur Mesir –Siria melalui muridnya Shadr Al Din Al Qunawi (1210). Di Persia atau Iran ajaran Ibn Arabi ditebarkan melalui Qutb Al Din Asy-Syaerazi, sehingga mempengaruhi tasawuf Persia secara umum. Ajaran sufi ini dilanjutkan oleh Abdul Karim Al Jilli, seorang pemimpin tharekat Al Syadzili, dan oleh Jalaluddin Rumi. Nah, pada jaman kemajuan pemikiran intelektualitas Islam ini, ajaran ini merebak sampai Aceh – Indonesia, nama Ibn Arabi dengan muridnya Ibn Athaillah cukup dikenali dengan baik. Menurut saya, ajaran Ibn Arabi ini ke Indonesia merebak melalui Tharekat Al Sadziliyah, yang mana Tharekat ini didirikan oleh Imam Syadzili, dan dilanjutkan oleh Ibn Athaillah(W.1309), putra salah seorang seorang sufi. Ibn Athaillah ini semula seorang fuqoha pengikut mazhab Malikiyah, dia seorang pengajar di Al Azhar Kairo, dan perguruan Al Manshuriyah tetapi waaupu dia putra seorang sufi tapi justru fikirannya berlawanan, bahkan memerangi tasawuf, terutama ditujukan kepada sufi Abu Abbas Al Mursi (w. 1288), tetapi pada tahun 1276 M, Ibn Athaillah mendatangi Al Mursi, dan menyatakan dirinya menjadi murid tharekat Al Shadziliyyah, bahkan Ibn Athaillah menulis sebuah karya besar dalam bidang Tashawuf, yakni Kitab Al Hikam yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran spiritual di kalangan murid-murid tasawuf. Kitab Al Hikam ini sangat populer di kalangan pecinta tasawuf di Indonesia. Jadi benar, semula Ibn Athaillah melawan ajaran tasawuf tetapi selanjutnya dia justru berbalik, bahkan menjadi pecinta tasawuf dan mengembangkannya melalui berbagai karya tulisnya.
Kesimpulan : Tuduhan para fuqoha (ahli fiqih), kaum salafi yang memegang teguh ajaran ajaran nabi hanya Al Quran dan al Hadits, dan kalangan Wahabi yang tidak mengakui keabsahan otoritas pandangan dan praktek setelah tabiin dan menganggapnya inovasi (bid’ah) yang tidak mendasar secara teoretis, walaupun dalam praktis tidak demikian, yang menjelaskan bahwa ajaran Ibn Arabi adalah sesat dan menyesatkan, tetap tidak terpecahkan, dalam arti kata masing masing memiliki ajarannya. Kalau boleh dimisalkan, itu seperti minyak dan air dalam satu wadah, walaupun tidak akan bersatu tetapi sebenarnya satu dan saling melengkapi, bisa jadi tasawuf dengan keaneka ragamananya adalah kekayaan Islam di ranah spiritual. Adapun tentang wahdatul wujud, adalah merupakan ekpressi sufistik yang bisa dijangkau atau dipahami secara transendental yang umumnya tidak sembarangan dipaparkan di kalangan awam, biasanya pengajaran ini melalui suatu tharekat yang mengajarkan tahap demi tahap (maqamat) sampai memahami dan merasakan (dzauq). Untuk memahami ilmu hakikat, biasanya di awali dari Syariat, Tharikat, Hakikat sampai memahami akan makrifat (gnostik). Tataran wahdatul wujud ini sudah masuk ke pemahaman makrifat, yang mana sudah tidak lagi menggunakan nalar atau akal fikiran, tetapi melalui peningkatan kesadaran. Kalau di ibaratkan, nalar adalah bumi, sementara makrifat adalah langit, tentunya membahas suatu langit kita harus berimijinasi dan berempathi tentang langit terlebih dulu, tidak semerta-merta menolak karena langit bukanlah bumi, atau mudah memurtadkan orang karena itu adalah kepicikan diri yang tak mampu mencerap, karena hakikat kebenaran adalah milik Yang Haq, dan yang memiliki hak prerogatif itu adalah Sang Haq itu sendiri. Tetapi memahami Wahdatul Wujud ini memang sulit karena akan menjerumuskan di kalangan awam, banyak martir yang digantung oleh karenanya, tengoklah Al Hallaj di Baghdad atau Syekh Siti Jenar dengan konsep Manunggaling Kawula Gustinya di Nusantara ini.
Salam, http://ferrydjajaprana.multiply.com
"Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah Wajah Allah." (2 : 115) "Musa berkata, "Tuhan yang menguasai timur dan barat, dan apa yang di antara keduanya." (26 : 28) "Maka aku bersumpah demi Tuhan yang memiliki timur dan barat." (70: 40) "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat, Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke shirat al mustaqim." (2 : 142).
"...minyak dari pohon yang banyak berkahnya, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat...." (24 : 35)
Fenomena Timur dan Barat Kata Timur dan Barat, adalah menunjuk suatu arah. Biasanya arah matahari terbit dan terbenam. Dalam ilmu hakikat, tidak terdapat kata di Timur - Barat, kalau anda menunjuk ke timur terus menerus maka kembali lagi ke tempat semula, itulah makanya para sufi menyebut yang benar-benar exyst adalah Dia. Ada satu hal yang perlu diingat konsepsi bahwa Tuhan itu di alam Lahut ataupun Hahut terlepas dari ruang dan waktu, jadi definitif Timur dan Barat disini merupakan simbol, memanusiakan suatu konsep yang terperangkap dalam ruang. Contoh Jakarta, apa benar-benar exist? Anggap anda di Surabaya, tanya kepada orang bagaimana ke Jakarta? Anda ditunjukkan ke Jakarta ke arah Barat, andaikan anda naik pesawat, dan sudah turun di Bandara, tanyakan kemana ke Jakarta? Anda akan ditanya balik, Di Jakartanya di mana? Di Timurapa di Pusat? Andai di Timur anda cari, niscaya tak ada Jakarta, semakin specifik dan mengerucut akan menyebut alamat detail, setelah sampai dirumah nya, yang anda tunjuk adalah rumah, sampai lantai, tak ada Jakarta. Itu yang disebut maya, jadi tak ada itu Barat Timur dsb. Seluruh alam semesta ini ada tiga bagian. Yang pertama, Alam Jabarut, alam tertinggi dan terdekat dengan Allah, tempat di mana segala sesuatu bermula. Semua ruh adalah penghuni alam jabarut. Yang kedua, alam malakut. Jiwa manusia dan malaikat adalah penghuni asli (native) alam ini. Yang ketiga, yang terendah, adalah Alam Mulk. Alam ciptaan, alam kita ini. Penghuninya adalah jin, manusia sebagai jasad, hewan, tumbuhan, batu, planet, dan seluruh semesta fisik hingga ke tatasurya yang lain.
Segala sesuatu bermula dari alam jabarut, dan tenggelam di alam mulk. Ruh bermula dari alam jabarut, dan tenggelam di jasad kita, alam mulk. Eksistensi bermula dari 'kehendak' di alam jabarut, dan tenggelam di alam mulk. 'Timur', dalam level pengertian yang sedikit lebih dalam, adalah Alam Jabarut. 'Barat', adalah alam mulk. Dalam level yang lain lagi, timur juga berarti ruh, dan barat juga berarti jasad.
Allah penguasa timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya, adalah Allah penguasa alam jabarut, alam mulk, dan apa yang ada di antara keduanya, alam malakut. Dalam tataran yang lain lagi, Allah penguasa ruh dan jasad, dan apa yang di antara keduanya, jiwa.
"...minyak dari pohon yang banyak berkahnya, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat...." (24 : 35) Pohon yang sudah bisa diambil manfaatnya, adalah simbol manusia yang sudah bertaqwa penuh, tahu misi dirinya, dan sudah bermanfaat bagi manusia. Pohon ini tidak tumbuh di barat atau di timur, artinya tidak di alam jabarut maupun alam mulk. Orang yang bertaqwa bukan manusia sebagai ruh maupun sebagai jasad, tetapi sebagai jiwa, manusia yang sejati. Ia adalah penghuni alam malakut, bukan penghuni timur maupun barat. Jika sifat jasadiyah manusia sudah 'mati', ia hidup di dunia ini sudah sebagai penghuni alam malakut, sebagai jiwa yang 'berpakaian' jasad saja. Itu sebabnya para orang suci menyaksikan dua alam: alam kita ini (mulk) dan alam malakut, alam aslinya. Mereka pun berkata-kata dan bergaul dengan penghuni kedua alam itu.
Semua ayat ini berbicara sama: esensi manusia adalah tidak di timur maupun di barat, tapi di alam malakut. Esensi manusia sejati ada di jiwanya.
Salam, http://ferrydjajaprana.multiply.com Source : Hasil Diskusi dengan Kang Herry Mardian
| Category: | Books | | Genre: | Religion & Spirituality | | Author: | Fariduddin AL Athar |
RINGKASAN MANTIQ AL-THAYR
Segenap burung dari seluruh dunia, yang dikenal maupun tidak, suatu ketika berkumpul. Mereka mengeluh, “Di dunia ini tak ada negeri yang tak memiliki raja. Bagaimana kerajaan burung bisa tak memiliki raja seorang pun sampai sekarang? Keadaan ini tak bisa kita biarkan berlangsung terus. Kita harus bersama-sama berusaha dan pergi mencari seorang raja buat kita, karena tak adalah negeri yang pemerintahannya baik dan teratur rapi tanpa seorang raja.” Mereka pun mulai bersidang untuk memecahkan persoalan itu. Burung Hudhud demikian tertarik dan dengan penuh harapan majulah ia ke depan, mengambil tempat di tengah-tengah sidang para burung itu. Sebuah hiasan terpampang di dadanya yang menandakan bahwa ia telah menguasai jalan ilmu pengetahuan rohani; jambul di kepalanya adalah mahkota kebenaran, dan ia pun telah menguasai pengetahuan baik dan buruk. “Saudaraku para burung sekalian,” kata Hudhud. “Aku adalah salah seorang di antara mereka yang telah mengecap rahmat Tuhan. Aku adalah utusan dari alam gaib. Aku memiliki pengetahuan Ketuhanan dan rahasia makhluk-makhluk-Nya. Bila ada burung seperti aku dengan paruh bertanda nama Tuhan, Bismillah, pantaslah burung seperti itu kalian ikuti karena orang harus mempunyai pengetahuan yang luas mengenai rahasia-rahasia yang gaib. Namun hari-hari bersliweran tak putus-putusnya dan aku tak punya sangkut paut lagi dengan apa dan siapa pun. Seluruh diriku telah diliputi oleh cinta kepada Baginda Raja. Aku bisa mendapatkan air dengan naluriku, dan begitu banyak rahasia kehidupan lain telah kuketahui. Aku telah bercakap-cakap dengan nabi Sulaiman, beserta pengikut-pengikutnya yang utama. Yang mengherankan ialah biasanya dia tak pernah bertanya dan tak pernah ingat lagi kepada siapa saja yang pernah mengunjungi istananya, namun kepadaku sehari saja aku jauh dari sisinya dikirimnya utusan ke mana-mana untuk mencariku, sehingga kemuliaanku tak pernah berkurang karenanya. Akulah yang mengirimkan surat-suratnya, dan aku pulalah sahabatnya yang paling setia. Burung yang telah dimuliakan oleh sang nabi memperoleh anugerah mahkota di atas kepalanya. Dapatkah burung yang bisa bercakap-cakap seperti itu rontok bulu-bulunya dalam debu? Bertahun-tahun lamanya sudah aku menjelajahi lautan dan daratan, mengarungi puncak-puncak gunung dan dasar lembah. Aku sanggup menerobos ruang yang sesak dilanda banjir dahsyat. Aku senantiasa mengiringi nabi Sulaiman setiap kali bepergian dan aku telah mengenal batas-batas dunia.” “Aku kenal raja itu dengan baik, tapi aku tak bisa terbang sendiri menemuinya. Bebaslah dirimu dari rasa malu, sombong dan ingkar. Dia pasti bisa melimpahkan cahaya bagi mereka yang sanggup melepaskan belenggu diri sendiri; mereka yang demikian itu akan bebas dari baik dan buruk karena berada di jalan kekasihnya. Bermurah hatilah sepanjang hidupmu. Sekarang angkatlah kakimu dari bumi dan terbanglah dengan gembira menuju istana sang raja. Namanya Simurgh. Dia adalah raja diraja sekalian burung. Dia dekat kepada kita, namun kita jauh darinya. Tempat semayamnya sukar sekali dicapai dan tak ada lidah yang sanggup menyebut namanya. Di hadapan baginda bergantungan ratusan ribu benang sinar terang dan gelap, dan di dalam dunia yang fana maupun baka tak seorang pun yang dapat menaklukkan kerajaannya. Dialah raja yang berdaulat dan mandi kesempurnaan. Dia tak pernah memperlihatkan seluruh dirinya, juga di tempatnya bersemayam. Karena itu tak adalah pengetahuan atau kepandaian yang bisa mengetahuinya. Jalan itu tiada dikenal, dan tak seorang pun memiliki kesabaran yang cukup buat menjumpainya. Walaupun begitu ribuan makhluk senantias merindukannya selama mereka hidup. Pun jiwa yang paling murni tak dapat menguraikannya, pikiran pun tak dapat menggambarkan: dua alat penglihatan manusia ini buta di hadapannya. Kearifan tak dapat mencapai kesempurnaannya dan manusia yang paham pun tak mampu melihat keindahannya. Seluruh makhluk ingin mencapai kesempurnaan dan keindahan ini melalui khayalannya. Tapi bagaimanakah kau bisa menjejakkan kaki di jalan itu dengan pikiran? Bagaimana kau bisa mengukur bulan dengan ikan? Demikianlah telah ribuan kepala bolak-balik pergi ke sana, seperti bola yang berputar-putar di lapangan, dan hanya ratap tangis rindu mereka yang terdengar. Beribu daratan dan lautan terbentang sepanjang perjalanan menuju tempatnya. Jangan bayangkan perjalanan ini singkat; orang harus memiliki hati singa untuk dapat menempuh jalan yang luar biasa ini, karena begitu panjangnya dan lautnya rancam serta dalam pula. Kau harus berusaha sekuat tenaga, disertai senyum dan sesekali menangislah tersedu-sedu. Seperti halnya aku, menemukan jejaknya saja sudah merasa bahagia. Jejaknya sangat berarti, dan hidup tanpa dia akan menyebabkan kita diliputi penyesalan. Seseorang tak boleh menyembunyikan jiwanya dari kekasihnya, dia harus menjaga dirinya baik-baik agar jiwanya dapat dibawa menuju istana sang raja. Bersihkan tanganmu dari kotoran hidup ini bila kau ingin disebut orang yang beramal. Panggillah kekasihmu sebagai orang yang mulia. Bila kau patuh dan tunduk kepadanya, dia akan memberikan seluruh hidupnya kepadamu.” “Dengar! Ada lagi yang mentakjubkan. Pada mulanya Simurg terbang pada malam hari di tengah gelap gulita di negeri Cina. Selembar bulunya jatuh di situ, hingga seluruh dunia tercengang melihat keindahannya. Orang-orang mulai menggambar bulunya yang indah itu, dan dari gambar bulunya itulah tersusun berbagai sistem pemikiran, sehingga akhirnya kacau-balau karena begitu banyaknya. Bulu Simurgh yang jatuh itu sekarang masih tersimpan di negeri itu. Itulah sebabnya hadith nabi mengatakan: “Carilah ilmu pengetahuan sampai ke negeri Cina sekalipun.” “Namun demikian pemunculan Simurgh yang pertama kali itu tidaklah begitu membingungkan dibanding Wujudnya yang rahasia. Tanda perwujudannya ini merupakan lambang kebesarannya. Seluruh makhluk yang bernyawa di dunia ini pasti memancarkan bayang-bayangnya. Oleh sebab dalam pemunculannya yang pertama kali tanpa ekor maupun kepala, tanpa ujung dan pangkal, maka tak perlulah kiranya kuceritakan lebih banyak mengenai dia. Sekarang, bersiap-siaplah kalian untuk mengarungi Jalan menuju istananya!” Mendengar cerita Hudhud itu, burung-burung terpesona dan ramailah mereka membicarakan keagungan sang raja. Dan terdorong oleh keinginannya untuk menjumpai Simurgh, supaya kedaulatan kerajaan burung bisa ditegakkan lagi, mereka menjadi tak sabar untuk segera menghadap Simurgh. Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi bersama-sama, berjanji satu sama lain saling bersahabat dan melawan diri masing-masing sebagai musuhnya. Namun ketika mereka sadar bahwa perjalanan yang akan mereka tempuh demikian panjang dan penuh penderitaa, hati mereka pun bimbang. Sambil mengatakan bahwa mereka tak punya maksud buruk, dengan cara masing-masing mereka mengemukakan alasan. Burung Kenari berkata: “Ambillah pelajaran dari nasibku. Seluruh umat manusia terpesona oleh warna bulu Simurgh, lalu badanku ini yang mereka kurung. Maka penuhlah hidupku diliputi sedih dan rindu, padahal buat terbang di bawah kepak sayap sang Simurgh saja aku pun tak sanggup!” Burung Merak menyahut: “Dulu aku hidup bersama Adam dan Hawa di sorga, namun akhirnya aku terusir bersama mereka. Keinginanku ialah pulang kembali ke tempat asalku. Sebab itulah tak ada keinginanku bertualang mencari maharaja Simurgh.” Menyahut pula Unggas: “Aku telah biasa hidup dalam kesucian, dan sudah terbiasa berenang di air. Yang lain tak kurindukan lagi. Aku tak sanggup keluar dari genangan air, dan tak bisa hidup di tempat yang kering kerontang!” Lalu berkata Garuda: “Aku sudah biasa hidup senang di gunung. Bagaimanakah aku akan sanggup meninggalkan tempat semayamku yang menyenangkan?” Kemudian burung Gelatik menyambung: “Aku hanseekor burung mungil dan lemah. Takkan mungkin burung sekecil aku ini sanggup mengembara sejauh itu.” Menyahut pula burung Elang: “Saudara-saudaraku yang tercinta, kalian sudah tahu bukan bahwa kedudukanku tinggi sekali di sisi raja? Mana mungkin aku meninggalkan kedudukan semulia itu?” Seekor burung yang lain berkata: “O Hudhud karena kau lebih mengetahui jalan menuju temapt raja yang kau ceritakan itu, dan kau yang menginginkan kami menyertaimu, sedang bagi kami jalan itu gelap gulita, sebaiknya kau sendirilah yang pergi. Dalam kegelapan semacam itu, apalagi banyak sekali bahaya yang mengancam sepanjang perjalanan, pasti kami tak bisa menyertai perjalananmu menghadap raja.” Mendengar apa yang dikatakan burung-burung itu, Hudhud berkata: “Ingat, aku tak boleh lalai menyampaikan nasihatku yang baik kepada kalian semua. Niatku suci. Apa yang menyebabkan kalian semua mencari alasan yang bermacam-macam, apakah hanya karena terbiasa hidup enak? Dan mengapa harus kita biarkan terlantar cita-cita kita yang suci ini karena terikat kesenangan? Azam yang kuat dan hati yang teguh serta sabar, akan mampu memusnahkan segala kesulitan dan menjadikan dekat segala yang jauh.” Mendengar jawaban Hudhud ini bertanyalah seekor di antara burung-burung itu: “Lalu dengan cara bagaimana dan melalui jalan apa saja agar kita sampai ke tempat yang jauh dan sulit itu? Dan dengan perlengkapan apa pula kita bisa sampai ke istana ‘maharaja Simurgh?” Hupu menjawab: “Kita harus menyeberangi tujuh lembah, baru kita akan sampai di tempat maharaja Simurgh. Tak ada yang bisa lagi kembali ke dunia bilamana telah menempuh perjalanan yang maha jauh itu, dan mustahil pula kita bisa menyebutkan berapa banyak rintangan yang akan kita temui. Sabarlah, bertaqwalah kepada Tuhan, karena bila kalian telah sanggup menempuh perjalanan itu kalian akan tetap berada dalam diri kalian buat selama-lamanya.” “Lembah pertama adalah Lembah Pencarian, kedua Lembah Cinta, ketiga Lembah Pemahaman, keempat Lembah Kebebasan dan Kelepasan, kelima Lembah Kesatuan Sejati, keenam Lembah Ketakjuban dan ketujuh Lembah Kefakiran dan Kefanaan. Di balik itu tak ada lagi apa-apa.” Mendengar petunjuk yang diberikan Hudhud ini kepala burung-burung tunduk terkulai, dan rasa pilu mulai menekan hati mereka. Sekarang mereka mengerti betapa sukarnya perjalanan itu. Lebih-lebih bagi makhluk seperti mereka yang kecil tak berarti bagaikan busur yang mudah patah bila ditarik terlalu kencang. Mereka diliputi bayangan ajal yang akan mereka temui. Namun burung-burung yang lain, tanpa mengacuhkan penderitaan yang akan mereka alami, akhirnya memutuskan untuk segera berangkat mengarungi jalan yang mahapanjang itu. Bertahun-tahun lamanya mereka mengarungi gunung dan lembah, dan sebagian besar dari umur mereka dihabiskan dalam perjalanan. Tapi bagaimana mungkin menceritakan seluruh peristiwa dan kejadian yang mereka alami, tanpa mengikuti perjalanan mereka dan melihat dengan mata kepala sendiri kesulitan yang dihadapi burung-burung itu? Marilah kita ikuti perjalanan jauh mereka, dengan demikian kita mengetahui penderitaan mereka. Pada akhirnya cuma sedikit dari mereka itu yang benar-benar sampai ke tempat yang teramat mulia itu di mana Simurgh membangun mahligainya. Dari ribuan burung yang pergi, hampir semuanya sirna dan lenyap. Banyak yang hilang di lautan; yang lain ada yang mendapat kecelakaan di puncak gunung yang tinggi, dibunuh rasa haus yang tak tertahankan; yang lain lagi sayapnya hangus dan hatinya kering terbakar matahari; sedang yang lain lagi mampus diterkam harimau dan macan tutul; yang lain lagi mati karena teramat lelah di gurun dan hutan yang buas, bibir mereka kering pecah-pecah dan tubuh mereka ludes di telan panas. Beberapa lagi menjadi gila dan saling membunuh satu sama lain memperebutkan butir-butir padi atau jagung; yang lain lunglai oleh derita dan kepayahan, terkapar di jalan, tak sanggup terbang lebih jauh lagi; yang lain kebingungan dan silau melihat benda bermacam-macam yang memikat mata, berhenti di tempat di mana mereka melihat benda itu, terbius; dan banyak pula yang terhenti karena godaan kenikmatan atau keinginan buat mengecap berbagai kepuasan badaniah, sehingga lupa pada cita-citanya semula yang luhur, yaitu menemui rajanya. Maka di luar ribuan burung yang sirna itu, tinggalah cuma tiga puluh ekor yang berhasil menempuh perjalanan itu. Dan walaupun mereka sampai juga, mereka masih bimbang, takut dan padam semangatnya, tanpa bulu dan sayap sehelai pun yang tinggal. Kini mereka berdiri di muka gapura istana Simurgh yang tak terlukiskan dan tak terpahami hakekatnya. Itulah Wujud yang tak dapat dicerna akal maupun pengetahuan. Kemudian sinar kepuasan menyala terang di hadapan mereka, dan ratusan kehidupan sirna dalam sekejap mata tersiram oleh cahaya-Nya. Setelah itu mereka melihat ribuan matahari, sinarnya berbeda satu sama lain, beribu-ribu bulan dan bintang yang indah permai, dan semua yang mereka lihat itu membuat mereka merasa takjub dan terpesona bagaikan pusaran atom. Serentak mereka berseru: “O, Kau yang lebih gemilang dari Surya! Matahari padam oleh sinar-Mu dan menjelma atom, bagaimana pulakah dengan kami yang kecil ini? Jauh dan penuh derita perjalanan yang telah kami tempuh, adakah kami akan sia-sia? Kami telah meninggalkan diri kami dan bebas dari belenggu benda-benda dunia, akan gagalkah kami bertemu raja kami? Betapa kecilnya kami di sini dan tak tahu apakah kami ini ada atau tidak.” Burung-burung yang tak berdaya menyerupai ayam sekarat itu kemudian merasa putus asa. Demikian lama mereka menunggu jawaban. Tiba-tiba dalam sekejap mata pintu pun terbuka dan muncullah sang pengawal istana. Dipandangnya burung-burung itu dan tahulah dia bahwa jumlah mereka tinggal tigapuluh ekor dari ribuan yang bersama-sama melakukan perjalanan. Pengawal berkata, “Dari manakah kalian datang, o burung-burung? Apa yang kalian lakukan di sini? Siapa saja nama kalian? Betapa sengsaranya kalian, di manakah rumah kalian? Apa yang bisa kalian kerjakan sebagai makhluk yang lemah di tempat ini?” “Kami datang kemari,” ujar mereka, “buat menghadap raja kami Simurgh. Karena begitu rindu dan cintanya kami kepada baginda, beginilah akhirnya kami kebingungan dan pusing. Dulu ketika kami berangkat jumlah kami ribuan, dan kini kami hanya tinggal tiga puluh ekor. Kami tak yakin raja kami akan memperlakukan kami penuh penghinaan seperti ini, karena perjalanan yang kami tempuh demikian sukar dan penuh penderitaan. Oh, tidak! Baginda harus menyambut kami dan menerima kami dengan penuh kasih sayang!” Pengawal menjawab, “O, burung-burung yang kebingungan dan kesulitan, apakah kau ada atau tidak, raja tetap ada dan abadi. Ribuan makhluk di dunia tak lebih dari semut di depan gapuranya, apalagi kalian. Kalian kemari tak membawa sesuatu apa pun, kecuali ratap tangis dan sedu sedan. Kembali sajalah kalian ke tempat kalian datang, o makhluk yang hina dina!” Mendengar itu mereka terkulai dan heran. Sekalipun demikian, setelah berpikir sejenak, mereka berkata lagi, “Apakah baginda akan menolak kami seraya menghina? Dan bilamana demikian memang sikap baginda, tak mungkinkah penghinaannya berubah jadi penghormatan? Majnun pernah berkata “Bila seluruh umat manusia di bumi ini menyanyikan puji-pujian bagiku, aku takkan menerimanya; aku lebih suka penghinaan Leila. Sebuah penghinaan yang diberikan Leila bagiku jauh lebih baik dari ribuan pujian dari perempuan yang lain.” “Cahaya kebesarannya telah tersingkap,” ujar pengawal. “Dan semua nyawa akan hangus. Bila roh sirna oleh ratusan dukacita, pahala apa yang akan diperoleh? Anugerah apa yang akan kalian terima dalam sekejap ini?” Terbakar oleh api cinta burung-burung itu berkata, “Bagaimana laron bisa mengelak dari nyala lilin apabila dia ingin menyatu dengan cahaya lilin? Sahabat yang kami cari pasti membuat hati kami senang bilamana kami dikabulkan berkumpul dengannya. Bila kami sekarang ditolak buat berjumpa, apalagi yang harus kami lakukan? Kami laksana laron yang ingin menyatu dengan nyala lilin. Kami mohon bukan lantaran dungu, karena tujuan kami adalah mensucikan diri, dan kami yakin ucapan kami ini akan membuat hatinya senang serta berterima kasih karenanya. Bukankah bagindatelah berkata, barangsiapa yang menyerahkan seluruh hatinya pada nyala apinya, takkan ada kesulitan yang merintangi dirinya?” Setelah pengawal selesai menguji ketabahan mereka, kemudian pintu itu terbukalah. Sesaat mereka menyingkir ke samping. Kemudian seratus tabir satu persatu tersingkap di hadapan mereka dan tampaklah dunia baru di hadapan mereka. Cahaya dari segala cahaya bersinar terang dan duduklah mereka semua seraya tunduk di hadirat baginda yang mulia. Mereka memperoleh kalam buat mereka baca; dan setelah mereka membaca dan merenunginya dalam-dalam, barulah mereka paham keadaan yang sebenarnya. Hatimereka tenang dan damai, lepas dari segala kesulitan, dan setelah itu barulah mereka menyadari bahwa Simurgh tinggal bersama mereka. Dan kehidupan baru bersama Simurgh telah mereka kecap. Seluruh amal dan perbuatan mereka selama ini lenyap tak berbekas. Matahari kebesaran sang raja memancarkan sinarnya yang gilang-gemilang, dan tiap sinar memantulkan wajah mereka tiga puluh ekor banyaknya (si-murgh) dari dunia luar yang telah terserap Simurgh yang bersemayam dalam diri mereka. Mereka merasa takjub, karena sebelumnya mereka tak menyangka bahwa mereka akan tetap sebagai diri mereka. Akhirnya ketika mereka merenungi dalam-dalam, tahulah bahwa merekalah Simurgh itu sendiri dan bahwa Simurgh artinya tiga puluh ekor burung. Ketika mereka menatap Simurgh mereka lihat bahwa Simurgh benar-benar yang ada dihadapan mereka, dan bilamana mereka mengalihkan mata mereka sendiri adalah Simurgh. Dan bilamana keduanya saling memandang, diri mereka dan Dia, tahulah mereka bahwa mereka dan Simurgh adalah satu dan wujud yang sama jua. Hal ini tak pernah mereka dengar sebelumnya. Kemudian mereka tafakkur dan tak lama sesudah itu mereka mohon kepada Simurgh tanpa menggunakan lidah, agar mewahyukan kepada mereka rahasia kesatuan dan kepelbagaian wujud. Simurgh, pun tanpa mengucapkan sepatah kata, menjawab: “Matahari kebesaranku adalah sebuah cermin. Dia yang melihat dirinya sendiri akan melihat jiwa dan tubuhnya, dan akan melihatnya dengan sempurna. Karna kalian datang sebanyak tigapuluh ekor, si-murgh, maka kalian akan melihat tigapuluh ekor burung dalam cermin ini. Bila empat puluh atau lima puluh ekor yang datang, yang akan kau lihat sama. Walaupun sekarang kalian benar-benar mengalami perubahan, kalian lihat diri kalian sendiri tetap sebagaimana diri kalian sebelum ini. “Dapatkah penglihatan seekor semut mencapai bintang Soraya yang jauh? Dan dapatkah serangga kecil ini mengangkat tempat pijaknya? Pernah kau lihat seekor nyamuk mengangkat seekor gajah dengan giginya? Segala yang kau ketahui, segala yang telah kau lihat, segala yang telah kau katakan atau kau dengar – semua ini bukan itu lagi. Bilamana kalian telah menyeberangi lembah jalan kerohanian dan bilamana kalian telah memenuhi kewajiban dengan baik, kalian akan menjadi seperti ini berkat tindakanku; dan kalian sanggup melihat lembah hakikat dan kesempurnaanku. Kalian, yang jumlahnya tiga puluh ekor, takjub, tercengang dan kagum. Tapi aku lebih dari tiga puluh ekor burung. Aku adalah hakekat yang sesungguhnya dari Simurgh yang sebenarnya. Leburkan diri kalian dengan bangga dan penuh sukacita ke dalam aku, dan di dalam aku kalian akan menemukan diri kalian.” Setelah itu burung-burung itupun sirna buat selama-lamanya di dalam Simurgh – bayang-bayangnya musnah ditelan sang matahari, dan khatam. Apa yang kau dengar semua ini atau apa yang kau lihat dan kau ketahui bukan awal dari segala yang harus kau ketahui, dan puing-puing kehidupan di dunia ini bukanlah tempat tinggal yang harus kau rindukan. Carilah batang pohon, dan jangan khawatir apakah cabang-cabangnya itu ada atau tidak. Ribuan generasi telah lewat. Burung-burung yang baka itu telah pasrah meleburkan dirinya dalam kefanaan. Tak seorang pun, tua atau muda, bisa menguraikan dengan tepat apa yang disebut baka dan mati itu. Seperti bilamana segala peristiwa jauh dari mata kita, bagaimana mungkin kita menguraikannya? Bila pembaca ingin penjelasan lebih jauh dengan amsal-amsal mengenai kebakaan yang terjadi setelah fana, aku akan menulis buku yang lain. Selama kita terbelenggu oleh benda-benda dunia, kita takkan sampai ke Jalan itu. Namun bilamana dunia tak lagi membelenggu, kau akan sampai seakan-akan memasuki dunia mimpi, dan akhirnya akan tahu bahwa kau mendapatkan rahmat yang tak terkira. Janin insan terpelihara dengan baik hanya oleh cinta dan kasih sayang sehingga kelak bisa menjadi orang yang pandai dan saleh. Pengetahuan inilah yang harus dituntut orang. Kemudian ajal datang dan segala yang kau miliki lenyap, tenggelam. Sehabis itu kau jadi debu jalanan. Berkali-kali seseorang itu fana; tapi bila orang berhasil mengetahui rahasia-rahasia kehidupan yang hakiki, akhirnya ia akan menerima kebakaan, dan akan mendapatkan kehormatan dalam keadaan hina. Tahukan kau apa yang kau miliki? Masuklah ke dalam dirimu dan bercerminlah! Selama kau tak paham akan ketiadaanmu, dan selama kau tak menyadari kebanggaan semu, kesombongan dan cintamu yang berlebih-lebihan pada dirimu sendiri, selama itu pula kau takkan mencapai puncak kebakaan. Di Jalan itu kau akan terjerumus dalam kehinaan, namun kemudian bangun penuh kehormatan.
Ada seorang anak balita yang sedang asyik bermain-main bertanya kepada Bapaknya.. “Ayah, bagaimana sich.. Wajah Tuhan itu?” sambil terus asyik memainkan permainannya. Baru saja Sang ayah berfikir, kakaknya yang sudah mendapatkan pelajaran agama di Sekolah Dasar (SD) menyeletuk “Kalau Wajah Tuhan itu tidak kelihatan, dan berbeda dengan manusia...” “Jadi Wajah Tuhan itu seperti pocong,... ayah?”, demikian kesimpulan sederhana yang dianalisa oleh anak balita itu, setelah memperhatikan dua premis sebelumnya. Kesimpulan asal jadi khas anak-anak yang boleh jadi karena pengaruh tontonan tayangan televisi yang marak menayangkan hantu atau misteri. Sang ayah terkesima dengan pertanyaan yang mudah itu tetapi sulit menjawabnya. Sang ayah berfikir keras, kenapa Tuhannya itu sulit dijelaskan kepada puteranya? Kenapa Tuhan pilihan agamanya ini tidak ada fotonya, tidak ada videonya seperti kebanyakan tuhan yang dianut oleh beragam agama? ??!@?()_??????..., berjuta tanda tanya hadir dalam fikirannya, berkecamuk, dan membuatnya tak bisa tidur! Padahal tidak ada nyamuk. -oVo-
Sang Ayah tentu saja sulit menjelaskan tentang Wajah Tuhan ataupun Wujud Tuhan, karena Wujud Tuhan yang Absolut berada jauh dari pengalaman dan pengetahuan manusia, sementara harapannya bisa mengungkapkan misteri ini dengan logika, atau metode ilmiah yang pernah dia peroleh di bangku kuliah. Contohnya seperti kita saja yang saat ini tengah berada di ruangan, di atas kita ada langit-langit atau atap, di atas langit-langit ada lapisan lain atmosfir dan berbagai lapisan langit lainnya yang tak terbatas atau ambang limit. Ambang limit ini adalah ungkapan kesempurnaan yang tak terbatas, harapan ingin menguak misteri ambang limit ini adalah keingingan lepasnya manusia dari kungkungan keterbatasan dirinya. Andaikan manusia mampu memasuki ambang batas ini maka ia akan tertelan dalam Kekosongan, jati diri keberadaanya akan lenyap dalam keterbatasan. Pada saat itu, sesuatu memudah dan tak mampu lagi didefinisikan dengan kata-kata (fana). Kenapa sang ayah tak mampu menguraikan jawabannya? Karena bahasa sebagai hasil pengalaman manusia tidak akan mampu menangkap Ketakterbatasan, karena bertentangan dengan kodrat penalaran manusia yang selalu cenderung mengurai, mendefinisikan dan membatasi. Tentunya sangatlah wajar apabila sesuatu yang tak terurai, tak terungkap dan tak terbatas itu tak mungkin tercerap oleh perangkat pengetahuan dan pengalaman manusia. Tuhan atau Sang Wujud itu berada di luar definisi, ia hanya bisa dibayangkan, disembah, diumpamakan, dipuji, diagungkan dan diimani. Rosulullah SAW pernah bersabda bahwa sangat banyak hijab atau tirai yang menyelimutinya “Sesungguhnya pada Allah terdapat tujuh puluh ribu hijab dari cahaya dan kegelapan.” Jadi sangat sulit membahas Wajah Allah kecuali dengan meminta kepadaNya untuk memperkenalkan Diri Nya. Di dalam agama lah hal-hal yang menyangkut keagamaan itu diungkap. Melalui wahyu Ilahi yang sudah diterjemahkan oleh Rosul dalam bahasa manusia, sehingga manusia bisa memahaminya melalui perumpamaan (mitsal), tanda (ayat). Dengan cara inilah Sang Mutlak bisa kita sapa, kita seru, kita ingat, kita hadirkan dalam Qalbu. Lalu bagaimana kalau sang ayah, mencoba memaksakan menalarkan tentang Realitas Mutlak? Kalau diumpamakan, contohnya itu seperti memandang matahari. Walaupun kelihatan dari kejauhan, dan nampaknya bisa dicerap karena terangnya tapi apabila mata ini dipejamkan maka gelaplah yang didapat, apabila dipaksakan maka kebutaanpun bisa menghinggapi mata kita karena tak mampu menahan silaunya. Jadi, memahami Wajah Allah, cukuplah memperhatikan ciptannya (alam), sehingga kita memahami Pengetahuan-Nya (ilmu) atau tanda-tandanya (alamat). Karena alam adalah pertanda, maka banyak tanda-tanda pada alam (alamin) sehingga perwujudannya banyak alam di dunia ini, alam air, alam udara, alam benda, alam maya dan lain-lainnya seperti yang disebut dalam kitab suci Al Quran, dan biasa kita ucapkan dalam keseharian “Alhamdulillahi Robbul Alamin”, Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam”. (QS. Al Fatihah:2). Salam, http://ferrydjajaprana.multiply.com
|
|